Bau anyir tembaga menusuk indra penciuman Aris, sebuah sensasi yang seharusnya mustahil ada dalam dunia simulasi. Namun, Etherium bukan lagi sekadar permainan. Setiap kali pedang bergerigi milik monster *Stalker* itu menghantam perisai energi Maya, Aris bisa merasakan gelombang panas yang menyengat di sepanjang saraf tulang belakangnya sendiri. Efek *Bio-Link* si**** ini menyatukan rasa sakit mereka berlima menjadi satu penderitaan kolektif.
"Aris! Cepat! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" teriak Maya. Wajahnya pucat pasi, peluh mengucur deras di keningnya yang berkerut menahan beban serangan sang monster. Di dunia nyata, Aris tahu tubuh Maya pasti sedang mengejang di atas kursi VR-nya.
Aris tidak menjawab. Matanya terpaku pada konsol hologram yang melayang di depannya, tangannya menari di atas barisan kode sumber yang berkedip-kedip merah. "Sedikit lagi, Maya. Tahan sepuluh detik lagi!"
Aris memaksakan dirinya untuk ma**k lebih dalam ke lapisan *sub-layer* permainan. Kemampuan analisis polanya bekerja melampaui batas normal; dia tidak lagi melihat dinding-dinding beton laboratorium yang hancur atau kepulan asap hitam. Baginya, dunia ini sekarang terdiri dari aliran data berwarna neon yang bergerak liar. Dia mencari celah, sebuah pintu belakang atau setidaknya tombol darurat untuk memutus koneksi saraf mereka dari peladen pusat.
Namun, semakin dia menggali, semakin perutnya terasa mual. Kode-kode ini tidak tersusun seperti perangkat lunak pada umumnya. Logika pemrogramannya terasa... organik. Seolah-olah kode-kode itu bernapas dan berdenyut mengikuti detak jantung mereka.
"Sial," umpat Aris lirih. Napasnya memburu. Dia melihat sebuah anomali pada protokol *Core-Shutdown*.
Raka, yang berdiri di sisi kanan Aris dengan kapak digitalnya yang retak, menebas lengan monster itu hingga memercikkan cairan hitam pekat. "Aris, apa pun yang kau lakukan, lakukan sekarang! Luka di lenganku mulai terasa basah, aku rasa aku benar-benar berdarah di sana!"
Aris mengabaikan teriakan Raka. Fokusnya kini terkunci pada sebuah baris perintah yang tersembunyi di balik enkripsi tingkat tinggi. Jarinya gemetar saat dia melakukan *dekompilasi* paksa pada baris tersebut. Saat lapisan enkripsi itu runtuh, sebuah diagram arsitektur sistem muncul di hadapannya.
Mata Aris membelalak. Pupilnya mengecil saat memahami apa yang terpampang di sana.
"Ini bukan labirin yang bisa dibuka dari luar," gumam Aris, suaranya nyaris hilang ditelan dentingan logam dan raungan monster.
"Apa maksudmu?" Maya berteriak, suaranya serak. Dia terlempar ke belakang saat monster itu menghantamkan gada besarnya. Maya mengerang kesakitan, memegangi perutnya yang tampak memar membiru melalui baju tempur tipisnya.
Aris segera mendekati Maya, namun matanya tetap tertuju pada data yang masih terproyeksi di udara. "Sistem ini... *Etherium*... dia mengunci dirinya sendiri dengan logika *Ouroboros*. Sebuah lingkaran s**** yang menelan ekornya sendiri."
Dia menunjuk ke titik merah di pusat diagram. "Selama ini kita berpikir bahwa pusat kendali ada di server utama di kantor pengembang. Tapi lihat ini. Protokol *Bio-Link* telah memindahkan otoritas eksekusi sistem langsung ke dalam korteks sereb**l kitaβpemainnya. Server itu hanya cangkang."
Raka mendekat sambil terus waspada, napasnya tersengal-sengal. "Bicaralah bahasa manusia, Ris! Bagaimana cara kita keluar?"
Aris menoleh ke arah teman-temannya, tatapannya penuh kengerian yang mendalam. "Tidak ada cara untuk meretasnya dari terminal mana pun di dunia ini. Sistem ini hanya bisa dihancurkan dari dalamβ*inside-out*."
