Udara malam di dalam kamar kos itu terasa begitu menyesakkan, seolah-olah dinding-dinding semen yang mengelilingi Raisa perlahan menyempit. Raisa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Hal pertama yang ia lakukan setelah mengunci pintu adalah melepas jilbab dan kemeja gerahnya. Dengan gerakan yang sudah menjadi ritual kebebasan, ia membiarkan pakaian luar itu teronggok di atas kursi belajar, menyisakan dirinya yang hanya mengenakan tanktop hitam tipis tanpa b**.
Hanya di sini, di ruang berukuran tiga kali empat ini, ia tidak perlu menjadi "Raisa yang santun" atau "Raisa yang anggun." Di sini, ia hanya seorang perempuan yang ingin bernapas tanpa lilitan kain dan tekanan ekspektasi.
Raisa duduk di tepi ranjang, jemarinya memijat tengkuk yang kaku. Namun, perasaan tidak nyaman itu kembali muncul. Perasaan seperti ada sepasang mata yang menembus celah udara di atas pintu, atau mungkin bersembunyi di balik lemari. Ia melirik ke arah pintu kayu bercat putih yang baru saja diganti kuncinya oleh pemilik kos seminggu lalu. Kunci perak itu tampak kokoh, namun Raisa tahu rahasia gelap di baliknya: kunci itu c****.
*Klek.*
Suara itu sangat halus, hampir tenggelam oleh deru kipas angin tua di sudut kamar. Jantung Raisa seakan berhenti berdetak. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya.
*Klek... sret.*
Itu suara logam yang bergesekan dengan logam. Seseorang sedang mema**kkan kunci ke lubang pintunya dari luar.
"Siapa?" suara Raisa bergetar, nyaris tidak keluar dari tenggorokannya.
Tidak ada jawaban. Gagang pintu perlahan bergerak turun. Raisa terpaku, matanya terbelalak menatap benda logam itu berputar dengan pasti. Pikirannya berpacuβapakah ia lupa mengunci pintu? Tidak, ia ingat jelas suara grendel yang ma**k ke bingkai pintu tadi.
Pintu itu terbuka. Perlahan, namun pasti.
Cahaya temaram dari koridor ma**k ke kamarnya, membentuk siluet tinggi seorang pria. Raisa tersentak mundur hingga punggungnya menab**k tembok dingin. Refleks pertamanya adalah menyilangkan tangan di depan dada, menyadari betapa terbuka dan rentannya ia saat ini.
"Andra?" bisik Raisa saat mengenali wajah salah satu penghuni kos di lant** dua itu. Pria yang biasanya tampak pendiam dan sopan itu kini berdiri di sana, memegang sebuah kunci perak yang identik dengan miliknya.
"Ternyata benar," suara Andra terdengar rendah, serak, dan penuh dengan nada yang membuat bulu kuduk Raisa berdiri. "Kunciku bisa membuka pintumu. Aku sudah mencobanya tiga kali saat kau sedang di kampus, tapi melihatmu langsung seperti ini... jauh lebih baik."
"Keluar! Pergi dari sini!" Raisa berteriak, suaranya pecah karena ketakutan. Ia meraih bantal, mencoba menutup tubuhnya, namun rasa malu itu seketika kalah oleh insting bertahan hidup saat Andra melangkah ma**k dan menutup pintu di belakangnya.
Suara kunci yang diputar dari dalam membuat Raisa tersadar bahwa ia kini terperangkap.
"Jangan berteriak, Raisa. Kau tahu kan apa yang akan dipikirkan orang-orang jika mereka melihatmu dalam kondisi seperti ini dengan pria di dalam kamar? Reputasimu... citra mahasiswi teladanmu..." Andra menyeringai, matanya menelusuri bahu polos Raisa dengan tatapan lapar yang menjijikkan.
"Jangan mendekat!" Raisa menyambar lampu belajar di atas meja kecilnya. Tangannya gemetar hebat hingga kabel lampu itu ikut bergoyang.
Andra tidak berhenti. Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa kering yang kosong. "Kau pikir aku akan takut dengan lampu itu? Aku sudah memperhatikanmu lewat celah kunci selama berbulan-bulan. Aku tahu setiap inci rutinitasmu."
Saat pria itu menerjang, Raisa tidak sempat berpikir lagi. Ia mengayunkan lampu belajar itu sekuat tenaga. *Prang!* Bohlamnya pecah berkeping-keping saat menghantam bahu Andra, tapi itu tidak c**up untuk menjatuhkannya. Andra justru berhasil mencengkeram pergelangan tangan Raisa, memelintirnya hingga Raisa m****ik kesakitan dan menjatuhkan senjatanya.
Tubuh mereka bertab**kan. Raisa bisa merasakan panas tubuh pria itu dan bau rokok yang menyengat dari napasnya. Ia meronta, menendang-nendang dengan kaki te*******, sementara tangan Andra mulai meraba punggungnya yang licin karena keringat dingin.
"Lepaskan! Tolong!" Raisa menjerit, mengabaikan rasa malunya. Pers**** dengan reputasi, ia tidak ingin mati atau dilecehkan di kamar ini.
Tangan kasar Andra membekap mulut Raisa, menekan kepalanya ke bantal. Raisa merasa oksigen mulai menipis. Pandangannya mulai mengabur, namun kemarahan yang luar biasa tiba-tiba membakar dadanya. Ia tidak boleh kalah. Tidak di tempat yang ia sebut sebagai satu-satunya ruang amannya.
Dengan sisa tenaga, Raisa meraih ke arah meja belajar, jemarinya meraba-raba mencari apa saja. Gunting kecil yang biasa ia gunakan untuk memotong label baju. Ujung jarinya menyentuh logam dingin itu.
*Jleb.*
Andra mengerang keras, cengkeramannya di mulut Raisa mengendur. Raisa telah menghujamkan gunting itu ke lengan atas Andra. Pria itu mundur selangkah, menatap lengannya yang mulai mengeluarkan darah dengan ekspresi tidak percaya.
Raisa terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Rambutnya berantakan, tanktopnya sedikit melorot, tapi matanya memancarkan tekad yang gelap. Ia berdiri di atas ranjang, memegang gunting yang kini berlumuran darah.
"Keluar," desis Raisa, suaranya kini terdengar seperti ancaman mematikan.
Namun, alih-alih lari karena takut, ekspresi Andra berubah dari terkejut menjadi amarah yang murni. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Pria itu bukannya mundur ke arah pintu, ia justru meraih kunci pintu yang masih menempel dan mencabutnya, lalu melemparkan benda logam itu ke kolong lemari yang gelap dan sempit.
"Sekarang," ujar Andra sambil menyeka darah di lengannya, "tidak ada satupun dari kita yang bisa keluar sampai aku selesai denganmu."
Raisa menatap ke arah kolong lemari, lalu ke arah Andra yang kini bersiap untuk menerjang kembali dengan jauh lebih beringas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging, menyadari bahwa ia baru saja memulai sebuah pertarungan yang mungkin tidak akan bisa ia menangkan sendirian.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!