Jari-jari Raisa bergetar hebat saat ia mengarahkan kursor laptopnya ke arah folder tersembunyi yang baru saja ia salin dari kartu memori kamera mungil yang ia sembunyikan di balik tumpukan buku di rak. Lampu kamar ia padamkan, hanya menyisakan pendaran pucat dari layar monitor yang menerangi wajahnya yang pias. Udara di dalam kamar kos itu terasa berat, seolah dinding-dinding kayu di sekelilingnya sedang menghimpitnya perlahan.
Ia meneguk ludah, merasakan tenggorokannya yang kering dan perih. Di layar, rekaman video hitam putih itu menunjukkan sudut kamarnya yang statis. Jam digital di pojok kanan bawah layar menunjukkan pukul 10.15 pagi, waktu di mana ia biasanya sudah berada di kampus untuk kelas Psikologi Perkembangan.
"Ayo... siapa kamu..." bisiknya lirih, hampir tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.
Raisa mengeratkan pelukannya pada bantal di pangkuannya. Ia merasa sangat te*******, bukan hanya karena saat ini ia hanya mengenakan tanktop tipis berwarna abu-abu tanpa b**βpakaian "kebesaran" yang selalu membuatnya merasa bebas setelah seharian terbungkus hijab dan baju longgarβtapi karena ia tahu, dalam rekaman itu, privasi yang ia jaga mati-matian mungkin telah diinjak-injak.
Pada menit ke-04.12, gagang pintu kamarnya mulai bergerak. Raisa menahan napas. Suara *klik* yang halus terdengar dari speaker laptop, disusul dengan daun pintu yang terbuka perlahan. Seseorang melangkah ma**k dengan sangat tenang, seolah ia memiliki hak penuh atas ruangan itu.
Jantung Raisa berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia mencondongkan tubuh, matanya melebar, memindai sosok yang tertangkap kamera. Orang itu mengenakan topi dan jaket yang agak kedodoran, tapi postur tubuhnya tampak sangat familier.
Raisa sempat menduga Dimas, mahasiswa teknik yang tinggal dua kamar dari kamarnya, yang selama ini sering melempar tatapan aneh padanya di lorong. Atau mungkin Pak Danu, sang pemilik kos yang memang punya akses ke semua kunci. Namun, saat sosok di layar itu berbalik untuk menutup pintu, cahaya matahari dari celah jendela menyinari wajahnya dengan jelas.
Napas Raisa terhenti. Dunia seolah berhenti berputar.
"Pak... Pak Maman?"
Suara Raisa pecah. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pak Maman adalah penjaga kos yang sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun. Pria paruh baya itu dikenal sangat pendiam, sopan, dan sering membantu para penghuni kos memperbaiki kran bocor atau lampu yang mati tanpa pernah meminta imbalan lebih. Dia adalah sosok yang selama ini Raisa anggap paling tidak berbahaya. Sosok "bapak" yang selalu mengangguk sopan setiap kali Raisa berangkat kuliah.
Di dalam rekaman, Pak Maman tidak langsung mencuri barang berharga. Pria itu justru berjalan perlahan menuju tempat tidur Raisa. Dengan gerakan yang membuat perut Raisa mual, Pak Maman duduk di pinggiran ka**r. Ia mengusap permukaan sprei dengan telapak tangannya, lalu mendekatkan hidungnya ke bantal Raisa, menghirup aromanya dengan mata terpejam lama.
Raisa menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan pekikan jijik yang hendak meledak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa kotor. Ia merasa seolah tangan-tangan kasar pria itu sedang menyentuh kulitnya langsung saat ini juga.
Kejutan itu belum berakhir. Pak Maman kemudian berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian Raisa. Ia membukanya, jarinya menelusuri deretan baju-baju di sana hingga ia menarik keluar salah satu tanktop yang biasa Raisa gunakan saat bersant** sendirian. Pria itu memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara pemujaan dan obsesi yang gelap.
"Ya Tuhan..." tangis Raisa pecah tanpa suara. Bahunya berguncang hebat.
Ia teringat betapa seringnya ia merasa diawasi dari balik jendela, atau bagaimana barang-barangnya bergeser beberapa senti dari posisi semula. Ternyata pelakunya bukan orang luar yang merusak kunci, melainkan orang dalam yang memegang kunci cadangan dan memanfaatkan celah teknis kunci baru itu untuk memuaskan fantasi sakitnya.
Tiba-tiba, di dalam video, Pak Maman berhenti melakukan aksinya. Ia menoleh tepat ke arah kamera yang disembunyikan Raisa. Ekspresinya yang semula tenang berubah menjadi dingin dan datar. Matanya yang sayu seolah menatap langsung ke dalam jiwa Raisa melalui layar laptop. Pria itu menyeringai tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di rumah kos ini.
Raisa tersentak mundur hingga kursinya berderit nyaring di lant** keramik yang sepi. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia segera menutup laptopnya dengan kasar, tidak sanggup lagi melihat kelanjutan rekaman itu.
Suasana kamar yang gelap kini terasa mencekam. Setiap bayangan di sudut ruangan seolah berubah menjadi sosok Pak Maman yang sedang mengint**. Raisa memeluk lututnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Pikirannya kalut. Haruskah ia berteriak? Haruskah ia menelepon polisi? Tapi apa yang akan ia katakan? Jika polisi datang, mereka akan melihat rekaman ituβmereka akan melihat dirinya yang sedang tidak berhijab, melihat koleksi pakaian dalamnya, dan reputasi yang ia bangun susah payah di kampus sebagai mahasiswi teladan akan hancur seketika.
Di tengah kepanikannya, sebuah suara memecah kesunyian malam.
*Klek.*
Suara itu berasal dari pintu depannya. Suara logam yang bergesekan dengan lubang kunci. Seseorang sedang mencoba mema**kkan kunci dari luar.
Raisa membeku. Napasnya tercekat di kerongkongan. Ia menoleh ke arah pintu kayu kamarnya yang terkunci. Gagang pintu itu bergerak turun perlahan, sangat perlahan, seolah orang di baliknya sedang berusaha tidak menimbulkan suara.
"Mbak Raisa? Sudah tidur?"
Suara serak dan pelan itu terdengar dari balik pintu. Itu suara Pak Maman.
Raisa terpaku di tempatnya duduk. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat ia menyadari satu hal: ia tidak sedang menonton rekaman lagi. Teror itu sedang terjadi sekarang, di depan matanya. Kunci pintu kamarnya mulai berputar pelan, menandakan bahwa kunci yang dipegang Pak Maman benar-benar bisa membuka dunianya yang paling pribadi.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!