Ujung jemariku terasa dingin saat menyentuh permukaan meja kerja yang meng***p. Suara detak jam dinding di lobi departemen pemasaran seolah berdentum dua kali lebih keras dari biasanya, mengiringi setiap embusan napas yang berusaha kubuat sealami mungkin. Aku tidak boleh terlihat goyah. Di tempat ini, di Baskara Group, keraguan adalah aroma yang akan mengundang pemangsa.
Aku membenahi letak kacamata dan kembali menatap layar monitor, pura-pura tenggelam dalam barisan data spreadsheet. Namun, indra pendengaranku justru menajam, menangkap kasak-kusuk di area *pantry* yang hanya berjarak beberapa meter dari kubikelku.
"Lihat saja gayanya. Anak magang, tapi sudah berani ma**k-keluar ruangan Pak Adrian tanpa jadwal tetap," bisik sebuah suara yang kukenali sebagai Mira, staf senior di bagian administrasi.
"Benar. Kemarin aku melihatnya keluar dari lift eksekutif. Lift eksekutif, lho! Siapa dia sampai bisa punya akses ke sana?" sahut suara lain yang lebih cempreng.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kukuku memutih. Rasanya ingin sekali aku berteriak bahwa aku benci berada di lift itu. Aku ingin berteriak bahwa setiap detik yang kuhabiskan di dalam ruangan kedap suara milik Adrian Baskara adalah bentuk siksaan mental yang perlahan mengikis harga diriku. Namun, selembar kertas bertajuk 'Perjanjian Kerahasiaan' yang telah kutandatangani seolah menjahit mulutku rapat-rapat.
"Mungkin dia punya 'keahlian' khusus yang tidak ada di CV-nya," tawa kecil menyusul kalimat itu, tajam dan menyakitkan seperti sayatan silet.
Aku berdiri mendadak, membuat kursi kerjaku berderit keras. Percakapan di *pantry* seketika terhenti. Aku berjalan menuju dispenser dengan langkah tegap, meskipun lututku terasa seperti jeli. Saat melewati mereka, aku memaksakan sebuah senyum tipisβsenyum yang kupelajari dari memperhatikan cara Adrian menghadapi musuh-musuhnya: dingin, berjarak, dan tak tersentuh.
"Selamat pagi, Mbak Mira. Ada data yang perlu saya bantu input?" tanyaku dengan suara sedatar mungkin.
Mira tampak gagap sesaat, wajahnya memerah karena tertangkap basah. "Ah, tidak, Selly. Kami cuma sedang membahas... tugas baru. Ya, tugas baru."
Aku mengangguk pelan, mengisi gelas kertas dengan air dingin hingga hampir tumpah. "Baguslah. Saya dengar Pak Adrian sangat menghargai efisiensi waktu daripada sekadar mengobrol di jam kerja."
Aku berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban. Di dalam hati, aku merutuki diriku sendiri. Menggunakan nama Adrian sebagai perisai adalah hal terakhir yang ingin kulakukan, tapi itu satu-satunya cara untuk membungkam mereka. Namun, aku sadar, tindakanku barusan justru akan semakin mengobarkan api kecurigaan mereka.
Baru saja aku duduk kembali, Pak Hendra, asisten pribadi Adrian, muncul dari koridor utama. Kehadirannya selalu membawa aura ketegangan tersendiri. Ia berjalan lurus ke arahku, mengabaikan tatapan penuh tanya dari staf lainnya.
"Selly, Pak Adrian meminta Anda membawakan berkas analisis pasar properti terbaru ke ruangannya. Sekarang," ucapnya tegas.
Aku bisa merasakan tatapan Mira dan teman-temannya menghunjam punggungku. "Baik, Pak. Saya siapkan dulu."
"Pak Adrian tidak suka menunggu," potong Hendra dingin.
Aku segera menyambar map berwarna biru di meja dan mengikutinya. Setiap langkah kaki kami yang beradu dengan lant** marmer terasa seperti hitungan mundur menuju jebakan lainnya. Saat lift terbuka dan kami naik menuju lant** teratas, keheningan di dalam kotak logam itu terasa menyesakkan.
