Bau hangus itu masih tertinggal di cuping hidungku, meski di dunia nyata aku tahu tubuhku sedang terbaring di atas kursi gaming ergonomis yang dingin. Di sini, di dalam koridor *Etherium* yang remang, rasa sakit di lengan kiriku berdenyut seirama dengan detak jantungku yang berpacu. Luka bakar akibat sambaran lidah api monster di koridor sebelumnya bukan sekadar simulasi visual. Kulit lengan avatar-ku melepuh, dan yang lebih mengerikan, aku bisa merasakan perih yang sama di lengan asliku.
"Br******! Ini tidak lucu! Aris, matikan sistemnya! Sekarang!"
Suara Bima menggelegar, bergetar hebat. Dia mencengkeram kepalanya sendiri, matanya melotot menatap ujung jemarinya yang gemetar. Di sampingnya, Sita terduduk lemas dengan napas pendek-pendek, sementara Yoga dan Dion hanya terpaku menatap pintu besi besar di depan kami yang tertutup rapat.
Aku menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokanku yang terasa kering seperti baru saja menelan pasir. "Tenang, Bima. Semuanya, tolong tenang dulu."
"Tenang katamu?" Bima merangsek maju, mencengkeram kerah pelindung dadaku. Wajahnya yang biasanya penuh tawa saat kami memenangkan turnamen, kini pucat pasi. "Lenganmu melepuh, Ris! Aku merasakannya juga, dadaku sesak, Bio-Link ini menyedot nyawa kita! Aku mau keluar!"
Bima melepaskanku dan berbalik ke arah udara kosong, jarinya bergerak cepat melakukan *swipe* di udara untuk memunculkan menu sistem. Aku melakukan hal yang sama. Cahaya biru transparan muncul di hadapanku. Mataku dengan cepat memindai barisan ikon, mencari tombol 'Log Out' yang seharusnya berada di sudut kanan bawah.
Ikon itu ada di sana. Namun, warnanya bukan hijau terang seperti biasanya. Warnanya abu-abu gelap, seolah-olah fungsi itu tidak pernah ditanamkan ke dalam kode permainan ini.
"Tidak bisa..." Sita berbisik, suaranya nyaris hilang. "Tombolnya... tidak merespons."
Bima mulai memukul-mukul udara dengan kalap. "Keluar! Keluar! Sistem, akhiri sesi! *Admin*, keluarkan kami!"
Suasana koridor yang lembap dan dingin itu mendadak terasa mencekam. Dinding-dinding *Etherium* yang terbuat dari kombinasi logam berkarat dan jaringan organik mulai berdenyut lembut, seolah-olah bangunan ini sendiri adalah makhluk hidup yang sedang mengawasi kami.
"Dengarkan aku!" teriakku, suaranya lebih keras dari yang kubayangkan. Bima berhenti memukul udara. Semua mata kini tertuju padaku. Aku bisa merasakan beban ekspektasi mereka, sebuah beban yang selalu membuat dadaku terasa seperti dihimpit batu besar. "Panik hanya akan meningkatkan detak jantung kita. Bio-Link bekerja berdasarkan sinyal saraf. Semakin kalian panik, semakin besar tekanan yang diterima otak kalian. Itu yang membuat rasa sakitnya terasa lebih nyata."
"Tapi pintunya terkunci, Ris," Yoga menunjuk pintu besi di depan kami. "Itu satu-satunya jalan menuju *Safe Zone* berikutnya."
Aku mendekati pintu itu. Di permukaannya, terdapat ukiran berbentuk wajah manusia yang sedang berteriak kesakitan. Aku menyentuh logamnyaβterasa dingin, terlalu dingin untuk sekadar data digital. Di tengah pintu, terdapat sebuah layar kecil statis yang berkedip merah.
*ERROR: EXIT PROTOCOL SUPPRESSED. BIOMETRIC LOCK ACTIVE.*
"Sistem mengunci pintu keluar virtual," kataku sambil menganalisis pola kedipan di layar. "Developer game ini, atau apa pun yang mengendalikan *Etherium* sekarang, sengaja menutup akses otomatis. Mereka ingin kita tetap di dalam."
"Kita akan mati di sini, ya?" Dion, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya datar, namun matanya memancarkan keputusasaan yang murni.
