Dingin yang tidak alami merayap dari pergelangan tangan hingga ke pangkal leherku. Aku bisa merasakan setiap jarum mikro dari antarmuka Bio-Link menembus kulit, mencari jalur saraf yang tepat untuk menyinkronkan kesadaranku dengan mesin. Bau ozon yang tajam memenuhi ruangan laboratorium yang steril ini, bercampur dengan aroma samar antiseptik.
"Aris, denyut jantungmu naik. Sant** saja, Bung. Ini cuma beta test, bukan eksekusi mati."
Suara Bima terdengar melalui interkom helm VR-ku, berat dan penuh percaya diri seperti biasanya. Aku menoleh ke samping, melihat empat tabung kapsul lainnya yang berjejer rapi. Di dalamnya, sahabat-sahabatkuβBima, Maya, Rio, dan sikutu buku Geriβsudah bersiap dengan setelan haptik lengkap.
"Aku hanya merasa sistem Bio-Link ini terlalu... intim," balasku, mencoba menstabilkan napas. "Kalian baca kontraknya, kan? Sinkronisasi saraf seratus persen?"
"Itu yang membuat *Etherium* revolusioner, Ris," sahut Maya dari kapsul sebelah. "Total immersion. Bayangkan memenangkan turnamen internasional dengan mekanik senyata ini. Kita akan jadi legenda."
Aku ingin membantah, mengatakan bahwa menjadi legenda tidak ada gunanya jika otak kita hangus terpanggang arus pendek, tapi sebuah suara mekanis feminin memotong pikiranku.
*βInisialisasi Bio-Link selesai. Sinkronisasi sinapsis: 100%. Selamat datang di Etherium.β*
Duniaku meledak dalam cahaya putih yang membutakan. Sensasi jatuh menghantam perutku, membuatku mual sesaat, sebelum gravitasi kembali menarikku dengan kasar. Saat aku membuka mata, bau antiseptik tadi telah hilang, digantikan oleh aroma busuk daging lembap dan besi berkarat.
Aku berdiri di sebuah lorong sempit yang dindingnya tampak berdenyut, seolah-olah terbuat dari otot dan urat saraf yang membeku. Cahaya temaram berwarna merah redup berasal dari lampu-lampu yang berkedip di langit-langit yang meneteskan cairan kental hitam.
"Si****..." suara Rio terdengar di belakangku. Aku berbalik dan melihat teman-temanku sudah dalam wujud avatar mereka. "Grafisnya... ini g***. Aku bahkan bisa merasakan hembusan angin dingin di tengkukku."
Aku menunduk, melihat tanganku sendiri. Tekstur kulit avatarku identik dengan aslinya, hingga ke bekas luka kecil di ibu jari akibat kecelakaan dapur tahun lalu. Aku mengepalkan tangan. Sensasi otot yang menegang, gesekan antar kulit, semuanya terasa terlalu nyata.
"Cek status masing-masing," perintahku, mencoba kembali ke mode kapten. "Bima, periksa senjatamu."
Bima menarik sebuah kapak besar dari punggungnya. Denting logamnya bergema di lorong sunyi itu, terdengar tajam dan mengancam. "Beratnya pas. Aku merasa seperti benar-benar memegang tiga puluh kilo baja."
"Maya, Geri, tetap di belakang. Rio, aktifkan pemindaian area," lanjutku.
Rio mencoba menyentuh pergelangan tangannya untuk memunculkan proyektor peta, tapi dia mengernyit. "Agak lag, Ris. UI-nya tidak muncul secepat di trailer."
Aku pun mencoba memanggil menu utamaku. Dengan gerakan tangan yang sudah terlatih, aku menggeser udara di depanku. Layar transparan biru muncul, menampilkan bar kesehatan dan energi. Namun, ada yang aneh. Biasanya, di pojok kanan bawah selalu ada ikon bantuan dan tombol keluar yang mencolok.
Kosong.
"Kalian melihat tombol Log Out?" tanyaku, nada suaraku sedikit meninggi.
Maya terdiam, jemarinya menari-nari di udara. "Mungkin tersembunyi di dalam sub-menu pengaturan?"
"Tidak ada di pengaturan sistem juga," sahut Geri dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Mungkin ini bagian dari imersi? Kita harus mencapai checkpoint pertama untuk keluar?"
Aku mencoba menenangkan diri. "Mungkin saja. Mari bergerak. Jangan pisahkan formasi."
Kami mulai melangkah menyusuri lorong berdarah itu. Setiap langkah kakiku menghasilkan suara *plok-plok* yang menjijikkan karena lant** yang becek oleh cairan tak dikenal. Tiba-tiba, sebuah kawat berduri yang menjunt** dari langit-langit terayun karena embusan angin tiba-tiba.
"Awas!" teriakku.
Bima terlambat menghindar. Kawat itu menyabet lengan atasnya.
"Akh!" Bima terjerembab, memegangi lengannya.
"Bim! Kau oke? Itu cuma simulasi, jangan berlebihan," Rio terkekeh, tapi tawa itu langsung mati saat kami melihat apa yang terjadi.
Lengan baju haptik Bima di dunia nyata mungkin tidak rusak, tapi di dalam game ini, jaket kulit avatarnya robek. Dari luka sayatan itu, darah merah kental mengucur deras. Bukan sekadar piksel merah, tapi cairan yang merembes dan membasahi lant**.
"Sakit... Si****, ini sakit sekali!" raung Bima. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. "Ini bukan simulasi rasa sakit 15 persen! Ini... ini seperti kulitku benar-benar dikoyak kawat nyata!"
Maya segera berlari mendekat, tangannya gemetar saat mencoba merapal mantra penyembuh. Cahaya hijau redup keluar dari telapak tangannya, tapi luka itu menutup dengan sangat lambat.
"Ris," bisik Rio, wajahnya menatap ke arah pergelangan tangannya sendiri dengan ngeri. "Lihat indikator Bio-Link kita."
Aku membuka menu status lagi. Di sana, di bagian bawah yang tadinya kosong, kini muncul sebuah barisan teks berwarna merah darah yang berkedip-kedip:
*WARNING: Bio-Feedback Safety Protocol: BYPASSED.*
*Status: Real-Time Physical Transfer Active.*
Jantungku berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada. Aku mencoba menekan area di mana seharusnya tombol Log Out berada, menekannya berkali-kali hingga tanganku menembus proyeksi cahaya itu.
"Sistem, Log Out!" teriakku. "Admin! Hentikan permainannya! Ada kesalahan teknis!"
Hening. Hanya suara napas berat Bima dan tetesan cairan dari langit-langit yang menjawabku.
Lalu, dari kegelapan di ujung lorong, sebuah geraman rendah terdengar. Sesuatu yang besar, dengan banyak kaki yang beradu dengan lant** logam, mulai merayap mendekat. Bau busuk daging mati mendadak menjadi seratus kali lebih tajam.
"Ris..." suara Geri bergetar, telunjuknya menunjuk ke arah kegelapan. "Itu bukan bagian dari tutorial, kan?"
Sepasang mata kuning pucat terbuka di kegelapan, menatap kami dengan rasa lapar yang murni. Di saat itulah aku menyadari satu hal yang membuat seluruh tubuhku lemas: Jika kami mati di sini, sinapsis saraf kami tidak akan sekadar terputus dari server.
Otak kami akan berhenti berdetak di dunia nyata.
"Lari," bisikku, yang kemudian berubah menjadi teriakan parau. "LARI SEKARANG!"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!