Udara di dalam ruangan itu terasa berat, kental dengan bau ozon dan karat yang menusuk hidung. Aris bisa merasakan keringat dingin mengalir di balik tengkuknya, sebuah sensasi yang terlalu nyata untuk sekadar simulasi digital. Di hadapan mereka, pintu menuju *Core-Sector* berdiri kokoh, namun di depannya, sesosok makhluk mengerikan sedang menunggu.
Namanya, jika Aris tidak salah mengingat dari *data-log* yang sempat ia retas, adalah 'The Neural-Shredder'. Makhluk itu setinggi dua meter dengan kulit yang tampak seperti jalinan otot yang mengelupas dan kabel serat optik yang berdenyut. Di tangannya—atau lebih tepatnya, di ujung lengannya—terdapat bilah gergaji mesin yang berputar tanpa suara, hanya menyisakan getaran frekuensi rendah yang membuat gigi Aris ngilu.
"Aris, polanya. Berikan aku celah," bisik Maya. Suaranya gemetar, tangannya yang memegang busur energi tampak tidak stabil. Di sisi lain, Rian sudah bersiap dengan perisai beratnya, meski napasnya tersengal-sengal karena luka di bahu kirinya dari level sebelumnya.
Aris memicingkan mata. Ia mengaktifkan kemampuan analisisnya, memaksa otaknya bekerja dua kali lebih cepat. Garis-garis biru transparan mulai muncul di pandangannya, memetakan setiap pergerakan Shredder. "Tunggu... sekarang! Maya, bidik sendi lutut kanannya! Rian, tahan serangan balasannya!"
Maya melepaskan anak panah cahaya. Tepat sasaran. Shredder itu meraung, suara digital yang pecah dan menyakitkan telinga. Makhluk itu tersungkur sejenak. Aris melihat kesempatan itu. Ia berlari maju, menghunuskan *Pulse-Blade* miliknya—senjata andalannya sejak awal permainan. Ia melompat, mengincar inti merah yang berdenyut di dada makhluk itu.
*CRAKK!*
Bukan suara daging yang tertembus yang terdengar, melainkan suara logam yang retak berkeping-keping.
Aris terhempas ke belakang. Ia menatap tangannya dengan tidak percaya. Gagang *Pulse-Blade* itu masih ada di genggamannya, namun bilah energinya telah hancur, hancur berkeping-keping akibat tab**kan dengan pelat baja tersembunyi di dada Shredder. Efek Bio-Link segera mengirimkan gelombang kejut ke lengannya. Aris berteriak saat merasakan sensasi tulang pergelangan tangannya seperti retak di dunia nyata.
"Senjataku... hancur," desis Aris, suaranya parau karena menahan sakit.
Shredder itu bangkit kembali. Bilah gergajinya berputar lebih cepat, menciptakan angin kencang di ruangan sempit itu. Tanpa senjata utama Aris, mereka kehilangan daya rusak terbesar tim.
"Mundur, Aris! Mundur!" teriak Rian sambil membenturkan perisainya ke lant** untuk memicu *aggro* musuh.
Namun Aris terpaku. Pikirannya berpacu. *Salahku. Aku tidak menghitung ketebalan armor dadanya. Aku gagal lagi.* Ketakutan mulai merayap, mencekik logikanya. Jika mereka tidak mendapatkan kunci di punggung makhluk itu, mereka akan terjebak di sini sampai sistem Bio-Link membakar saraf otak mereka.
"Aris! Lihat aku!" Maya berteriak, nyaris menangis sambil menghindari tebasan maut Shredder. "Gunakan otakmu! Jangan cuma pedangmu!"
Kata-kata Maya seperti siraman air es. Aris menarik napas panjang, mengabaikan denyut menyakitkan di pergelangan tangannya. Ia membuang gagang pedang yang sudah tak berguna itu. Matanya kembali menyapu ruangan. Ada kabel-kabel tegangan tinggi yang menjunt** dari langit-langit, dan genangan cairan pendingin yang bocor di lant** besi.
"Rian! Giring dia ke zona B-4! Maya, bersiap tembak panel listrik di atasnya saat aku memberi aba-aba!" perintah Aris, suaranya kembali tenang meski dadanya bergemuruh.
"Kau mau apa?" tanya Rian sangsi, sambil menahan gempuran gergaji Shredder yang membuat perisainya memercikkan api.
"Kita akan membunuhnya dengan tangan kosong... dan sedikit bantuan dari hukum fisika," jawab Aris tajam.
Aris berlari, bukan menjauh, tapi justru mendekat ke arah Shredder tanpa senjata. Makhluk itu mendeteksi gerakan Aris dan mengalihkan perhatiannya. Bilah gergaji itu mengayun horizontal, Aris merunduk, merasakan angin tajam lewat hanya beberapa milimeter di atas kepalanya. Ia bisa melihat tekstur daging busuk makhluk itu dari jarak sedekat ini.
Ia memanjat tumpukan peti logistik, melompat ke punggung Shredder. Makhluk itu meronta, mencoba menggapai Aris dengan tangan mekaniknya. Aris mencengkeram kabel-kabel di tengkuk makhluk itu, menariknya dengan seluruh kekuatannya. Rasa sakit menyengat telapak tangannya—efek Bio-Link dari gesekan kabel—tapi ia tidak peduli.
"Sekarang, Maya! Panelnya!"
Maya melepaskan tembakan. Panel listrik meledak, menjatuhkan kabel bermuatan ribuan volt tepat ke arah mereka.
"Rian, lompat!"
Aris melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkan diri tepat saat kabel itu menyentuh tubuh logam Shredder yang basah oleh cairan pendingin. Arus listrik raksasa merambat seketika. Makhluk itu kejang hebat, suara jeritan digitalnya m****akkan telinga. Cahaya biru elektrik membutakan pandangan sejenak.
Aris berguling di lant**, napasnya memburu. Saat cahaya memudar, Shredder itu sudah luruh menjadi tumpukan daging dan logam yang berasap. Di tengah puing-puing itu, sebuah kartu akses berwarna emas berkilauan.
Rian mendekat, bahunya naik turun. "G***... itu g***, Aris."
Aris bangkit dengan susah payah, memegangi lengannya yang masih bergetar hebat. Ia berjalan menuju bangkai musuh dan mengambil kunci akses tersebut. "Ini tiket kita ke level akhir."
Namun, saat kartu itu disentuh, sebuah notifikasi sistem muncul di udara, berwarna merah darah, menutupi pandangan mereka semua.
[PERINGATAN: Kunci Akses Level Akhir Terdeteksi.]
[Inisialisasi Protokol 'Zero-Sum' dimulai...]
[Syarat Keluar: Hanya 1 User yang diperbolehkan melakukan otentikasi pada gerbang terakhir.]
Suasana kemenangan itu menguap dalam sekejap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Aris memandang kartu di tangannya, lalu menatap Maya dan Rian. Sahabat-sahabatnya itu juga menatapnya, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di mata mereka. Bukan lagi rasa lega, melainkan kecurigaan yang mulai tumbuh, perlahan tapi pasti.
Suara desis pintu di ujung ruangan terbuka, mengundang mereka ma**k ke area terakhir, namun Aris tahu, langkah selanjutnya mungkin akan menjadi langkah di mana mereka berhenti menjadi kawan.
"Hanya satu orang?" Maya berbisik, suaranya hampir tak terdengar. "Aris... maksudnya apa?"
Aris tidak menjawab. Ia hanya bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik apa pun yang diberikan Bio-Link padanya hari ini. Permainan ini baru saja dimulai yang sebenarnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!