"Tidak. Kita tidak akan mati," jawabku tegas, meski di dalam hati, keraguan mulai menggerogoti keyakinanku. Aku harus menjadi pemimpin yang mereka butuhkan, bukan Aris yang selalu menyalahkan diri sendiri. "Jika protokol virtual dikunci, berarti kita harus mencari mekanisme manual. Game ini dibangun di atas fondasi logika arsitektur lama. Pasti ada tuas, atau kunci, atau sesuatu di sekitar sini yang bisa membuka pintu ini secara paksa."
"Bagaimana kau tahu?" tanya Bima ragu.
"Karena ini masih sebuah program," aku menunjuk ke arah kabel-kabel hitam yang menjalar di langit-langit koridor. "Setiap sistem memiliki celah. Kita hanya perlu menemukannya tanpa memicu serangan monster lain. Sita, kau punya kemampuan *scout*, kan? Gunakan sensor visualmu untuk memindai aliran energi di balik dinding ini."
Sita mengangguk pelan, jemarinya masih gemetar saat dia mengaktifkan modul visinya. Matanya berpendar biru. Dia mulai memindai sekeliling, bergerak perlahan di sepanjang dinding koridor yang gelap.
Aku memperhatikan teman-temanku. Kami adalah tim terbaik di liga, namun di sini, keahlian kami menekan tombol *keyboard* tidak ada artinya. Ini bukan tentang *refleks* jari lagi, ini tentang bertahan hidup. Aku melihat lengan kiriku lagi. Luka bakarnya tampak berdenyut, mengeluarkan cairan bening yang terasa lengket. Aku tahu, jika aku gagal memandu mereka, luka-luka ini akan menjadi tanda permanenβatau bahkan penyebab kematian kami di dunia luar.
"Ada sesuatu!" seru Sita. Dia menunjuk ke sebuah celah sempit di balik pilar besar yang tertutup lumut digital. "Ada aliran data terkonsentrasi di sana. Seperti kotak sekring manual."
Bima segera berlari menuju pilar itu, namun aku menahannya. "Tunggu! Jangan gegabah."
Terlambat. Langkah Bima memicu sesuatu.
Tiba-tiba, lampu-lampu di koridor padam total. Kegelapan pekat menelan kami. Detik berikutnya, suara geraman rendah terdengar dari arah langit-langit. Bukan hanya satu, tapi puluhan. Suara gesekan kuku tajam di atas logam bergema, menciptakan simfoni kematian yang mendekat.
Di kegelapan itu, sebuah pesan sistem muncul tepat di depan mataku, bersinar dengan warna merah darah:
*CHALLENGE STARTED: THE HUNGER OF SINAPSIS.*
*TIME REMAINING: 05:00. OPEN THE GATE OR BECOME THE DATA.*
"Aris! Mereka di atas kita!" teriak Yoga.
Aku mendongak. Di tengah kegelapan, sepasang mata merahβlalu dua, lalu sepuluhβmulai terbuka satu per satu di langit-langit. Mahluk-mahluk itu merayap turun dengan gerakan yang patah-patah, seperti laba-laba yang terbuat dari daging manusia dan kabel listrik.
Pintu keluar masih terkunci rapat, dan mahluk-mahluk itu kelaparan. Aku menyadari satu hal: sistem tidak hanya ingin mengunci kami di dalam, ia ingin melihat bagaimana kami hancur di bawah tekanan.
"Bentuk formasi melingkar!" perintahku, sambil menghunus pedang cahayaku yang bergetar tidak stabil. "Sita, fokus ke kotak sekring! Yang lain, lindungi dia! Kita punya waktu lima menit sebelum tempat ini menjadi kuburan kita!"
Namun, saat aku bersiap untuk menangkis serangan pertama, aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Di sudut layar HUD-ku, sebuah parameter baru muncul, sebuah aturan tambahan yang belum pernah kulihat sebelumnya:
*TOTAL PLAYERS: 5. REQUIRED SACRIFICE FOR GATE ACTIVATION: 1.*
Tenggorokanku tercekat. Satu orang harus dikorbankan? Aku menatap punggung teman-temanku yang sedang berjuang melawan rasa takut. Apakah ini alasan mengapa pintu itu tidak bisa dibuka secara manual?
Geraman mahluk itu semakin dekat, dan bau amis darah mulai memenuhi udara, jauh lebih nyata dari apa pun yang pernah kurasakan. Dan aku tahu, keputusan tersulit dalam hidupku baru saja dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!