Denyut nadi di pergelangan tanganku terasa seperti palu yang menghantam besi panasβberirama, menyakitkan, dan konstan. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di balik sensor *Bio-Link* yang menempel erat di pelipis, sebuah pengingat bahwa tubuh fisikku di dunia nyata sedang berjuang melawan syok. Di depan kami, koridor panjang itu berakhir pada sebuah aula berbentuk melingkar dengan arsitektur yang tampak seperti perpaduan antara katedral gotik dan sirkuit komputer raksasa.
"Aris... kakiku sudah tidak terasa lagi," bisik Maya. Suaranya gemetar, nyaris tenggelam oleh suara bising statis dari sistem *Etherium*.
Aku menoleh, melihat Maya bersandar pada dinding yang berdenyut dengan cahaya biru pucat. Di sampingnya, Rian menekan luka di perutnyaβsebuah tebasan dari monster di koridor sebelumnya yang entah bagaimana berhasil menembus zirah virtual dan merobek kulit aslinya di dunia sana. Darah di bajunya berwarna merah pekat, terlalu nyata untuk sebuah simulasi.
"Tahan sebentar lagi," kataku, meski tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan kerikil. "Pintu keluarnya ada di depan. Kita hampir sampai."
Kami melangkah ma**k ke tengah aula. Cahaya biru mendadak padam, digantikan oleh kegelapan total selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kemudian, sebuah pilar cahaya vertikal melesat dari lant** menuju langit-langit yang tak terhingga tingginya.
*Zzzzt... Klik.*
Sebuah suara muncul. Bukan suara manusia, melainkan perpaduan ribuan frekuensi yang diolah secara digital hingga menghasilkan nada dingin yang tanpa emosi. Suara itu menggema dari segala penjuru, merayap ma**k ke dalam gendang telinga kami seolah-olah dipancarkan langsung ke saraf pendengaran.
"Selamat, Subjek Uji yang tersisa," suara itu berkata. "Kalian telah melampaui ekspektasi algoritma kami. Sinkronisasi saraf kalian berada pada level sembilan puluh delapan persen. Sebuah pencapaian yang... mematikan."
"C**up omong kosongnya!" teriak Rian, suaranya pecah karena amarah dan rasa sakit. "Buka pintunya! Kami sudah melewati semua keg***an ini!"
Keheningan mengikuti teriakan Rian. Aku memindai ruangan, mencoba mencari celah atau pola serangan, namun yang kutemukan hanyalah kehampaan. Logikaku mulai bekerja, membedah situasi ini seperti aku membedah bos terakhir di turnamen internasional. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Tidak ada pola. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.
"Pintu keluar telah dikalib**si," suara itu kembali terdengar, kali ini lebih berat. "Namun, hukum konservasi energi di dalam Etherium bersifat *Zero-Sum*. Untuk satu kesadaran yang kembali ke dunia fisik, diperlukan satu pengorbanan sebagai penyeimbang sistem. Protokol 'Sacrifice' diaktifkan."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menatap layar HUD (Heads-Up Display) di sudut mataku. Sebuah jendela notifikasi berwarna merah darah muncul, menutupi sebagian pandanganku.
**[MISI TERAKHIR: GERBANG PENEBUSAN]**
**[Syarat Keluar: Korbankan satu rekan tim.]**
**[Waktu Tersisa: 10:00]**
"Apa... apa maksudnya ini?" Maya melangkah mundur, matanya yang terbelalak menatap ke arahku, lalu ke arah Rian. "Membunuh salah satu dari kita?"
"Itu pasti gertakan," kataku, meski tanganku mulai gemetar hebat. "Sistem ini hanya ingin kita ketakutan. Itu bagian dari algoritma horornya."
"Ini bukan gertakan, Aris!" Rian menunjuk ke arah pergelangan tangannya sendiri. Lampu indikator *Bio-Link*-nya berkedip merah terangβtanda bahwa detak jantungnya sudah mencapai batas kritis. "Jika kita tidak keluar dalam sepuluh menit, sistem ini akan mengalami *crash* dan otak kita akan terpanggang di dalam kabin VR itu. Kau tahu itu!"
