Langkah kaki Aris terasa berat, seolah sepatu botnya terbuat dari timah. Di dalam lorong menuju *The Core*, udara tidak lagi berbau logam berkarat atau anyir darah monster, melainkan berubah menjadi aroma ozon yang tajam dan steril. Dinding-dinding lorong tersebut terbuat dari panel hitam mengkilap yang berdenyut dengan cahaya biru pucat, menyerupai sirkuit saraf raksasa yang tertanam di dalam daging arsitektur digital ini.
"Aris, kau dengar itu?" suara Riko memecah keheningan. Napasnya tersengal, dan Aris bisa melihat luka bakar di bahu kiri Riko—hasil dari pertarungan di level sebelumnya—masih mengeluarkan cairan bening yang merembes ke seragam tempurnya. Di dunia nyata, Aris tahu tubuh Riko pasti sedang meringkuk kesakitan di atas polong VR mereka.
Aris berhenti sejenak, memicingkan mata ke arah kegelapan di depan. "Tetap dalam formasi. Jangan biarkan sensor Bio-Link kalian goyah. Fokus pada detak jantung kalian."
Namun, saat Aris melangkah maju, cahaya di lorong itu mendadak berkedip. Frekuensinya tidak beraturan, memicu rasa mual yang mendalam di perutnya. Denyut di pelipisnya mengencang. Aris memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan sistem sarafnya yang mulai terintegrasi terlalu jauh dengan mesin.
Saat dia membuka mata, koridor futuristik itu tidak lagi ada di sana.
"Aris! Tolong!"
Suara itu. Aris tersentak. Itu bukan suara Riko atau sisa anggota timnya yang masih bertahan. Itu adalah suara tinggi yang melengking, penuh ketakutan, yang sudah dia kunci rapat-rapat di sudut tergelap ingatannya selama sepuluh tahun.
Suasana di sekitarnya berubah drastis. Dinding metalik berganti menjadi kayu yang terbakar. Bau ozon berganti menjadi sesak asap hitam yang membakar paru-parunya. Aris tidak lagi memegang senjata laser; tangannya terasa lebih kecil, gemetar, dan kotor oleh abu.
"Maya?" bisik Aris. Suaranya pecah.
Di ujung koridor yang kini menyerupai ruang tamu rumah masa kecilnya yang dilalap api, seorang gadis kecil meringkuk di bawah reruntuhan lemari kayu. Api berkobar di sekelilingnya, menjilat langit-langit dengan lidah oranye yang rakus.
"Aris, ini bukan nyata! Ini proyeksi!" Suara Riko terdengar sangat jauh, seperti teredam oleh air yang dalam.
Aris tahu itu. Logikanya berteriak bahwa ini adalah manipulasi sistem *Etherium* yang membaca trauma di lobus temporalnya. Namun, rasa panas yang menyengat kulitnya terasa sangat nyata. Sensor Bio-Link mengirimkan sinyal rasa sakit ke otaknya dengan presisi yang mengerikan. Kulit lengannya mulai memerah dan melepuh, seolah api imajiner itu benar-benar membakarnya di kursi pemain.
"Jangan mendekat, Aris! Kakak, selamatkan dirimu!" teriak Maya kecil dari balik kobaran api.
Aris terengah. Matanya berair karena asap fiktif yang terasa begitu nyata. Dia melihat dirinya sendiri yang berusia tiga belas tahun berdiri diam di ambang pintu, terpaku oleh ketakutan, tidak mampu bergerak saat atap rumah mereka mulai runtuh. Itu adalah kegagalan terbesarnya. Keputusannya untuk lari keluar demi mencari bantuan—yang datang terlambat—telah merenggut nyawa adik perempuannya.
"Aku tidak akan membiarkannya kali ini," geram Aris. Dia menerjang maju, melompati lidah api yang menjulang.
"Aris, berhenti! Kau menab**k dinding!" Teriakkan Riko kini disert** tarikan fisik di lengannya, tapi Aris menyentaknya kasar.
Bagi Aris, dia tidak sedang berada di lorong menuju *The Core*. Dia sedang berada di rumah terkutuk itu. Dia meraih tangan Maya, namun jarinya hanya menyentuh udara dingin yang bergetar. Proyeksi itu berkedip-kedip jahat. Wajah Maya yang penuh air mata tiba-tiba berubah; kulitnya terkelupas, matanya berubah menjadi lubang hitam yang dalam, dan suaranya berubah menjadi distorsi digital yang berat.