Begitu pintu jati besar di lant** eksekutif terbuka, aku menarik napas panjang. Aku melangkah ma**k, dan pintu di belakangku tertutup dengan bunyi 'klik' yang final.
Adrian Baskara duduk di balik meja besarnya yang megah. Jasnya tersampir di kursi, dan lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan yang kokoh. Ia tidak mendongak saat aku ma**k; ia terlalu sibuk menandatangani beberapa dokumen.
"Letakkan di sana," perintahnya tanpa emosi, menunjuk sisi meja yang kosong.
Aku melangkah mendekat, menjaga jarak seaman mungkin. "Ini berkasnya, Pak. Apa ada hal lain yang perlu saya kerjakan?"
Adrian meletakkan penanya. Ia bersandar pada kursi, menatapku dengan mata gelap yang selalu tampak seolah bisa melihat menembus tengkorakku. "Bagaimana harimu di bawah, Selly? Aku dengar kau mulai belajar menggunakan namaku untuk menakuti rekan kerjamu."
Jantungku berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu secepat itu? "Saya hanya mencoba menjaga profesionalitas, Pak. Rumor di kantor mulai mengganggu produktivitas."
Satu sudut bibir Adrian terangkat, membentuk seringai tipis yang tidak mencapai matanya. "Rumor adalah konsekuensi dari keistimewaan. Kau seharusnya menikmatinya, bukan malah mengeluh."
"Keistimewaan?" suaraku sedikit meninggi, rasa kesal mulai mengalahkan rasa takut. "Maksud Anda, dicap sebagai 'anak emas' atau lebih buruk lagi oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang... perjanjian ini?"
Adrian berdiri, berjalan pelan mengitari mejanya. Langkahnya tenang, seperti predator yang sedang mengamati mangsa yang terpojok. Ia berhenti tepat di depanku, begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum *woody* dan maskulin yang kini terasa seperti aroma ancaman bagiku.
"Dunia ini tidak peduli pada kebenaran, Selly. Mereka hanya peduli pada apa yang mereka lihat," bisiknya, tangannya terangkat untuk menyelipkan sehelai rambut yang jatuh ke dahiku. Sentuhannya dingin, namun membuat kulitku meremang. "Dan saat ini, mereka melihatmu sebagai milikku. Bukankah itu posisi yang aman bagi seorang mahasiswa magang yang membutuhkan nilai sempurna dan... keamanan finansial?"
Aku memalingkan wajah, menghindari tatapannya. "Saya bukan milik siapa pun."
Adrian tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Begitukah? Kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan harga diri itu."
Tiba-tiba, interkom di mejanya berbunyi, memecah ketegangan yang nyaris meledak di antara kami.
"Pak Adrian," suara sekretaris di luar terdengar agak panik. "Ibu Bianca sudah berada di lobi depan. Beliau sedang menuju ke atas."
Warna wajah Adrian tidak berubah, tapi matanya menyipit sedikit. Aku merasakan gelombang kepanikan menghantam dadaku. Bianca. Istrinya. Jika dia menemukanku di sini, dalam suasana yang begitu intim dan tertutup, rumor di bawah sana akan terasa seperti dongeng pengantar tidur dibandingkan badai yang akan ia ciptakan.
Adrian menatapku, ada kilatan provokatif di matanya yang membuatku sadar bahwa baginya, ini semua hanyalah permainan. "Sepertinya 'perjanjian' kita akan segera diuji lebih awal dari yang kukira, Selly. Sembunyi, atau hadapi dia?"
Aku menatap pintu keluar, lalu kembali menatap Adrian. Tidak ada tempat untuk lari di ruangan ini, dan langkah kaki sepatu hak tinggi yang tajam mulai terdengar dari balik lorong menuju ruangan ini. Peluh dingin mulai membasahi punggungku saat gagang pintu mulai bergerak turun.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!