Jantung Raisa berdentum begitu keras hingga ia bisa merasakan denyutnya di pangkal tenggorokan. Oksigen seolah menghilang dari kamar yang selama ini ia anggap sebagai tempat persembunyian paling aman. Di depannya, bayangan siluet itu bergerak mendekat, memanfaatkan kegelapan yang hanya diterangi sedikit cahaya remang dari lampu jalan di luar jendela. Raisa tahu, jika ia tidak bergerak sekarang, ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi.
Tangannya yang gemetar meraba-raba meja nakas, jemarinya menyentuh permukaan kayu yang dingin sampai ia merasakan benda tumpul yang beratβlampu tidur keramiknya. Tanpa berpikir dua kali, ia mengayunkan benda itu sekuat tenaga ke arah sosok di depannya.
*Prang!*
Suara keramik pecah beradu dengan erangan kesakitan yang berat. Raisa tidak menunggu untuk melihat siapa korbannya. Ia melonjak dari tempat tidur, kakinya yang te******* menapak lant** dingin dengan hentakan yang menyakitkan. Ia berlari menuju pintu, tangan kanannya meraih gagang pintu sementara tangan kirinya secara refleks mencoba menutupi dadanya yang hanya terbalut kain tipis *tanktop*.
Pintu itu terbuka dengan sentakan kasar. Raisa terlempar ke lorong kos yang remang-remang. Dinginnya udara malam langsung menusuk kulit bahunya yang terbuka, namun rasa dingin itu kalah telak oleh rasa panas yang menjalar di wajahnya. Ia sadar sepenuhnyaβsaat ini, ia hanya mengenakan *tanktop* hitam ketat tanpa b**, pakaian yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik jilbab lebar dan tunik longgarnya.
"Tolong! Tolong ada orang di kamar saya!" teriaknya. Suaranya pecah, serak karena ketakutan yang mencekik.
Raisa terus berlari ke tengah lorong, ke area yang lebih terang. Ia tidak peduli lagi dengan rasa malu yang biasanya akan membuatnya pingsan. Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Ia berteriak lagi, lebih keras, hingga tenggorokannya terasa panas. "Tolong! Tolong saya!"
Satu pintu terbuka. Dina, penghuni kamar sebelah yang selalu terlihat sinis, muncul dengan wajah mengantuk yang seketika berubah menjadi syok. Tak lama kemudian, pintu-pintu lain ikut terbuka. Langkah kaki berderap di atas lant** kayu lorong itu.
"Raisa? Ada apaβ" Kalimat Dina menggantung di udara. Matanya membelalak, menyapu tubuh Raisa dari bahu hingga pinggang.
Raisa bisa merasakan tatapan itu. Bukan hanya dari Dina, tapi juga dari dua penghuni pria dari lant** bawah yang berlari naik karena mendengar keributan. Ada Mas Doni, pria paruh baya yang bekerja di bank, dan anak kuliahan berambut gondrong yang namanya tidak ia ketahui. Mereka semua mematung, menatap Raisa yang berdiri gemetar di tengah lorong.
Dunia seolah melambat. Raisa melihat tatapan bingung yang dengan cepat berubah menjadi tatapan menilai. Ia tahu apa yang mereka pikirkan. *Raisa si anak santun? Raisa yang selalu berhijab rapi itu? Kenapa dia berpakaian seperti itu?*
Namun, rasa takut akan sosok di dalam kamarnya jauh lebih besar daripada hancurnya reputasi yang selama ini ia jaga mati-matian. Raisa menunjuk ke arah pintunya yang masih terbuka sedikit dengan jari yang tidak bisa berhenti bergetar. "Ada... ada orang di dalam. Dia ma**k pakai kunci... dia mau menyerang saya!"
"Siapa?" Mas Doni bertanya, suaranya berat dan waspada. Ia segera melangkah menuju kamar Raisa, sementara si cowok gondrong mengikutinya dengan ragu-ragu.
