Bau amis tembaga menggantung pekat di udara yang lembap, menyesakkan paru-paruku setiap kali aku menarik napas. Di sudut ruangan interogasi yang temaram ini, cahaya dari indikator *Bio-Link* di pergelangan tanganku berkedip merahβseirama dengan denyut jantungku yang berpacu liar. Di depanku, Raka tergeletak bersandarkan dinding beton yang retak. Napasnya pendek-pendek, menyerupai bunyi gesekan amplas pada kayu.
Paha kanan Raka robek lebar. Bukan sekadar piksel yang hilang atau tekstur yang rusak; daging di sana menganga, memperlihatkan otot yang berkedut dan rembesan cairan merah kental yang terus membasahi lant** digital ini. Yang paling mengerikan adalah keringat dingin dan guncangan hebat di tubuh aslinya yang bisa kurasakan getarannya melalui frekuensi sinkronisasi tim. Di dunia nyata, tubuh Raka pasti sedang mengalami syok hebat.
"Aris..." suara Raka nyaris tak terdengar, tenggelam dalam erangan tertahan. Matanya yang biasanya jenaka kini hanya menyisakan pupil yang melebar penuh ketakutan.
Aku merogoh kantong taktis di pinggangku, jemariku gemetar saat menyentuh tabung kecil berisi cairan berpendar biru pucat. *Nano-Regen Syringe*. Ini adalah satu-satunya item penyembuh tingkat tinggi yang kami temukan setelah melewati koridor penuh jebakan tadi. Item ini mampu menutup luka fatal dalam hitungan detik.
"Jangan sekarang, Aris."
Suara dingin Maya menusuk keheningan. Aku menoleh dan mendapati Maya berdiri di dekat pintu besi yang setengah terbuka, matanya yang tajam menatap botol di tanganku dengan tatapan kalkulatif, bukan penuh simpati.
"Dia sekarat, Maya," desis g***-g***an keluar dari mulutku. "Kalau kita tidak menutup luka itu sekarang, sistem Bio-Link akan memicu henti jantung di tubuh aslinya. Kau tahu itu!"
Maya melangkah maju, bayangannya memanjang di bawah lampu neon yang berkedip. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa tabung itu adalah satu-satunya tiket kita untuk bertahan hidup di zona berikutnya. Kita belum menghadapi bos area ini, Aris. Kalau kau menggunakan itu untuk Raka sekarang, dan salah satu dari kitaβyang masih bisa bertarungβterluka nanti, kita semua tamat."
"Dia anggota tim kita!" sergahku, suaraku meninggi, memantul di dinding beton yang dingin.
"Dia beban," balas Maya tanpa emosi. "Lihat kakinya. Bahkan dengan *Nano-Regen*, dia tidak akan bisa berlari secepat kita. Kau ingin mengorbankan seluruh tim hanya untuk satu orang yang sudah separuh mati?"
Gani, yang sejak tadi hanya diam di pojok sambil memegangi kepalanya yang pening, tiba-tiba mendongak. Wajahnya pucat pasi. "Maya benar, Aris. Maksudku... aku tidak ingin Raka mati, tapi... tapi aku ingin pulang. Kalau kita tidak punya cadangan medis, peluang kita nol. Aris, kau yang selalu bicara tentang pola dan logika. Gunakan logikamu sekarang!"
Aku menatap botol di tanganku, lalu beralih ke wajah Raka yang kian memutih. Logikaku setuju dengan Maya. Secara taktis, menyimpan item ini untuk orang yang paling produktif dalam tim adalah keputusan yang benar. Itulah pola yang selalu aku ambil dalam setiap turnamen. Tapi ini bukan turnamen. Ini bukan tentang poin atau trofi. Ini tentang nyawa sahabatku yang kurasakan detak jantungnya semakin melambat melalui sistem sinkronisasi.
Setiap detik yang terbuang terasa seperti hantaman godam di dadaku. Kesalahan. Jika saja tadi aku memerintahkan Raka untuk mengambil posisi kiri, jika saja aku lebih cepat menganalisis pola serangan monster itu... ini semua salahku.
"Aris... berikan padaku," Maya mengulurkan tangannya. "Aku yang akan membawanya. Kita akan cari cara lain untuk Raka. Mungkin ada *med-kit* kecil di ruangan depan."
"Kau berbohong," bisikku. "Tidak ada lagi item medis di map ini. Aku sudah memindainya."
Maya tidak berkedip. "Maka kau tahu apa yang harus dilakukan."
Tiba-tiba, Raka terbatuk, menyemburkan darah ke dadanya. Indikator kesehatan di HUD-ku untuk nama Raka berkedip kuning tua, hampir hitam. Tangannya yang gemetar meraih ujung jaketku, menariknya dengan sisa tenaga yang ada.
"Tolong..." gumam Raka. "Sakit sekali, Ris... di dunia nyata... aku... aku tidak bisa merasakan kakiku lagi..."
Pemandangan itu merobek pertahananku. Pers**** dengan taktik. Pers**** dengan efisiensi. Aku adalah pemimpin tim ini, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mati karena keputusanku yang ragu-ragu.
Dengan gerakan cepat, aku mengabaikan tangan Maya yang terulur dan menghujamkan jarum *Nano-Regen* langsung ke pangkal paha Raka.
"Aris, jangan!" teriak Maya, tapi terlambat.
Cairan biru itu terhisap ma**k ke dalam tubuh digital Raka. Seketika, cahaya biru menjalar di sepanjang pembuluh darahnya yang terlihat transparan di balik kulit. Daging yang robek mulai menyatu, menutup dengan suara *hissing* yang aneh seperti daging yang dibakar. Napas Raka yang tadinya tersengal-sengal mendadak menjadi dalam dan lega. Warna mulai kembali ke wajahnya.
Aku terduduk lemas di sampingnya, membiarkan tabung kosong itu terjatuh dan berdenting di lant**. Napasku memburu. Maya menatapku dengan kebencian yang murni, tangannya mengepal keras di samping tubuh.
"Kau baru saja membunuh kita semua, Aris," ucap Maya dengan nada rendah yang bergetar karena marah. "Kau lebih memilih sentimen daripada kelangsungan hidup. Ingat kata-kataku, saat kita bertemu monster di koridor selanjutnya, jangan harap aku akan menolongmu."
Maya berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara kami bertiga. Gani hanya menunduk, tidak berani menatapku maupun Raka.
Aku menghela napas, mencoba menenangkan gemetar di tanganku. Raka memegang lenganku, memberikan remasan pelan sebagai tanda terima kasih. Namun, sebelum aku sempat membalasnya, sebuah notifikasi merah besar tiba-tiba muncul di tengah penglihatanku, menutupi pandangan.
*WARNING: RESOURCE DEPLETED. SYSTEM BALANCE DISTURBED.*
Di bawah pesan itu, sebuah penghitung waktu mundur muncul. Sepuluh menit. Dan di bawahnya lagi, sebuah kalimat yang membuat darahku membeku:
*ZERO-SUM RULE ACTIVATED: TOTAL SURVIVORS ALLOWED IN THE NEXT ZONE: 3.*
Kami berempat di ruangan ini. Dan sistem baru saja memberitahu bahwa hanya tiga dari kami yang bisa melangkah ke area berikutnya. Aku menoleh ke arah Maya yang berhenti di ambang pintu, dia rupanya juga melihat pesan yang sama. Dia menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada monster di balik matanya: niat untuk membunuh.
Suara geraman berat mulai terdengar dari kegelapan koridor di depan kami, namun ancaman yang paling nyata justru berada di dalam ruangan ini, menatapku dengan mata yang haus akan nyawa.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!