Tepi jilbab segi empat yang dikenakan Raisa terasa mencekik lehernya pagi ini, seolah-olah kain itu perlahan berubah menjadi jerat yang menyempitkan jalan napasnya. Di bawah terik matahari kampus yang menyengat, ia justru merasa kedinginan. Berkali-kali jemarinya merapikan lipatan kain di dadanya, memastikan tidak ada satu inci pun bagian tubuhnya yang terekspos, sebuah refleks defensif yang belakangan ini menjadi semakin obsesif.
"Raisa! Di sini!"
Suara melengking itu berasal dari Dinda, yang duduk di bangku beton bawah pohon ceri besar di samping kantin. Dinda adalah satu-satunya orang yang Raisa anggap c**up dekat untuk diajak bicara, meski saat ini, jarak antara ketakutan Raisa dan keceriaan Dinda terasa seperti jurang yang sangat lebar.
Raisa melangkah mendekat, mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu. Ia duduk di hadapan Dinda, mengabaikan es teh manis yang sudah dipesankan untuknya.
"Kamu pucat banget, Sa. Belum s****an?" Dinda mengerutkan kening, menatap sahabatnya dengan saksama.
Raisa menggeleng pelan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang berada dalam jangkauan pendengaran mereka. "Din, aku mau cerita sesuatu. Tapi tolong, jangan kasih tahu siapa-siapa dulu."
Dinda langsung mencondongkan tubuh, matanya berbinar karena rasa ingin tahu yang besar. "Kenapa? Soal asisten dosen yang kemarin itu?"
"Bukan," potong Raisa cepat. Suaranya gemetar. "Ini soal kosanku. Pemiliknya baru saja ganti semua kunci pintu kamar dengan model yang sama. Dan aku... aku menemukan sesuatu yang mengerikan."
Raisa meremas ujung tas kainnya. Pikirannya melayang kembali ke kejadian semalam, saat ia duduk di tepi tempat tidur hanya dengan mengenakan tanktop tipis, membiarkan kulitnya bernapas setelah seharian terbungkus pakaian tertutup. Saat itu, ia mendengar bunyi klik pelan dari arah pintu. Sangat halus, namun c**up untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kuncinya c****, Din," lanjut Raisa, suaranya nyaris berbisik. "Satu kunci bisa buka pintu kamar yang lain. Dan aku merasa... aku merasa ada yang pernah ma**k ke kamarku pas aku lagi di dalam."
Dinda terdiam sejenak, lalu tawa kecil lolos dari bibirnya. "Hah? Serius kamu? Masa sih kunci modern begitu bisa jebol cuma gara-gara satu kunci lain? Mungkin kamu salah dengar, Sa. Atau mungkin kamu lupa mengunci pintunya semalam."
"Aku nggak lupa, Din. Aku selalu cek tiga kali sebelum tidur," Raisa mendesak, rasa frustrasinya mulai naik ke permukaan. "Barang-barangku juga ada yang bergeser. Parfum di meja rias, posisi bantal... ada yang nggak beres."
Dinda menyesap minumannya, wajahnya kini menunjukkan ekspresi geli daripada khawatir. "Sa, kamu itu kan orangnya teliti banget, menjurus ke perfeksionis. Mungkin karena kamu lagi stres tugas akhir, kamu jadi sedikit... tahu kan, paranoid? Bisa saja itu cuma tikus, atau mungkin kamu sendiri yang menggesernya tanpa sadar."
"Ini bukan soal tikus!" Raisa hampir saja berteriak, namun ia segera menahan diri. Napasnya memburu. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia merasa sedang diint** dalam keadaan paling pribadinya. Bahwa ia merasa ada mata yang menatapnya saat ia melepas seluruh beban pakaian luarnya di balik pintu kamar yang ia anggap aman. Namun, lidahnya kelu. Bagaimana ia bisa menceritakan bagian itu? Bagaimana jika Dinda malah menghakiminya karena ia hanya memakai tanktop di dalam kamar? Di mata orang lain, Raisa adalah simbol kesantunan. Mengakui bahwa ia merasa terancam saat sedang "terbuka" terasa seperti menelanjangi dirinya sendiri di depan publik.
