Layar laptop di hadapanku menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar yang temaram. Intensitas radiasinya membuat mataku perih, tetapi aku tidak berani berkedip lebih dari sedetik. Di sudut kanan atas layar, kotak kecil menampilkan rekaman *real-time* dari kamera tersembunyi yang kuselipkan di antara tumpukan buku di rak. Sudut pandangnya mengarah tepat ke pintu kayu yang selama ini kupikir adalah benteng pertahananku.
Aku menghela napas panjang, merasakan udara dingin dari kipas angin menyentuh kulit bahuku yang terbuka. Seperti biasa, begitu pintu terkunci dari dalam, aku menanggalkan identitas "Raisa yang santun" bersama jilbab dan gamis panjangku. Sekarang, aku hanya mengenakan tanktop katun tipis tanpa b**. Rasa sesak yang menghimpit dadaku sepanjang hari di kampus menguap, digantikan oleh kebebasan fisik yang hanya bisa kunikmati di ruangan berukuran tiga kali empat meter ini. Namun, kebebasan itu kini terasa getir. Ada rasa waswas yang merayap di tengkukku, seperti ribuan semut tak kasat mata.
Tiba-tiba, bayangan bergerak di layar. Jantungku mencelos, berdegup kencang hingga denyutnya terasa sampai ke pangkal lidah.
Seseorang berdiri di koridor luar. Sosok itu hanya terlihat sebagian, terpotong oleh sudut pandang kamera yang terbatas. Hanya siluet bahu dan lengan yang dibalut jaket gelap. Orang itu berhenti tepat di depan pintuku. Aku menahan napas, tanganku mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jariku memutih. Apakah dia akan mencoba kunci itu lagi? Apakah dia tahu bahwa kunci kamar 204 juga bisa membuka kamarku?
Di layar, sosok itu bergerak mendekat ke arah kamera. Aku membeku. Kepalanya miring ke samping, seolah sedang mempelajari sesuatu yang janggal di antara celah buku-buku. Mataku membelalak saat melihat tangan orang itu terangkat, jarinya menunjuk tepat ke arah lensa kecil yang kusembunyikan dengan susah payah.
Dia tahu.
Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Detik berikutnya, wajah itu mendekat, menutupi seluruh layar hingga yang tersisa hanya kegelapan yang blur. Kemudian, layar laptopku berubah menjadi statis. *Connection Lost.*
"Tidak, tidak, tidak..." bisikku panik. Jemariku gemetar hebat saat mencoba me-*refresh* aplikasi pemantau itu, tetapi nihil. Koneksi terputus total.
Tepat saat aku hendak berdiri untuk menyambar ponsel, suara *ceklek* kecil terdengar dari arah luar. Bukan dari pintuku, melainkan dari kotak sekring di ujung lorong.
*Pet!*
Kegelapan pekat menelan segalanya. Kipas angin yang semula berderu pelan berhenti mendadak, menyisakan kesunyian yang mencekam. Laptopku, yang baterainya memang sudah sekarat, memberikan peringatan merah terakhir sebelum layarnya mati sepenuhnya. Sekarang, aku benar-benar buta.
Aku terduduk kaku di kursi, tidak berani bergerak sedikit pun. Suasana kos yang biasanya bising dengan suara kendaraan dari jalan raya, malam ini terasa sepi seolah-olah dunia telah berhenti berputar. Dalam kegelapan ini, indra pendengaranku menjadi jauh lebih tajam.
*Tap. Tap. Tap.*
Langkah kaki itu pelan, sengaja diseret agar tidak menimbulkan gema yang mencolok. Namun di telingaku, suara itu terdengar seperti dentum martil yang menghantam lant** kayu. Langkah itu mendekat. Berhenti tepat di balik pintuku.
Keringat dingin mulai membasahi punggungku, membuat tanktop yang kukenakan terasa lengket dan tidak nyaman. Aku tersadar dengan rasa ngeri yang baru: aku sedang dalam kondisi setengah te*******. Jika orang di luar sana berhasil ma**k, aku tidak hanya akan menghadapi penyusup, tapi aku juga akan terekspos dalam keadaan yang paling memalukan. Reputasiku, citra hijabku di kampus, semua yang kujaga dengan susah payah, bisa hancur dalam semalam hanya karena satu kunci si****.
Aku merayap turun dari kursi, mencoba bergerak tanpa suara menuju lemari pakaian. Aku harus mencari pakaian, apa saja, untuk menutupi tubuhku. Namun, dalam kegelapan yang total, aku kehilangan orientasi. Tanganku meraba udara, mencoba mencari pinggiran tempat tidur, tetapi justru menyenggol botol minum di atas meja.
*Prang!*
Botol itu jatuh dan menggelinding di lant** keramik. Suaranya meledak di tengah kesunyian.
Aku membeku, menutup mulut dengan kedua tangan untuk meredam isak tangis yang hampir pecah. Di luar sana, suara langkah kaki itu berhenti. Keheningan yang mengikuti terasa jauh lebih mengintimidasi daripada suara langkah tadi. Aku bisa membayangkan orang itu berdiri di sana, menempelkan telinganya ke daun pintu, mendengarkan setiap gerak-gerikku, menikmati ketakutanku.
Lalu, terdengar suara logam beradu. Pelan, sangat pelan. Seseorang mema**kkan sesuatu ke dalam lubang kunci pintuku.
*Kriet...*
Gagang pintuku bergerak turun perlahan-lahan. Aku mundur hingga punggungku menab**k dinding dingin. Mataku berusaha menembus kegelapan, mencari-cari siluet pintu yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Celah itu melebar, membiarkan sedikit cahaya pucat dari lampu darurat di lorong menyelinap ma**k, membentuk garis vertikal yang membelah kegelapan kamarku.
Garis cahaya itu kini jatuh tepat di kakiku yang gemetar.
"Siapa di sana?" suaraku keluar hanya dalam bentuk bisikan parau yang malang.
Pintu itu berayun terbuka sepenuhnya. Seorang pria berdiri di sana, wajahnya tertutup bayangan karena cahaya berasal dari punggungnya. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri diam, memegang sebuah kunci di tangan kanannya, sementara matanya menyisir seluruh isi kamarku hingga akhirnya berhenti tepat pada sosokku yang meringkuk di sudut, tanpa perlindungan, tanpa pakaian yang layak.
Pria itu melangkah ma**k dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi *klik* yang final. Kami kini berdua di dalam kegelapan yang sempurna.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!