Napas yang keluar dari paru-paruku terasa seperti uap panas yang membakar tenggorokan. Aku bisa merasakan denyut nadi di leherku berdetak liar, mengirimkan sinyal rasa sakit yang tumpul ke belakang kepalaku. Di dunia nyata, tubuhku mungkin sedang berbaring di dalam kapsul Bio-Link yang dingin, tapi di sini, di dalam lorong besi yang berkarat ini, sensasi dingin itu tidak ada. Yang ada hanyalah bau karat yang menyengat dan aroma tembaga dari darah yang merembes melalui celah armor virtualku.
"Aris... berhenti berlari," suara itu bergema, memantul di dinding-dinding logam yang lembap.
Itu suara Dion. Suara yang biasanya penuh dengan lelucon kasar dan tawa yang meledak-ledak setiap kali kami memenangkan turnamen. Tapi sekarang, nada suaranya telah berubah—datar, hampa, dan membawa beban mematikan yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku menekan punggungku ke dinding yang dingin, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar. Cahaya biru redup dari antarmuka Bio-Link di sudut mataku berkedip merah. *Status: Pendarahan Ringan. Integritas Neural: 74%.* Luka sayatan di bahu kiriku bukan sekadar data digital. Rasa perihnya begitu nyata, seolah-olah seseorang baru saja menyetrika kulitku dengan besi panas.
*Krak.*
Langkah sepatu bot Dion terdengar semakin dekat. Dia tidak terburu-buru. Dia tahu aku terpojok di ujung koridor buntu ini.
"Kau selalu bilang kita adalah tim, Aris," ucap Dion lagi. Aku bisa membayangkan wajahnya yang pucat di balik helmnya, mata yang mungkin sudah memerah karena stres berkepanjangan. "Tapi 'Zero-Sum' mengubah segalanya. Kau dengar instruksi sistem itu, kan? Hanya satu. Hanya satu orang yang bisa bangun dari mimpi buruk ini."
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kemampuan analisaku. Pola serangan Dion biasanya agresif, mengandalkan kekuatan fisik daripada strategi. Jika aku bisa menghindar ke kanan saat dia mengayunkan pisaunya... tidak, ruang ini terlalu sempit. Aku terjepit di antara tumpukan kotak kargo yang macet dan pintu keluar yang terkunci secara otomatis.
"Dion, letakkan senjatamu!" seruku, suaraku sedikit bergetar meski aku mencoba terdengar tegas. "Kita bisa mencari celah lain. Sistem ini ingin kita saling membunuh. Jangan biarkan Etherium menang!"
Tawa Dion pecah, sebuah suara serak yang mengerikan. "Mencari celah? Lihat tanganmu, Aris! Tanganmu gemetar! Kau sendiri tahu kita sudah kehabisan waktu. Jantung Ardi sudah berhenti sepuluh menit yang lalu di dunia nyata karena Bio-Link-nya gagal melakukan sinkronisasi. Aku tidak mau berakhir seperti dia!"
Tiba-tiba, sesosok bayangan menerjang dari balik kegelapan. Aku refleks merunduk. *Sring!* Pisau *Phase-Blade* milik Dion menghantam dinding logam tepat di atas kepalaku, memercikkan bunga api elektrik yang menerangi wajahnya yang liar. Matanya melebar, pupilnya mengecil karena adrenalin dan ketakutan murni.
Aku berguling ke samping, mencoba menciptakan jarak, tapi Dion lebih cepat. Dia menendang perutku dengan sepatu bot beratnya. *Ugh!* Aku terlempar ke belakang, punggungku menghantam kotak kargo dengan keras. Peringatan di layar HUD-ku berkedip g***-g***an. *Kerusakan Organ Dalam Terdeteksi. Mentransfer rasa sakit ke unit Bio-Link...*
Rasa mual yang hebat menghantamku. Aku tersedak, merasakan cairan hangat di mulutku. Darah.
