Udara di dalam koridor terakhir ini terasa seperti ozon dan tembaga yang terbakar. Setiap kali Aris menarik napas, dadanya terasa sesak, seolah paru-parunya di dunia nyata mulai melupakan cara mengembang tanpa bantuan mesin. Di sudut penglihatannya, indikator *Bio-Link* berkedip merah—sebuah peringatan fatal bahwa sinkronisasi sarafnya sudah mencapai batas kritis 92 persen. Jika angka itu menyentuh seratus, dia bukan lagi sekadar bermain; dia akan menyatu sepenuhnya dengan kode digital ini, dan setiap kerusakan di sini akan menjadi permanen di sana.
"Pasti ada celah," bisik Aris, suaranya parau. Jari-jarinya gemetar saat dia menyentuh dinding virtual yang bertekstur seperti daging dingin. "Sistem *Zero-Sum* ini... ini cuma algoritma. Setiap algoritma punya *bug*."
Di sampingnya, Rian berdiri dengan bahu merosot. Napasnya pendek-pendek dan cepat. Luka sayatan di lengannya—hasil dari serangan monster di koridor sebelumnya—mengeluarkan cairan hitam digital, namun di dunia nyata, Aris tahu lengan Rian pasti sedang mengalami pendarahan hebat. Wajah Rian pucat pasi, matanya liar menyapu pintu keluar besar di ujung ruangan yang memancarkan cahaya putih dingin.
"Gak ada celah, Aris," suara Rian bergetar, lebih mirip rintihan daripada kata-kata. "Sistemnya sudah bilang jelas: *Satu nyawa untuk satu pintu*. Kita sudah kehilangan tiga orang. Sekarang cuma tinggal kita berdua. Kau mau mencari celah sampai kita berdua mati kehabisan darah di kursi VR itu?"
Aris menoleh, menatap sahabatnya sejak SMA itu. "Kalau aku bisa ma**k ke konsol admin lewat gerbang ini, aku bisa memicu *force logout* untuk kita berdua. Aku cuma butuh waktu tiga menit untuk memecahkan enkripsinya. Pola serangannya tadi punya ritme, artinya seluruh sistem ini punya pola dasar yang sama."
"Tiga menit itu selamanya, Ris!" Rian berteriak, suaranya bergema di dinding yang berdenyut. "Lihat indikator detak jantungmu! Kita sekarat!"
Aris mengabaikan kepanikan itu dan melangkah mendekati konsol bercahaya di samping gerbang. Matanya bergerak cepat, menganalisis barisan kode yang melayang di udara. Pikirannya bekerja seperti prosesor yang dipaksa *overclock*. Dia melihat struktur datanya—itu adalah tumpukan memori yang saling mengunci. Jika dia bisa menggeser satu fragmen saja...
*Sret.*
Suara logam yang ditarik dari sarungnya membuat bulu kuduk Aris berdiri. Dia tidak perlu menoleh untuk tahu apa itu. Pisau vib**si milik Rian. Senjata yang seharusnya mereka gunakan untuk bertahan melawan monster, kini terdengar berdenging dengan frekuensi yang mengancam di belakang punggungnya.
"Rian, apa yang kau lakukan?" Aris bertanya pelan, tetap membelakangi temannya. Tangannya masih menggantung di atas panel kode.
"Aku punya istri, Ris. Kami baru menikah tiga bulan lalu," suara Rian pecah. "Aku tidak bisa mati di sini hanya karena kau terlalu idealis untuk membunuhku atau membiarkan dirimu dibunuh."
Aris perlahan memutar tubuhnya. Dia melihat Rian memegang pisau itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Mata Rian bengkak karena tangis dan ketakutan yang murni. Di dunia ini, Rian adalah seorang prajurit tangguh dengan statistik kekuatan tinggi, tapi saat ini, dia hanyalah seorang pria yang ketakutan setengah mati.
"Aku tidak akan membunuhmu, dan aku tidak akan membiarkanmu mati," kata Aris dengan nada setenang mungkin, meski jantungnya berdentum kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dada kirinya—efek *feedback* dari Bio-Link. "Letakkan pisaunya. Aku hampir berhasil."
"Kau bohong!" Rian menerjang.
Gerakannya kasar dan tanpa taktik, sebuah ledakan adrenalin dari insting bertahan hidup yang primitif. Aris menghindar ke samping, merasakan desingan udara saat pisau itu menebas tempat di mana lehernya berada sesaat lalu. Aris menangkap pergelangan tangan Rian, dan saat kulit mereka bersentuhan, sebuah sengatan listrik statis yang menyakitkan merambat melalui koneksi saraf mereka.
"Hentikan, Rian! Ini yang diinginkan pengembang game ini! Mereka ingin kita saling bant** demi tontonan!" Aris mencoba mencengkeram bahu Rian, mencoba menyadarkannya.