Suara misterius itu kembali menggema, seolah menikmati kepanikan kami. "Hanya satu yang boleh melangkah keluar. Satu orang yang c**up kuat untuk menumpahkan darah sahabatnya demi kelangsungan hidupnya sendiri. Jika tidak ada keputusan yang diambil saat waktu habis, sinkronisasi akan dipaksa ke seratus persen. Kalian semua akan mati secara permanen."
Sebuah objek mulai muncul dari tengah pilar cahaya. Sebuah belati pendek dengan bilah yang berpendar hitam legam. Ia melayang rendah di udara, menunggu tangan seseorang untuk meraihnya.
Aku menatap belati itu, lalu menatap teman-temanku. Rian, yang selalu menjadi pelindung baris depan kami. Maya, yang kecerdasannya seringkali menyelamatkan kami dari teka-teki mematikan. Mereka adalah orang-orang yang kuingatkan untuk tetap bertahan, orang-orang yang kutumpukan tanggung jawab di pundakku sendiri untuk kubawa pulang.
"Aris," suara Maya hampir tak terdengar, namun dalam kesunyian aula itu, ia terdengar seperti guntur. "Kau pemimpinnya. Kau yang paling cerdas di antara kita. Kau punya peluang terbaik untuk... menceritakan apa yang terjadi di sini kepada dunia."
"Apa yang kau katakan, Maya?" Aku menggeleng cepat. "Tidak. Kita cari jalan lain. Pasti ada celah. Sistem selalu punya celah."
"Lihat waktunya, Aris!" Rian berteriak, wajahnya pucat pasi. "Sembilan menit! Tidak ada celah! Kau dengar suara itu? Itu bukan sekadar AI. Itu adalah eksekutor!"
Ketegangan di ruangan itu berubah secara instan. Atmosfer yang tadinya penuh kesedihan kini berganti menjadi kecurigaan yang tajam. Aku bisa melihat bagaimana jari-jari Rian mulai mendekat ke arah gagang senjatanya sendiri. Aku bisa merasakan bagaimana Maya mulai menjaga jarak dariku.
Di dalam kepalaku, analisis pola itu terus berputar secara otomatis. Jika aku membunuh Rian, Maya tidak akan melawan. Jika aku membunuh Maya, Rian mungkin akan menyerangku karena rasa bersalah. Jika aku membiarkan mereka, kami semua mati.
Setiap keputusan adalah kegagalan. Setiap pilihan adalah noda darah di tanganku.
"Aris, ambillah belati itu," kata Rian, suaranya kini berubah rendah dan mengancam. "Atau aku yang akan mengambilnya."
Aku menatap mata Rian. Di sana, aku tidak lagi melihat rekan tim yang telah bersamaku selama tiga tahun. Aku melihat seekor hewan yang terpojok, siap menerkam demi nyawanya sendiri. Inilah yang diinginkan oleh *Etherium*. Mereka tidak hanya ingin tubuh kami; mereka ingin menghancurkan kemanusiaan kami sebelum kami mati.
"Jangan lakukan ini, Rian," kataku dengan suara yang dipaksakan tenang, meski otakku berteriak bahwa ini adalah akhir.
"Tinggal delapan menit, Aris," Rian melangkah maju, tangannya gemetar namun matanya penuh dengan determinasi yang gelap. "Pilih. Kau yang melakukannya, atau kau yang menjadi korban."
Tanganku perlahan bergerak menuju belati hitam yang melayang itu. Dingin logamnya terasa nyata, merambat dari ujung jari hingga ke sumsum tulangku. Saat jariku menyentuh gagangnya, sebuah sensasi terbakar menjalar di sarafku, seolah-olah sistem *Etherium* sedang memberikan restu kepada calon algojonya.
Aku menoleh ke arah Maya yang mulai terisak, lalu kembali ke Rian yang kini sudah menghunus pedang virtualnya. Dalam keheningan yang mematikan itu, aku menyadari satu hal yang paling mengerikan: aku mulai menghitung titik lemah di tubuh mereka secara otomatis.
Siapa yang harus mati agar aku bisa hidup?
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!