Bau anyir tembaga meresap melalui sensor olfaktori Bio-Link, membuat perutku mual. Di dunia nyata, aku tahu tubuhku hanya terbaring di atas pod empuk, tapi di sini, di dalam koridor gelap Sektor Delta, setiap langkah yang kuambil terasa seperti menyeret beban seberat satu ton. Luka sayatan di lengankuβhasil dari pertempuran dengan *The Mangled* di koridor sebelumnyaβberdenyut panas. Rasa sakitnya begitu nyata hingga aku bisa merasakan detak jantungku sendiri di luka itu.
"Aris, berhenti sebentar," bisik Maya. Suaranya gemetar, tertutup oleh deru statis dari sistem komunikasi kami yang mulai malfungsi.
Aku menoleh. Wajah Maya pucat pasi di bawah cahaya neon hijau yang berkedip dari dinding lorong. Dia memegangi bahunya yang memar. Di belakangnya, Leo dan Bima bersandar pada dinding logam yang dingin, napas mereka memburu. Kami semua hancur. Bukan hanya karakter kami, tapi mental kami.
"Kita tidak bisa berhenti di sini," kataku, mencoba menjaga nada suaraku tetap datar meski tanganku sendiri gemetar saat menggenggam gagang *tactical blade*. "Sensor di petaku menunjukkan ada ruang teknis sepuluh meter di depan. Kita butuh tempat untuk melakukan *reboot* pada modul medis kalian."
Aku memimpin jalan, memindai setiap sudut gelap dengan mata yang dilatih untuk mengenali pola serangan. Namun, ada yang aneh dengan area ini. Dindingnya tidak lagi tertutup daging busuk atau karat seperti level-level sebelumnya. Di sini, dindingnya bersih, terbuat dari polimer putih yang tampak seperti laboratorium medis kelas atas.
Kami sampai di sebuah pintu geser yang setengah terbuka. Di atasnya, sebuah plakat logam kecil bertuliskan: *Project Lead - Dr. H. Vossen.*
"Ini bukan bagian dari *dungeon*," gumam Leo sambil melangkah ma**k.
Ruangan itu berantakan. Kursi terguling, monitor pecah berserakan di lant**, dan berkas-berkas digital melayang di udara dalam bentuk hologram yang rusak. Di tengah ruangan, sebuah terminal utama masih menyala, memancarkan cahaya biru redup yang konsisten.
Aku mendekati terminal itu. Jemariku bergerak cepat di atas *keyboard* virtual, insting analisaku mengambil alih. Aku mencari *log* sistem atau mungkin kode akses gerbang keluar. Namun, apa yang kutemukan membuat darahku seolah membeku.
"Aris, lihat ini," Maya menunjuk ke sebuah layar besar di dinding yang tiba-tiba menyala saat aku mema**kkan perintah *bypass*.
Layar itu menampilkan rekaman video. Seorang pria paruh baya dengan jas lab putih yang kotor duduk di depan kamera. Matanya merah, kantung matanya legam seolah dia tidak tidur selama berminggu-minggu.
*"Jika ada yang melihat ini... artinya protokol Bio-Link sudah mencapai fase kritis,"* suara pria itu parau, diselingi suara ledakan di latar belakang rekamannya. *"Nama saya Vossen. Saya salah satu arsitek sistem Etherium. Kami berbohong. Game ini... Etherium tidak pernah dirancang untuk hiburan."*
"Apa maksudnya?" Bima mendekat, wajahnya penuh kebingungan yang bercampur dengan amarah.