Namun Rian sudah kalap. Dia menghantamkan kepalanya ke wajah Aris. *B**k!* Aris terjerembap ke lant**. Rasa asin darah memenuhi mulutnya, dan pandangannya seketika tertutup gangguan visual berupa piksel-piksel hitam yang beterbangan. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah rahangnya benar-benar remuk oleh hantaman beton.
Di layar statusnya, HP Aris merosot ke zona merah.
"Maafkan aku, Ris... Maafkan aku," isak Rian sambil berjalan mendekat. Dia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Cahaya dari pintu keluar memantul di mata pisau itu, menciptakan kilatan yang menyilaukan. "Aku harus pulang. Aku harus bangun!"
Aris terbaring di lant**, napasnya tersengal. Dia melihat ke arah konsol yang hanya berjarak dua meter darinya. Kode-kode itu masih berkedip, menunggu untuk dipecahkan. Dia bisa saja melawan—dia tahu pola serangan Rian lebih baik daripada Rian sendiri. Dia tahu titik lemah di perisai virtual Rian. Dengan satu serangan balik yang presisi, dia bisa mengakhiri ini.
Tapi itu berarti dia akan menjadi jagal bagi sahabatnya sendiri.
Rian menghujamkan pisaunya ke bawah. Aris berguling secepat yang dia bisa, pisau itu tertancap ke lant** logam, menimbulkan percikan api digital. Aris menendang kaki Rian hingga pria itu jatuh tersungkur.
"Rian, lihat aku!" Aris berteriak, mencoba menembus kabut keg***an di mata temannya. "Jika kau membunuhku sekarang, kau akan memikul beban ini seumur hidupmu! Kau tidak akan pernah benar-benar 'bangun'!"
Rian tidak mendengarkan. Dia merangkak maju, wajahnya terdistorsi oleh kombinasi antara tangis dan amarah yang meledak-ledak. Dia meraih kerah baju Aris dan membantingnya ke panel konsol. Benturan itu memicu serangkaian alarm di dalam ruangan. Lampu merah berputar, menciptakan suasana horor yang semakin mencekam.
"Hanya satu yang boleh keluar!" Rian meraung tepat di depan wajah Aris. Ujung pisau itu kini menekan kulit leher Aris, c**up tajam hingga sistem Bio-Link mengirimkan sinyal perih yang membuat Aris mengerang. "Game ini tidak memberiku pilihan lain!"
Tepat saat itu, sebuah pesan sistem muncul di udara, melayang di antara wajah mereka yang saling berdekatan. Huruf-hurufnya berwarna emas pucat, kontras dengan kekacauan di sekitar mereka.
*WARNING: INTEGRITY FAILURE. SACRIFICE NOT DETECTED. FINAL PROTOCOL INITIATED IN 60 SECONDS. TOTAL DELETION IMMINENT.*
Mata Aris melebar. "Rian, lihat! Waktunya habis! Kalau kau membunuhku sekarang, sistemnya akan menghapus kita berdua sebelum kau sempat keluar!"
Tangan Rian yang memegang pisau bergetar semakin hebat. Ujung matanya menangkap hitung mundur yang berdetak cepat di sudut ruangan. 60... 59... 58...
Di tengah keputusasaan itu, Aris melihat sesuatu yang tidak dia sadari sebelumnya. Di bawah pesan peringatan itu, ada sebuah baris kode tersembunyi yang hanya muncul saat sistem berada dalam kondisi darurat. Itu bukan kode pintu keluar. Itu adalah kode akses menuju *Core Kernel* dari Etherium.
"Rian, lepaskan aku! Aku tahu cara menghancurkan seluruh tempat ini!" Aris mencoba meronta, tapi Rian justru semakin menekan pisaunya. Setetes darah—darah sungguhan di dunia nyata—mulai merembes dari balik sensor di leher Aris.
"Kau cuma mau menyelamatkan dirimu sendiri, kan?" bisik Rian dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat dingin, sebuah nada yang belum pernah Aris dengar dari sahabatnya. "Kau ingin aku melepaskanmu supaya kau bisa menusukku dari belakang saat aku lengah?"
"Aku tidak seperti itu!"
"Semua orang akan menjadi seperti itu saat mereka hampir mati, Aris." Rian mengangkat pisaunya lagi, kali ini dengan tekad yang mengerikan di matanya. "Selamat tinggal, kawan."
Saat pisau itu mulai bergerak turun menuju jantung Aris, lant** di bawah mereka bergetar hebat. Dinding-dinding ruangan mulai runtuh menjadi serpihan data. Aris memejamkan mata, tangannya meraba-raba konsol di belakangnya dengan liar, mencari satu perintah terakhir yang mungkin bisa mengubah segalanya—atau justru mempercepat kematian mereka berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!