Lembaran kertas di dalam tas selempangku terasa seperti bongkahan timah yang menarik pundakku ke bawah. Setiap langkah yang kuambil menyusuri trotoar berdebu ini diiringi detak jantung yang memburu, seirama dengan bising klakson kendaraan yang terjebak macet. Aku sudah berputar-putar di kawasan perkantoran tua di pinggiran Jakarta selama hampir satu jam, memastikan tidak ada mobil hitam mewah milik Adrian Baskara yang membuntutiku.
Aku berhenti di depan sebuah gedung berlant** tiga yang catnya sudah mengelupas. Papan namanya kecil dan bersahaja: *Hendra Kusuma & Rekan β Konsultan Hukum*. Ini pilihanku. Bukan firma hukum raksasa di pusat kota yang berkilauan, melainkan tempat yang tampak c**up 'kecil' untuk tidak terdeteksi oleh radar seorang Adrian Baskara.
Tanganku gemetar saat mendorong pintu kaca yang berderit. Aroma kertas tua dan kopi dingin menyambutku. Seorang pria paruh baya dengan kacamata bertengger di ujung hidung mendongak dari balik tumpukan map.
"Selly Anastasia?" tanyanya dengan suara serak.
"Iya, Pak Hendra. Saya yang menelepon tadi pagi." Aku duduk di kursi kayu keras di depan mejanya, meremas jemariku sendiri untuk menyembunyikan getaran yang tak kunjung hilang.
Aku mengeluarkan salinan perjanjian ituβdokumen yang telah merenggut ketenanganku selama seminggu terakhir. Pak Hendra menerimanya, membetulkan letak kacamatanya, dan mulai membaca dalam diam. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar seperti vonis mati.
"Ini perjanjian kerahasiaan yang sangat... spesifik," gumam Pak Hendra, dahinya berkerut dalam. "Ada klausul ganti rugi yang tidak ma**k akal jika terjadi kebocoran informasi. Sepuluh miliar rupiah?" Ia menatapku tajam. "Apa yang sebenarnya kamu saksikan sampai mereka merasa perlu mengikatmu sekencang ini, Nak?"
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering seperti pasir. "Saya hanya ingin tahu, Pak. Apakah kontrak ini bisa dibatalkan? Saya merasa ditekan saat menandatanganinya. Ada unsur paksaan secara psikologis."
Pak Hendra kembali membolak-balik halaman kertas itu. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Secara teori, kontrak yang dibuat di bawah tekanan bisa dibatalkan di pengadilan. Tapi praktisnya? Kamu butuh bukti kuat. Rekaman, saksi, atau setidaknya bukti bahwa kamu tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya."
"Tapi dia mengancam karier saya! Dia mengancam masa depan saya!" suaraku naik satu oktav tanpa sengaja.
"Siapa?" tanya Pak Hendra tenang.
Aku ragu sejenak. "Adrian Baskara. CEO Baskara Group."
Ekspresi Pak Hendra membeku. Nama itu seolah memiliki kekuatan magis yang sanggup menyedot oksigen dari ruangan kecil ini. Ia terdiam c**up lama, matanya terpaku pada tanda tangan Adrian di lembar terakhir. Perlahan, ia meletakkan dokumen itu kembali ke meja, namun kali ini gerakannya terasa lebih hati-hati, hampir seperti ketakutan.
"Baskara..." bisiknya. Ia kemudian bangkit berdiri, berjalan menuju lemari arsip di sudut ruangan, dan mengambil sebuah bingkai foto yang diletakkan tertelungkup. Ia membalikkan foto itu dan menunjukkannya padaku.
Darahku seolah berhenti mengalir. Di dalam foto itu, Pak Hendra berdiri di samping seorang pria tua yang sangat kukenal dari artikel-artikel ekonomi: almarhum ayah Adrian, pendiri Baskara Group. Mereka berdua tersenyum lebar di depan sebuah gedung yang sedang diresmikan.
"Selly," suara Pak Hendra melembut, tapi ada nada peringatan yang membuat bulu kudukku meremang. "Keluarga Baskara bukan sekadar klien lama bagi firma ini. Almarhum Pak Baskara adalah orang yang membiayai kuliah hukum saya tiga puluh tahun yang lalu. Tanpa mereka, kantor ini tidak akan pernah ada."
Aku terpaku. Dunia seolah berputar. "Jadi... Bapak tidak bisa membantu saya?"
Pak Hendra menghela napas, tatapannya penuh rasa iba namun tak berdaya. "Jika aku membantumu melawan Adrian, itu sama saja dengan aku mengkhianati seluruh sejarah hidupku. Dan jujur saja, Selly... sebagai orang yang mengenal keluarga itu, saran terbaikku untukmu adalah: jangan melawan."
"Tapi ini tidak adil!" seruku, air mata kemarahan mulai menggenang. "Dia memperlakukan saya seperti properti miliknya!"
Tiba-tiba, telepon genggam Pak Hendra di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan ma**k. Pak Hendra melirik layar itu, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara kasihan dan rasa bersalah yang amat dalam.
"Selly, kamu harus pergi sekarang," ucapnya tiba-tiba dengan nada mendesak. Ia segera mengembalikan dokumen itu ke dalam tasku dengan terburu-buru.
"Kenapa, Pak? Apa yang terjadi?"
"Dia tahu kamu di sini," bisik Pak Hendra, suaranya gemetar. "Seseorang memberi tahu sekretarisnya saat kamu ma**k ke gedung ini. Kamu tidak mengerti, Selly... jaringan orang-orangnya ada di mana-mana. Bahkan di lubang sekecil ini pun, dia punya mata."
Aku berdiri dengan kaki lemas. Rasa mual menghantam perutku. Aku merasa seperti seekor tikus yang sedang berlari di dalam labirin, hanya untuk menyadari bahwa sang pemilik labirin sedang memperhatikan setiap langkahku dari atas sambil tersenyum puas.
Aku bergegas keluar dari kantor itu, hampir tersandung di anak tangga. Saat aku mendorong pintu keluar gedung menuju trotoar, sebuah mobil sedan hitam mengkilap sudah terparkir tepat di depan pintu ma**k, menghalangi jalanku.
Kaca jendela belakang yang gelap perlahan turun, memperlihatkan separuh wajah yang sangat kukenal. Rahang yang tegas, bibir yang mengulas senyum tipis yang mematikan, dan mata tajam yang berkilat di balik kacamata hitam.
"Sedang mencari pendapat hukum kedua, Selly?" suara bariton Adrian Baskara membelah kebisingan jalanan, terdengar sangat tenang namun penuh ancaman. "Aku kecewa kamu tidak bertanya langsung padaku jika ada pasal yang kurang jelas."
Pintu mobil terbuka secara otomatis. Adrian tidak turun, ia hanya menggeser duduknya, memberikan ruang kosong di sampingnyaβsebuah undangan sekaligus perintah yang tidak bisa ditolak.
"Ma**k," perintahnya pelan, namun tidak menerima bantahan. "Atau kita akan membiarkan Pak Hendra kehilangan izin praktiknya sore ini juga karena mencoba membantumu melanggar kontrak?"
Aku menoleh ke arah kantor di lant** dua, lalu kembali menatap Adrian. Aku tahu, pelarianku hari ini baru saja berakhir di titik awal yang jauh lebih gelap. Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur, aku melangkah ma**k ke dalam 'sangkar' emas itu. Dan saat pintu mobil tertutup dengan dentuman pelan, aku tahu kebebasanku baru saja terjual habis.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!