"Dengar ya, Sa," Dinda memegang tangan Raisa yang gemetar, mencoba menenangkan dengan nada menggurui. "Kalau emang ada yang mau ma**k, pasti mereka mau mencuri laptop atau HP-mu, kan? Buktinya barang berhargamu nggak ada yang hilang. Jadi, itu cuma perasaanmu saja. Kamu cuma butuh tidur lebih awal dan berhenti nonton film horor."
Raisa menarik tangannya perlahan. Rasa kecewa yang dingin menjalar di dadanya. Dinda tidak mengerti. Dinda tidak tahu rasanya kulit yang meremang karena merasa diperhatikan oleh kegelapan di balik lubang kunci. Dinda tidak tahu betapa rapuhnya rasa aman yang selama ini Raisa bangun dengan susah payah.
"Tapi kalau benar-benar ada orang yang punya kunci cadangannya dan dia ma**k tanpa niat mencuri barang... gimana?" tanya Raisa, suaranya parau.
Dinda memutar bola matanya sambil tersenyum tipis. "Sa, kamu itu cantik, tapi jangan terlalu drama. Siapa juga yang mau repot-repot ma**k ke kamar cuma buat melihat kamu tidur? Cowok-cowok di kosanmu itu kan kebanyakan mahasiswa culun atau pekerja kantoran yang sibuk. Mereka nggak bakal punya waktu buat aksi detektif-detektifan begitu."
Raisa terdiam. Kata-kata Dinda seharusnya menenangkan, namun justru terasa seperti isolasi. Ia merasa seolah-olah ia sedang berdiri di tengah keramaian, berteriak minta tolong, namun semua orang hanya lewat dan menganggap teriakannya adalah nyanyian belaka.
"Mungkin kamu benar," gumam Raisa akhirnya, menyerah. Ia tahu tidak ada gunanya melanjutkan pembicaraan ini. Dinda tidak akan pernah bisa melihat celah di balik kunci itu jika ia sendiri tidak pernah merasakan ketakutan yang sama.
"Nah, gitu dong! Nanti sore kita ke mal saja, cari suasana baru," ajak Dinda dengan semangat yang kembali pulih.
Raisa hanya memberikan senyum paksa. Pikirannya sudah terbang kembali ke kamar kosnya. Ia membayangkan pintu kayu itu, lubang kunci kecil yang kini tampak seperti mata predator yang menunggunya kembali. Ia harus menghadapi ini sendirian. Tidak ada yang bisa ia percaya.
Saat ia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang asing di dasar tas. Sesuatu yang keras dan dingin. Dengan jantung yang seakan berhenti berdetak, Raisa menarik benda itu keluar.
Itu adalah sebuah baut kecil yang tampak baru, persis seperti baut yang digunakan untuk memasang gagang pintu model baru di kosnya.
Raisa tertegun. Bagaimana benda itu bisa ada di dalam tasnya? Ia tidak pernah menyentuh perkakas apa pun. Rasa mual mendadak menghantam lambungnya. Seseorang tidak hanya ma**k ke kamarnya, tapi seseorang sudah mulai menyentuh barang-barang pribadinyaβbahkan tas yang ia bawa ke kampus hari ini.
Pandangan Raisa mulai kabur saat ia menyadari satu hal yang mengerikan: orang itu tidak hanya mengint**nya dari luar. Orang itu mungkin sedang berada sangat dekat dengannya, memperhatikan reaksinya saat ini dari suatu tempat di antara kerumunan mahasiswa di kantin ini.
"Sa? Kenapa lagi?" tanya Dinda, menyadari perubahan ekspresi Raisa yang mendadak pucat pasi.
Raisa tidak menjawab. Ia hanya menggenggam baut itu erat-erat hingga ujungnya menusuk telapak tangannya, matanya liar menyapu sekeliling, mencari sosok yang mungkin sedang tersenyum puas melihat ketakutannya. Di tengah riuhnya kantin, Raisa merasa benar-benar terkunci dalam terornya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!