Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau anyir darahβdarahku sendiriβmerayap ma**k melalui sensor penciuman yang dipaksakan oleh sistem *Bio-Link*. Di sudut koridor yang remang-remang, aku menyandarkan punggung pada dinding logam yang dingin. Nafasku memburu, meninggalkan uap tipis di udara virtual yang disimulasikan dengan sangat sempurna ini. Di lengan kiriku, luka sayatan dari pertemuan terakhir dengan Gani masih berdenyut, mengirimkan sinyal rasa sakit yang begitu nyata hingga membuat ujung jariku gemetar.
Aku menatap antarmuka HUD yang berkedip merah di sudut mataku. *Health Point* (HP): 22%. Satu serangan telak lagi, dan tubuh asliku di kursi *gaming* sana mungkin akan mengalami gagal jantung.
"Maya? Rian? Kalian dengar aku?" bisikku ke saluran komunikasi tim. Hanya ada statis yang merobek telinga sebagai jawaban.
Kepercayaan adalah komoditas yang paling mahal di Etherium saat ini. Aturan 'Zero-Sum' telah mengubah kami dari sekawan menjadi pemangsa. Aku tahu mereka bersembunyi, mungkin di balik pilar-pilar beton yang hancur ini, menungguku lengah, atau menunggu satu sama lain untuk saling menghabisi.
Langkah kaki terdengar dari balik reruntuhan di depanku. Pelan, terseret, namun sengaja. Aku segera menghunus *Short-Sword* milikku, memosisikan diri dalam kuda-kuda rendah. Analisis polaku bekerja secara otomatis; ritme langkah itu tidak sinkron, menunjukkan cidera di kaki kanan.
"Berhenti di sana," desisku.
Sesosok bayangan muncul dari kegelapan. Itu Maya. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi, matanya membelalak penuh ketakutan. Di tangan kanannya, dia memegang belati yang berlumuran cairan hitamβdarah monster, atau mungkin darah manusia.
"Aris?" suaranya parau, nyaris tak terdengar. "Jangan mendekat. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau ingin keluar, kan? Kau ingin aku jadi tumbalmu?"
"Maya, turunkan senjatamu," kataku selembut mungkin, meski jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. "Gani sudah g***. Dia yang memicu semua ini. Dia memburu kita satu per satu."
"Lalu apa bedanya kau dengan dia?" Maya tertawa sumbang, sebuah tawa yang berujung pada isak tangis. "Sistem ini bilang hanya satu yang bisa selamat. Satu! Kita berlima ma**k ke sini sebagai tim, dan sekarang... lihat kita!"
Aku menurunkan sedikit pedangku, menunjukkan telapak tangan kiri yang terbuka. "Jika aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya saat kau memunggungi koridor tadi. Aku punya pola seranganmu, Maya. Aku tahu celahmu. Tapi aku memilih tidak melakukannya."
Maya ragu. Ujung belatinya gemetar. Di saat itulah, sebuah dentuman keras mengguncang lant**. Dari lant** atas, sesosok tubuh terhempas jatuh dan mendarat keras di atas tumpukan puing tak jauh dari kami. Rian.
Dia terbatuk, memuntahkan cairan merah yang membasahi pelindung dadanya. Di belakangnya, berdiri Gani. Namun, itu bukan lagi Gani yang kukenal. Matanya bersinar merah karena aktivasi mode *Berserk*, dan senyumnya... senyum itu murni keg***an. Gani memegang kapak besar yang dialiri listrik statis, mendesis setiap kali menyentuh lant**.
"Satu per satu berkumpul," suara Gani terdengar seperti gesekan logam. "Bagus. Ini akan mempermudah urusanku."
Aku melompat ke arah Rian, membantunya berdiri sementara Maya masih terpaku. "Rian, bertahanlah!"
"Dia... dia menggunakan kode admin yang bocor," rintih Rian, memegangi perutnya yang robek. "Dia tidak bermain adil, Aris."
Aku menatap Gani, lalu beralih pada Maya yang masih mematung. "Maya! Jika kita tidak bersatu sekarang, kita semua akan mati di tangan ba****** ini sebelum sempat mencapai gerbang keluar! Lupakan soal 'Zero-Sum' untuk sejenak. Jika kita mati di sini, tidak akan ada pemenang!"
Paranoia di mata Maya bertarung dengan insting bertahan hidupnya. Dia melihat ke arah Gani yang mulai melangkah maju dengan langkah berat yang mengancam, lalu melihat ke arahku.
"Apa rencanamu?" tanya Maya akhirnya, suaranya kembali mengeras meski masih ada getaran di sana.
"Dia lambat di sisi kiri karena luka lama di babak kedua," kataku cepat, mataku memindai pergerakan Gani. "Maya, gunakan granat asapmu untuk mengalihkan sensor penglihatannya. Rian, aku tahu kau masih punya satu slot *Stun Bolt*. Tembakkan saat dia mengayunkan kapaknya. Aku akan ma**k untuk serangan terakhir."
"Dan setelah dia mati?" tanya Rian ketus, darah merembes dari sela giginya. "Siapa yang akan membunuh siapa?"
Aku terdiam sejenak. Pertanyaan itu adalah racun yang merusak setiap serat persahabatan kami. "Kita pikirkan itu nanti. Sekarang, kita harus hidup dulu agar bisa punya kemewahan untuk berdebat."
Gani menggeram, raungan yang lebih mirip monster daripada manusia. Dia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, membiarkan aliran listrik membungkus tubuhnya. "Kalian bicara terlalu banyak!"
Dia menerjang ke depan dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Sekarang!" teriakku.
Maya melempar tabung kecil yang meledak menjadi awan abu-abu pekat. Gani terperangkap di dalamnya, mengayunkan kapaknya secara buta. Suara benturan logam dengan beton terdengar m****akkan telinga. Di tengah kabut itu, aku melihat kilatan biruβ*Stun Bolt* dari Rian mengenai punggung Gani.
Gani m****ik saat tubuhnya kaku tersengat listrik. Inilah celahnya. Aku melesat ma**k, mengabaikan peringatan stamina di HUD-ku yang mulai kritis. Aku mengarahkan pedangku tepat ke celah pelindung lehernya.
Namun, tepat sebelum mataku mencapai sasaran, sensor peringatan di belakang kepalaku berteriak nyaring. Aku merasakan pergeseran udara yang tidak terduga. Bukan dari arah Gani, melainkan dari samping.
Aku melirik sekilas ke arah Maya. Dia tidak sedang melihat ke arah Gani. Dia melihat ke arahku, dan belatinya terangkat tinggi, bukan untuk membela diri, melainkan untuk menusuk punggungku yang terbuka lebar.
"Maafkan aku, Aris," bisiknya, matanya dipenuhi air mata dan tekad yang dingin. "Aku harus pulang."
Pedangku masih tertuju pada Gani, sementara belati Maya hanya berjarak beberapa senti dari jantungku. Di depan, Gani mulai pulih dari efek *stun* dan mulai memutar kapaknya ke arah kami berdua. Kematian datang dari dua arah, dan analisis polaku tidak memberikan jalan keluar selain satu keputusan yang akan mengutukku selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!