Udara di dalam koridor ini tidak terasa seperti barisan kode digital. Bau karat yang tajam bercampur dengan aroma anyir daging busuk menusuk indra penciumanku, membuat perutku mual. Seharusnya, teknologi *Bio-Link* hanya memberikan stimulasi sensorik ringanβsuhu udara, tekstur permukaan, atau getaran kecil saat bersentuhan dengan objek. Namun, rasa dingin yang merayap di tengkukku saat ini terasa begitu nyata, seolah-olah aku benar-benar berdiri di sebuah ruang bawah tanah yang telah ditinggalkan selama berabad-abad.
"Aris, ini tidak benar," bisik Rio di belakangku. Suaranya bergetar, memecah keheningan yang menyesakkan. "Aku mengatur tingkat haptikku ke sepuluh persen, tapi aku bisa merasakan gesekan kain seragam ini di kulitku. Ini terlalu sensitif."
Aku menoleh, menatap wajah Rio yang pucat di bawah temaram lampu neon yang berkedip di langit-langit koridor. Di sampingnya, Siska, Gani, dan Maya juga tampak tegang. Sebagai kapten tim, aku harus tetap tenang, meski jemariku sendiri terus bergetar tanpa henti.
"Fokus, Rio," kataku sembari mengecek status HUD yang melayang tipis di sudut penglihatanku. "Mungkin ini bagian dari 'total immersion' yang mereka banggakan di brosur beta. Kita hanya perlu menyelesaikan tutorial ini dan keluar."
Tiba-tiba, suara decitan logam terdengar dari ujung koridor yang gelap. *Kretak. Srat. Srat.* Bunyi itu seperti sesuatu yang berat sedang diseret di atas lant** beton yang kasar. Kami serentak membeku. Cahaya senter dari ujung senjata Gani membelah kegelapan, dan saat itulah kami melihatnya.
Sesosok makhluk setinggi dua meter berdiri di sana. Tubuhnya merupakan perpaduan mengerikan antara daging manusia yang membiru dan potongan-potongan mesin industri yang tertanam paksa di punggung serta lengannya. Wajahnya tidak memiliki mata, hanya sebuah lubang menganga di tengah dahi yang terus mengeluarkan cairan hitam kental.
"Itu... monster tutorialnya?" suara Siska tercekat.
Belum sempat aku menjawab, makhluk itu mengeluarkan raungan yang m****akkan telinga. Gelombang suaranya begitu kuat hingga aku merasa dadaku bergetar hebat. Tanpa peringatan, monster itu menerjang dengan kecepatan yang tidak ma**k akal untuk ukuran tubuh sebesar itu.
"Menyebar!" teriakku.
Kami melompat ke arah yang berbeda. Makhluk itu menghantam dinding tempat kami berdiri tadi, menghancurkan beton hingga puing-puingnya beterbangan. Gani mencoba melepaskan tembakan dari senapan plasma energinya, tapi monster itu bergerak terlalu lincah, menghilang ke balik bayang-bayang pilar beton.
"Dia menggunakan pola serangan penyergapan!" seruku, mencoba menganalisis gerakannya. "Rio, hati-hati di belakangmu!"
Rio terlambat bereaksi. Makhluk itu muncul dari kegelapan di sampingnya, mengayunkan lengan mekanisnya yang berbentuk gergaji berkarat. Rio mencoba menangkis dengan belati taktisnya, tapi kekuatan monster itu jauh melampaui statistik karakter awal kami. Gergaji itu mendarat telak di lengan atas Rio.
Sebuah jeritan pecah. Bukan jeritan kaget seorang gamer, melainkan jeritan penderitaan yang murni dan menyayat hati.
Rio terjatuh, memegangi lengannya yang kini mengucurkan darah merah segar. Darah itu merembes ke lant**, mengeluarkan uap tipis, dan aromanya... aromanya terlalu kuat untuk sekadar simulasi.
"Rio!" Maya berlari mendekat, tapi aku menahannya.
"Tunggu, Maya! Pola serangannya belum selesai!"
Monster itu bersiap untuk serangan kedua, namun Gani berhasil menarik perhatiannya dengan rentetan tembakan yang mengenai bahu makhluk itu. Monster itu meraung kesakitan dan mundur kembali ke dalam kegelapan, mengeluarkan suara geraman rendah sebelum menghilang di lorong yang lebih dalam.
Aku segera berlari menghampiri Rio. "Rio, buka menu sistem! Gunakan *med-kit* sekarang!"
Rio tidak menjawab. Wajahnya membiru, keringat dingin memba****i dahinya. Tangannya yang gemetar masih menekan luka di lengan atasnya. Aku menarik tangannya paksa untuk melihat seberapa parah kerusakannya.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Di dalam game, luka itu terlihat mengerikanβdaging yang terkoyak dengan tulang yang terlihat putih di sela-sela darah. Namun, yang membuat napas di paru-paruku tersangkut adalah apa yang kulihat pada status *Bio-Link* di HUD milik Rio yang bisa kuakses sebagai pemimpin tim.
*Physical Integrity: 82% (Critical Bleeding Detected in External Reality)*
"Aris... sakit sekali..." Rio merintih. Suaranya serak, nyaris hilang. "Kenapa... kenapa rasanya panas sekali di dunia nyata?"
Aku mematung. Aku menatap telapak tanganku yang kini berlumuran darah Rio. Dalam game VR normal, darah akan menghilang setelah beberapa detik atau hanya terlihat sebagai tekstur datar. Tapi darah ini terasa hangat. Lengket. Dan saat aku melirik ke arah pergelangan tangan Rio yang mengenakan sensor *Bio-Link* versi beta di dunia nyata melalui kamera pemantau kecil di sudut HUD, aku melihat sesuatu yang mustahil.
Kain haptic suit yang dikenakan Rio di kursi *gaming*-nya di dunia nyataβyang terlihat melalui sensor biometrikβmulai memerah. Cairan merah yang nyata merembes keluar dari balik setelan canggih itu, tepat di titik yang sama dengan luka yang didapatnya di dalam game.
"Ini bukan simulasi," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar di tengah kepanikan teman-temanku. "Luka itu... luka itu benar-benar berpindah ke tubuh kita."
Siska menjerit saat menyadari hal yang sama. Gani hanya bisa terpaku memandangi senjatanya dengan tangan gemetar. Di kegelapan ujung koridor, suara decitan logam itu kembali terdengar, lebih dekat, dan kali ini tidak hanya satu, melainkan tiga suara yang berbeda.
Aku menatap teman-temanku, lalu menatap darah di tanganku. Kami tidak sedang bermain game. Kami sedang berada di dalam rumah jagal yang terbungkus teknologi digital, dan pintu keluarnya masih jauh di ujung labirin ini.
"Bangun, Rio," kataku dengan suara yang dipaksakan untuk tetap tegas meski hatiku hancur oleh ketakutan. "Bangun atau kita semua akan mati di sini, baik di dalam game maupun di luar sana."
Di saat yang sama, sebuah notifikasi sistem berwarna merah darah muncul di depan mataku, menutupi seluruh pandangan: *[WARNING: SYNC RATE AT 100%. DEATH IN ETHERIUM IS PERMANENT.]*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!