"Ya, bagus! Itu kan yang sedang kita lakukan? Kita sedang di dalam sekarang!" sahut Raka tidak sabar.
"Bukan sekadar berada di dalam game, Raka," suara Aris bergetar. Dia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti terbakar. "Maksudku adalah menghancurkan inti sistemnya dari dalam kesadaran kita sendiri. Kode ini menunjukkan bahwa untuk mematikan seluruh simulasi dan memutus *Bio-Link*, pusat data harus mengalami *overload* total."
Aris berhenti sejenak, membiarkan keheningan yang mencekam menggantung di antara mereka, di tengah suara raungan monster yang mulai bangkit kembali di kejauhan.
"Satu-satunya cara untuk memicu *overload* itu adalah dengan memutuskan satu 'simpul' utama secara paksa," lanjut Aris perlahan. "Seseorang harus tetap terhubung saat seluruh sistem ini meledak secara digital. Seseorang harus menjadi 'pemantik' yang terbakar bersama kode-kode ini agar yang lain bisa lepas."
Maya menatap Aris dengan mata berkaca-kaca. "Maksudmu... seseorang tidak akan bisa bangun?"
Aris tidak sanggup membalas tatapan Maya. Dia kembali melihat ke arah barisan kode yang kini mulai berubah warna menjadi hitam pekat, menyerupai noda darah yang mengalir di layar hologram. Di sana, tertulis dengan jelas aturan mutlak yang tersembunyi: *Zero-Sum Protocol Active.*
Aris menyadari satu hal yang lebih mengerikan. Sistem tidak hanya meminta pengorbanan; sistem ini sedang menunggu mereka untuk memilih siapa yang akan menjadi tumbal. Dan yang membuat darahnya membeku adalah saat dia melihat sinkronisasi detak jantung mereka di pojok layar. Detak jantung mereka berlima perlahan-lahan mulai berdetak dalam ritme yang sama, dipaksa oleh sistem untuk menjadi satu kesatuan organik.
"Hanya satu orang yang boleh memegang kunci keluar," bisik Aris pada dirinya sendiri, suaranya penuh keputusasaan.
Tiba-tiba, alarm merah meraung di seluruh koridor virtual itu. Tanah di bawah kaki mereka mulai retak, menyingkapkan kekosongan digital yang gelap dan tanpa dasar. Monster-monster baru mulai bermunculan dari bayang-bayang, jumlahnya puluhan, ratusan, seolah diperintahkan oleh sistem untuk mempercepat proses pengambilan keputusan.
"Aris! Apa yang terjadi?!" Raka berteriak sambil mengangkat kapaknya, bersiap untuk pertempuran terakhir yang sia-sia.
Aris melihat ke tangannya sendiri yang mulai mengalami *glitch*, menghilang dan muncul kembali dalam serpihan pixel. Dia tahu waktu mereka hampir habis. Logika taktisnya bekerja cepat, namun hatinya menolak hasil analisisnya sendiri.
Jika dia ingin menyelamatkan yang lain, dia harus melakukan sesuatu yang akan menghantuinya selamanya. Namun, saat matanya beralih ke baris kode terakhir yang baru saja terbuka, Aris menyadari bahwa sistem ini memiliki satu kejutan terakhir. Sebuah persyaratan yang lebih kejam dari sekadar kematian.
"Bukan kita yang memilih siapa yang pergi," kata Aris dengan suara yang pecah. "Tapi sistem ini menuntut kita untuk... saling mengeliminasi."
Di atas kepala mereka, sebuah penghitung waktu mundur muncul, bersinar dengan warna merah darah. Sepuluh menit. Jika dalam sepuluh menit mereka tidak menentukan siapa yang menjadi 'pemantik', maka tidak akan ada yang tersisa untuk bangun di dunia nyata.
Aris mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya seolah menembus telapak tangannya sendiri. Dia adalah pemimpin mereka. Dia yang membawa mereka ke sini. Dan kini, dia harus memilih: menjadi martir, atau menjadi pembunuh bagi sahabat-sahabatnya sendiri.
"Siapkan senjata kalian," bisik Aris, matanya menatap tajam ke arah monster yang mendekat, namun pikirannya jauh lebih gelap dari ancaman di depan matanya. "Karena musuh sebenarnya bukan lagi monster-monster ini."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!