"Maafkan aku, Aris," bisik Dion. Dia berdiri di atasku, mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Cahaya bilah itu berpendar ungu, siap untuk memutus sinapsis sarafku secara permanen. "Tapi aku punya adik yang menungguku di rumah. Aku tidak bisa mati di sini."
Aku menatap ujung pisau itu, otakku berputar cepat meski rasa sakit mengaburkan pandanganku. Analisis pola: Dion akan menusuk langsung ke arah dada, target tercepat untuk memutus koneksi saraf pusat. Tanganku meraba lant** yang dingin, jariku menyentuh sesuatu—sebuah pipa besi yang sudah patah dan berkarat.
"Dion, jangan lakukan ini," bisikku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya.
Dion menggeram dan mengayunkan pisaunya ke bawah dengan seluruh tenaganya. Aku memutar tubuhku ke samping, gerakan yang memicu rasa sakit luar biasa di pinggangku, dan mengayunkan pipa besi itu sekuat tenaga ke arah pergelangan tangannya.
*KLANG!*
Pisau itu terlepas dari genggamannya, terlempar ke sudut ruangan yang gelap. Dion terhuyung, memegangi pergelangan tangannya yang patah—aku tahu itu patah karena suara krak yang mengerikan itu juga akan dirasakan olehnya di dunia nyata. Dia berteriak, sebuah raungan penuh penderitaan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku bangkit dengan susah payah, napas kami berdua memburu di ruang sempit itu. Dion menatapku, bukan lagi dengan kemarahan, melainkan dengan keputusasaan yang menghancurkan hati. Dia bersiap untuk menerjang lagi, menggunakan tubuhnya sebagai senjata meski tangannya terkulai lemas.
"C**up, Dion!" teriakku, menodongkan ujung pipa yang tajam ke arahnya.
Namun, sebelum salah satu dari kami bisa bergerak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di seluruh area, suara yang selama ini kami takuti.
*“Peringatan Sistem: Area eliminasi menyusut dalam 60 detik. Peserta yang tersisa dalam zona merah akan dihapus secara permanen.”*
Lampu merah di langit-langit mulai berputar, menyinari wajah Dion yang kini membeku dalam horor. Di belakangnya, dinding energi transparan berwarna merah—dinding kematian—mulai bergerak maju, melahap segala sesuatu yang dilewatinya menjadi butiran piksel hitam.
Dion menoleh ke belakang, lalu kembali menatapku. Jarak antara dia dan dinding kematian itu tidak lebih dari lima meter. Dan satu-satunya pintu keluar yang aman berada tepat di belakangku, masih terkunci rapat dengan pemindai biometrik yang hanya akan terbuka jika salah satu dari kami 'dihilangkan' dari sistem.
Dia tidak punya pilihan. Dan aku juga tidak.
Dion mulai berlari ke arahku, bukan untuk menyerang, melainkan dengan ekspresi seseorang yang sudah menyerah pada keg***an. "Buka pintunya, Aris! Atau biarkan aku yang membukanya dengan darahmu!"
Tanganku yang memegang pipa besi semakin erat hingga buku-buku jariku memutih. Aku harus memutuskan dalam hitungan detik: apakah aku akan membiarkan sahabatku ditelan oleh sistem, atau aku harus menjadi algojo yang mengakhiri hidupnya dengan tanganku sendiri agar pintu ini terbuka?
Saat Dion melompat ke arahku dengan sisa tenaganya, aku melihat sesuatu di belakangnya, di balik dinding merah yang mendekat. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Ada sebuah pergerakan, sebuah bayangan lain yang tidak terdeteksi oleh radar.
"Dion, tunggu! Ada sesuatu di belakangmu!"
Tapi suaraku tenggelam oleh bunyi alarm yang semakin m****akkan telinga. Dion tidak berhenti. Dia menerjang, dan ujung pipa besiku sudah mengarah tepat ke dadanya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!