"Kau membiarkanku mati, Aris," suara Maya kini terdengar seperti ribuan bisikan yang tumpang tindih. "Kau selalu membuat keputusan yang salah. Sama seperti sekarang. Kau membawa teman-temanmu ke sini hanya untuk menjagal mereka, bukan?"
Aris jatuh berlutut. Kepalanya terasa seperti akan meledak. Visual antara rumah yang terbakar dan lorong *The Core* tumpang tindih, menciptakan disorientasi spasial yang brutal. Dia melihat Riko dan dua anggota tim lainnya berdiri dengan wajah pucat, senjata mereka tertuju pada kekosongan, sementara Aris sendiri meraung kesakitan sambil mencengkeram dadanya.
"Sistemnya... dia meretas emosiku," Aris berbisik pada dirinya sendiri, mencoba memanggil kemampuan analisis pola yang menjadi andalannya. *Ini hanya algoritma. Ini hanya data.*
Dia memaksa dirinya berdiri, meski kakinya gemetar hebat. Dia melihat ke arah 'Maya' yang kini berdiri tegak, memancarkan cahaya merah yang mengintimidasi. Di belakang gadis itu, sebuah pintu raksasa dengan simbol tengkorak bersinar—*The Core*.
"Kau bukan dia," Aris mendesis, giginya bergemeletuk. "Dia sudah pergi, dan kau hanya sebaris kode pengecut yang bersembunyi di balik ketakutanku."
Aris memaksakan tangannya untuk meraih pistol di pinggangnya. Berat senjata itu terasa nyata, namun penglihatannya masih terdistorsi. Dia melihat Maya, lalu melihat gerbang *The Core*, lalu melihat Riko yang tampak seperti monster di matanya karena gangguan visual sistem.
Tiba-tiba, sebuah pesan sistem muncul di sudut penglihatannya, berwarna merah darah:
**[PERINGATAN: SINKRONISASI BIO-LINK 98%. BATAS KEAMANAN TERLAMPAUI.]**
**[PROTOKOL ZERO-SUM DIAKTIFKAN: HANYA SATU DETAK JANTUNG YANG DIIZINKAN MA**K KE THE CORE.]**
Udara di sekitar mereka mendadak menjadi dingin membeku. Bayangan Maya menghilang, digantikan oleh dinding transparan yang memisahkan Aris dari anggota timnya. Sebuah layar holografik muncul di hadapan mereka semua, menampilkan wajah mereka masing-masing dengan statistik vitalitas yang terus menurun.
"Aris? Apa yang terjadi? Pintunya tidak mau terbuka!" teriak Riko sambil menggedor dinding transparan itu.
Aris menatap layar tersebut dengan ngeri. Di sana, tertulis dengan jelas aturan akhir yang selama ini disembunyikan oleh pengembang game: *Untuk membuka gerbang The Core, satu nyawa harus dikorbankan oleh pemimpin tim.*
"Aris, kenapa kau menatapku seperti itu?" suara Riko bergetar, menyadari perubahan di mata pemimpinnya.
Aris melihat tangannya yang memegang senjata. Bayangan masa lalunya tentang kematian Maya kini bercampur dengan wajah teman-temannya. Dia tahu, jika dia tidak memilih sekarang, mereka semua akan mati saat sinkronisasi mencapai 100% dan otak mereka hangus. Namun, memilih berarti menjadi pembunuh.
Tangannya perlahan terangkat, mengarahkan moncong senjata ke arah Riko yang terperangkap. Di balik kaca transparan itu, Riko melangkah mundur, matanya membelalak penuh pengkhianatan.
"Aris... jangan..."
Jari Aris menempel pada pelatuk. Logikanya yang dingin mulai mengambil alih, namun hatinya berteriak menolak. Di saat yang sama, sensor Bio-Link di lehernya menyengat panas, mengirimkan sinyal terakhir yang bisa menghancurkan kewarasannya. Dia harus memilih: masa lalu yang menghantuinya, atau masa depan yang berlumuran darah sahabatnya sendiri.
Pintu *The Core* mengeluarkan suara desis magnetik yang berat, siap menyerap apa pun yang tersisa dari kemanusiaan Aris.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!