Aku memperbaiki letak simpul dasi sutra di depan cermin besar kamarku, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang melenceng. Penampilan adalah segalanya di dunia ini. Itu adalah perisai sekaligus senjata. Namun malam ini, fokusku bukan pada bayanganku sendiri, melainkan pada sosok yang berdiri kaku di sudut ruangan, terpantul di sudut cermin.
Selly.
Dia mengenakan gaun hitam sederhanaβpotongan yang kupilihkan sendiri agar dia terlihat c**up profesional sebagai asisten, namun c**up menawan untuk memuaskan egoku. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan leher jenjang yang tampak pucat di bawah lampu kristal. Dia terlihat seperti kelinci yang sedang menghitung detik menuju lubang serigala.
"Mendekatlah, Selly," titahku tanpa menoleh.
Aku mendengar langkah kakinya yang ragu di atas karpet tebal. Wangi parfum vanila murahβyang entah mengapa terasa lebih menggoda daripada aroma mahal mana punβmulai memenuhi indra penciumanku saat dia berdiri di belakangku.
"Tugasmu malam ini sederhana," kataku sambil berbalik, menatap matanya yang bergetar. Aku meraih tangannya, merasakan denyut nadinya yang terpacu cepat di pergelangan tangan. "Bawa tablet itu. Catat setiap nama investor yang kusebutkan. Dan yang terpenting, jangan pernah berada lebih dari dua meter dariku."
"Kenapa saya harus ikut, Pak Adrian? Staf protokoler sudah ada di sana," suaranya nyaris berbisik, ada nada protes yang tersirat di sana.
Aku maju selangkah, memangkas jarak hingga dia terpaksa mendongak. Aku menikmati cara dia menahan napas. "Karena aku ingin kau ada di sana. Karena kontrakmu mengatakan kau harus mematuhi setiap perintahku. Apa itu c**up jelas?"
Selly menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Jelas, Pak."
Mobil Rolls-Royce membawaku ke Grand Ballroom Hotel Mulia. Di sampingku, Bianca duduk dengan keanggunan yang dingin. Gaun rancangan desainer Paris menyelimuti tubuhnya, berlian melingkari lehernya seperti rant** yang indah. Dia adalah definisi istri sempurna untuk pria di posisiku, setidaknya di depan kamera.
"Siapa gadis itu, Adrian?" tanya Bianca datar, matanya tertuju pada Selly yang baru saja turun dari mobil pengawal di belakang kami.
"Asisten tambahan. Sekretarisku sedang cuti sakit, dan aku butuh seseorang untuk mencatat det**l negosiasi malam ini," jawabku sant** sambil merapikan jas.
Bianca menyipitkan mata, tatapannya menyapu Selly dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ketajaman seorang pemangsa. "Dia terlalu muda. Dan terlalu... cantik untuk sekadar pencatat."
"Jangan biarkan rasa insecure-mu mengganggu malam ini, Bianca," balasku dingin sambil mengulurkan lengan.
Kami mema**ki ruangan yang dipenuhi denting gelas sampanye dan musik klasik yang megah. Sebagai CEO Baskara Group, setiap langkahku diikuti oleh bisik-bisik kekaguman. Aku berjabat tangan, bertukar basa-basi hambar, namun mataku tak pernah benar-benar lepas dari Selly.
Dia berdiri beberapa langkah di belakangku, jemarinya sibuk mengetik di tablet, berusaha keras untuk terlihat sibuk. Namun, aku bisa melihat bahunya yang tegang setiap kali ada pria yang menatapnya terlalu lama.
Saat berbincang dengan Komisaris Utama sebuah bank swasta, aku sengaja mundur selangkah. Tangan kiriku seolah tanpa sengaja menyentuh pinggang Selly, sebuah gerakan protektif sekaligus posesif yang sangat tidak perlu dalam konteks profesional. Aku merasakan tubuhnya membeku seketika.
"Lanjutkan catatannya, Selly," bisikku tepat di telinganya, membiarkan napasku menerpa kulit lehernya.
"Adrian!" suara Bianca memotong pembicaraanku.
Aku menoleh. Istriku berdiri hanya beberapa jengkal dari kami. Wajahnya yang semula penuh senyum palsu untuk para tamu kini telah mengeras. Matanya tidak menatapku, melainkan tertuju pada tanganku yang masih berada di dekat pinggang Selly. Selly dengan cepat bergeser menjauh, wajahnya memerah karena malu atau mungkin takut.
"Sepertinya asistenmu ini butuh instruksi yang sangat mendet**l sampai kau harus membisikkannya seperti itu," sindir Bianca, suaranya pelan namun tajam seperti sembilu.
"Hanya masalah teknis, Sayang," sahutku tetap tenang, meski dalam hati aku menikmati percikan api yang mulai menyala.
Bianca melangkah maju, mendekati Selly. Dia meraih ujung gaun Selly dengan jarinya, seolah-olah sedang memeriksa kualitas kain yang murah. "Siapa namamu tadi? Selly?"
"I-iya, Bu Bianca," jawab Selly dengan suara bergetar.
"Kau tahu, Selly... di lingkungan seperti ini, posisi asisten itu sangat krusial. Satu kesalahan kecil dalam menjaga jarak bisa dianggap sebagai sesuatu yang memalukan bagi perusahaan." Bianca tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Dan suamiku terkadang terlalu ramah pada bawahannya. Kuharap kau c**up pintar untuk tidak menyalahartikan keramahannya."
Selly menunduk dalam, tangannya meremas tablet di genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya mengerti, Bu."
"Bagus." Bianca menatapku kembali, matanya penuh kecurigaan yang kini tak lagi disembunyikan. "Adrian, ayo. Pak Darmawan sudah menunggu di meja utama. Biarkan asistenmu ini melakukan tugasnya... dari kejauhan."
Aku hanya tersenyum tipis, memberikan isyarat pada Selly untuk tetap di tempatnya sebelum mengikuti Bianca. Namun, saat aku berjalan menjauh, aku sempat melirik ke belakang.
Selly masih berdiri di sana, tampak rapuh di tengah keramaian. Namun bukan rasa kasihan yang kurasakan, melainkan dorongan yang lebih gelap. Aku ingin tahu seberapa jauh Bianca akan mengejarnya, dan seberapa kuat Selly bisa bertahan sebelum dia benar-benar hancur dalam genggamanku.
Malam baru saja dimulai, dan aroma kecemburuan Bianca mulai tercium lebih tajam daripada parfum mana pun di ruangan ini. Ini akan menjadi permainan yang jauh lebih menarik dari yang kubayangkan.
Saat aku duduk di meja utama, sebuah pesan singkat ma**k ke ponsel pribadiku. Dari nomor yang tidak kukenal, namun isinya membuat rahangku mengeras: *'CEO yang hebat selalu punya rahasia. Tapi rahasia di ruang kerja itu... sepertinya terlalu berharga untuk tetap disimpan.'*
Aku melirik Selly di kejauhan. Seseorang sedang mengawasi kami. Seseorang selain Bianca.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!