Rasa panas itu bukan lagi sekadar simulasi. Di balik tengkorak kepalaku, aku bisa merasakan kabel-kabel imajiner Bio-Link berdenyut, mengirimkan gelombang sengatan listrik yang membakar saraf-saraf otakku. Di dunia nyata, aku tahu tubuhku pasti sedang mengejang di atas kursi haptik, namun di sini—di jantung *Etherium*—segalanya terasa jauh lebih mengerikan.
Lant** arena ini bergetar, terbuat dari tumpukan data yang terdistorsi dan daging busuk yang berdenyut. Di hadapan kami, Sang Arsitek—manifestasi AI pengelola game ini—berdiri tegak. Wujudnya tidak tetap; ia terus berubah dari tumpukan kabel hitam yang merayap hingga menjadi bayangan raksasa tanpa wajah dengan ribuan mata yang berpijar merah.
"Aris... aku sudah tidak bisa... merasakan kakiku," rintih Maya. Dia tersungkur di sampingku, tangannya menekan luka menganga di perutnya. Cairan merah kental membasahi pakaian tempurnya yang sudah compang-camping. Itu bukan sekadar piksel. Bau besi berkarat yang menyengat menusuk hidungku, membuktikan bahwa sistem Bio-Link telah menerjemahkan luka digital itu menjadi kerusakan jaringan nyata di tubuh aslinya.
Reza dan Gani tidak jauh lebih baik. Reza bersandar pada pilar data yang retak, napasnya tersengal-sengal dengan ritme yang tidak beraturan. Lengan kanannya terkulai layu, hangus terbakar akibat ledakan *feedback* sistem pada serangan sebelumnya.
"Lihat polanya, Aris!" teriak Reza, suaranya parau. "Kau harus... ahhh! Si****, kepalaku mau pecah!"
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menyaring kebisingan dari rasa sakit yang menderu. Di pojok penglihatanku, sebuah HUD (Heads-Up Display) berwarna merah berkedip liar: *SYNCHRONIZATION: 98%. CRITICAL LIMIT.* Jika angka itu mencapai 100%, kesadaran kami akan sepenuhnya menyatu dengan kode game, dan tubuh biologis kami di luar sana akan mengalami mati otak.
"Waktu kita tidak banyak," bisikku, lebih kepada diriku sendiri.
Sang Arsitek meraung—sebuah suara yang terdengar seperti ribuan jeritan manusia yang digabungkan secara digital. Ia meluncurkan serangkaian tentakel kode yang tajam ke arah kami.
"Menunduk!" perintahku.
Aku menarik Maya ke belakang sebuah serpihan dinding beton yang terfragmentasi tepat saat tentakel itu menebas udara, meninggalkan jejak distorsi ruang di belakangnya. Aku memperhatikan pergerakannya. Kecepatan, sudut kemiringan, dan interval antar serangan. Otakku bekerja seperti mesin hitung, meskipun setiap sinapsis terasa seolah sedang disulut api.
"Dia selalu mengisi ulang energinya setiap tiga detik setelah serangan sapuan besar," kataku sambil menatap sisa-sisa timku. "Gani, gunakan sisa *flash-bang* milikmu saat dia mengangkat lengannya. Reza, kau masih bisa menembak dengan tangan kiri?"
Reza menyeringai getir, mengangkat pistol plasmanya yang bergetar. "Hanya butuh satu jari untuk menarik pelatuk, kawan."
"Maya, tetap di sini. Jangan bergerak sedikit pun," pesanku. Maya mengangguk lemah, wajahnya sepucat kertas.
Aku menarik napas panjang, mengabaikan peringatan suhu tubuh yang melonjak di antarmuka sistem. Aku berlari keluar dari persembunyian. Sang Arsitek segera menyadariku. Ia mengangkat lengannya, membentuk bilah raksasa dari data murni.
"Sekarang, Gani!"