Pria di video itu menarik napas panjang, lalu batuk darah. *"Sponsor kami... mereka menginginkan data. Bukan data perilaku konsumen, tapi data tentang ambang batas rasa sakit dan pengkhianatan manusia. Mereka menyebutnya 'Eksperimen Resonansi Sosial'. Bio-Link dirancang untuk mengirimkan impuls saraf balik ke korteks sereb**l pemain. Luka yang kalian terima bukan simulasi. Itu adalah stimulasi neuro-kimia yang memaksa sel tubuh kalian bereaksi seolah-olah trauma itu nyata. Jika kalian mati di sini, otak kalian akan memicu serangan jantung masif karena syok yang tak tertahankan."*
Aku merasakan telingaku berdenging. Selama ini aku mengira ini adalah kesalahan teknis, sebuah *bug* mengerikan yang bisa diperbaiki jika kami mencapai akhir.
*"Aturan Zero-Sum..."* Vossen melanjutkan, suaranya kini nyaris berupa bisikan ketakutan. *"Itu bukan kesalahan algoritma. Itu adalah tujuan utamanya. Mereka ingin melihat apakah manusia akan tetap mempertahankan moralitasnya saat dihadapkan pada kematian nyata. Hanya satu sinyal yang bisa dikirim kembali ke server pusat untuk memicu dekoneksi total. Hanya satu 'Bio-Signature' yang bisa keluar hidup-hidup. Mereka ingin mengamati saat-saat di mana kalian berhenti menjadi teman dan mulai menjadi predator."*
Video itu berakhir dengan suara pintu yang didob**k paksa dan teriakan Vossen yang terputus.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Aku bisa mendengar suara napas teman-temanku. Suasana yang tadinya penuh solidaritas tiba-tiba berubah menjadi tegang. Aku tidak berani menatap mata Leo atau Bima. Aku bisa merasakan tatapan mereka tertuju padaku, pemimpin mereka.
"Jadi..." Suara Leo terdengar berat dan asing. "Hanya satu dari kita yang bisa keluar?"
"Itu bohong," Maya menyela, suaranya melengking karena histeris. "Dia pasti bohong! Developer itu g***!"
"Sistemnya tidak berbohong, Maya," kataku pelan, sambil menatap data mentah yang kini mengalir di terminal. Angka-angka itu tidak menipu. Protokol dekoneksi hanya memiliki slot untuk satu ID pengguna. Satu nyawa untuk ditukarkan dengan empat lainnya.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi merah besar muncul di semua HUD (Heads-Up Display) kami.
**[PERINGATAN: Oksigen di Sektor Delta akan dikuras dalam 15 menit. Gerbang Evakuasi Akhir Terbuka. Persyaratan: 1 Bio-Signature Terverifikasi.]**
Lant** di bawah kaki kami bergetar. Suara mekanis gerbang besar yang terbuka terdengar dari arah ujung lorong, diikuti oleh raungan monster-monster yang tampaknya sengaja dilepaskan untuk menggiring kami menuju satu titik pertemuan terakhir.
Aku menoleh ke arah teman-temanku. Wajah-wajah yang selama ini menghabiskan waktu bertahun-tahun bersamaku di arena kompetitif kini tampak seperti orang asing. Bima mencengkeram kapaknya lebih erat. Leo mundur satu langkah, tangannya mendekat ke arah pistol di pinggangnya.
Kepercayaan yang kami bangun selama bertahun-tahun retak dalam hitungan detik. Aku bisa melihat pola pikir mereka berubah dari 'bagaimana kita selamat' menjadi 'bagaimana aku selamat'.
"Kita harus bergerak," kataku, suaranya terdengar hampa di telingaku sendiri.
"Siapa yang akan pergi ke gerbang itu, Aris?" tanya Bima dengan nada menantang. "Kau yang memimpin kami ke sini. Kau yang bilang kita semua akan selamat. Sekarang katakan, siapa yang kau pilih untuk mati?"
Aku tidak menjawab. Analisaku bekerja terlalu cepat, memetakan setiap kemungkinan, dan setiap simulasi berakhir dengan darah di tanganku. Di ujung lorong, lampu merah berputar, menandakan bahwa waktu kami hampir habis, dan permainan yang sesungguhnyaβpermainan untuk saling membant**βbaru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!