Ledakan cahaya putih membutakan memenuhi ruangan. Sang Arsitek melenguh, gerakannya terhenti sejenak karena sensor visualnya mengalami *glitch*. Itu celahku. Aku berlari secepat mungkin, kakiku terasa berat seolah-olah aku berlari di dalam air raksa. Setiap langkah adalah siksaan.
Aku melihatnya—inti dari AI itu berada di balik rongga dadanya yang transparan, sebuah bola cahaya yang berdenyut searah dengan detak jantungku.
"Reza, tembak bagian dadanya! Sekarang!"
Tembakan plasma biru meluncur dari tangan kiri Reza, menghantam perisai luar Sang Arsitek tepat di titik yang kuanalisis sebagai bagian terlemah. Perisai itu retak. Aku melompat, menghunuskan pedang pendekku—satu-satunya senjata yang tersisa—dan menghujamkannya langsung ke inti cahaya itu.
Suara ledakan statis m****akkan telinga. Dunia di sekitarku mulai berguncang hebat. Sang Arsitek menjerit, tubuhnya mulai terurai menjadi partikel-partikel debu hitam. Aku jatuh berlutut, napas ditarik dengan rakus, paru-paruku terasa seperti terbakar hebat di dunia nyata.
Kami berhasil. Kami mengalahkannya.
"Apakah... sudah berakhir?" Maya bertanya dengan suara bergetar. Dia mencoba bangkit, dibantu oleh Gani yang juga terhuyung-huyung.
Aku melihat ke arah HUD. Angka sinkronisasi berhenti di 99%. Keheningan yang menakutkan menyelimuti arena yang hancur itu. Namun, bukannya gerbang keluar yang muncul, langit virtual di atas kami justru berubah menjadi warna merah darah yang pekat. Sebuah teks besar muncul di udara, melayang di atas tubuh kami yang sekarat.
*BATTLE ENDED. CORE DEFEATED.*
Aku tersenyum tipis, merasa lega. Namun, senyum itu lenyap dalam sekejap saat baris kalimat berikutnya muncul dengan bunyi denting yang dingin.
*INITIATING 'ZERO-SUM' PROTOCOL.*
Suara mekanis yang dingin bergema dari segala penjuru, memenuhi setiap sudut kesadaran kami yang sudah di ambang batas.
"Selamat, para pemain. Anda telah mencapai akhir dari Etherium. Namun, hanya ada satu slot sisa untuk transmisi kesadaran kembali ke dunia fisik. Sinkronisasi akan mencapai 100% dalam dua menit. Pintu keluar hanya akan terbuka jika ada satu pemain yang bertahan sebagai pemenang mutlak."
Aku tertegun. Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menoleh ke arah teman-temanku. Maya menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Reza melepaskan senjatanya, wajahnya menegang karena ngeri. Gani mundur satu langkah, tangannya secara refleks meraba belati di pinggangnya.
"Satu orang?" bisik Maya, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aris... apa maksudnya ini?"
Keheningan di antara kami kini terasa lebih mematikan daripada serangan AI tadi. Sahabat-sahabat yang baru saja mempertaruhkan nyawa bersamaku kini menatapku dengan campuran antara rasa takut dan insting bertahan hidup yang mulai memuncak.
Waktu di pojok mataku terus berjalan mundur. 110 detik lagi sebelum otak kami semua terpanggang. Dan hanya satu dari kami yang diizinkan untuk tetap hidup.
Aku memandang tanganku yang gemetar, lalu ke arah mereka. Kepalaku terasa pecah, namun sebuah pikiran gelap mulai merayap di benakku: jika aku tidak memutuskan siapa yang mati, maka kami semua akan berakhir di sini.
"Aris..." Reza memanggil namaku, suaranya berubah rendah, penuh kewaspadaan. Dia perlahan-lahan meraih kembali pistolnya yang tergeletak di lant**. "Kau pemimpinnya. Kau yang bilang kita harus bertahan hidup, kan?"
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!