Dina mendekati Raisa, tapi tidak untuk memeluk atau menenangkan. Ia hanya berdiri satu meter jauhnya, menyilangkan tangan di dada sambil terus memandangi penampilan Raisa. "Kamu... kamu oke, Rai?" tanyanya dengan nada yang sulit diartikanβantara kasihan dan menghakimi.
Raisa tidak menjawab. Ia mendekap lengannya sendiri, mencoba menutupi bagian tubuhnya yang paling terekspos, tapi kain *tanktop* itu terlalu minim untuk menyembunyikan segalanya. Ia merasa te******* di bawah lampu neon lorong yang berkedip-kedip. Ia merasa kotor, seolah semua orang kini memiliki kunci untuk melihat bagian paling pribadinya, sama seperti si penyusup yang memiliki kunci untuk ma**k ke kamarnya.
Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari dalam kamarnya. Suara kaca jendela yang digeser paksa dan bunyi benda jatuh.
"Woi! Berhenti!" teriak Mas Doni dari dalam.
Raisa tersentak. Ia ingin lari sejauh mungkin, keluar dari gedung ini, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke lant**. Air mata mulai mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Ia melihat Mas Doni keluar dari kamar dengan napas terengah-engah.
"Dia kabur lewat jendela belakang. Loncat ke atap sebelah," lapor Mas Doni. Ia menoleh ke arah Raisa, lalu dengan cepat membuang muka, seolah merasa tidak sopan melihat Raisa dalam kondisi seperti itu. "Kita harus lapor polisi. Raisa, kamu pakai baju yang lebih... yang lebih tertutup dulu."
Dina akhirnya bergerak. Ia mendengus pelan, lalu ma**k ke kamarnya sendiri dan keluar membawa sebuah kardigan rajut yang agak kusam. Ia melemparkannya ke arah Raisa. "Pakai ini. Malu dilihat orang."
Raisa menangkap kardigan itu dengan tangan gemetar. Ia segera memakainya, mengancingkannya hingga ke leher seolah pakaian itu adalah baju zirah yang bisa melindunginya dari tatapan dunia. Namun, meskipun kulitnya sudah tertutup, rasa malu itu tetap merayap di bawah pori-porinya. Sesuatu telah pecah malam ini, dan itu bukan sekadar lampu tidur keramiknya.
"Aku akan panggil Pak RT," ujar Mas Doni sambil mulai menuruni tangga.
Saat lorong mulai sedikit tenang, Raisa memberanikan diri melangkah kembali ke ambang pintu kamarnya. Ia tidak ma**k, hanya berdiri di sana, menatap kekacauan di dalamnya. Spreinya berantakan, lampu tidurnya hancur berkeping-keping di lant**.
Namun, matanya tertuju pada satu hal yang tidak seharusnya ada di sana. Di atas meja belajarnya, tepat di samping tumpukan buku kuliahnya, tergeletak sebuah benda kecil yang mengkilap di bawah cahaya lampu jalan.
Sebuah kunci. Kunci cadangan dengan gantungan berbentuk huruf 'R' yang seharusnya berada di dalam laci terkunci miliknya.
Raisa melangkah maju, mengabaikan peringatan di kepalanya. Ia mengambil kunci itu dan menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku. Kunci itu tidak sendirian. Di bawahnya, ada selembar kertas kecil yang terlipat rapi dengan tulisan tangan yang ia kenali.
*Aku suka kamu yang seperti ini. Jangan pernah berubah.*
Raisa meremas kertas itu, napasnya kembali memburu. Teror ini ternyata bukan sekadar tentang seseorang yang menemukan celah pada kunci pintu, melainkan tentang seseorang yang sudah lama memiliki kunci menuju setiap rahasia yang ia simpan. Ia menoleh ke arah koridor yang sepi, menyadari bahwa salah satu dari orang-orang yang baru saja menolongnya mungkin adalah orang yang baru saja mencoba menghancurkannya.
Pintu kamar Dina tertutup dengan bunyi berdebam yang keras, membuat Raisa melonjak. Ia menatap deretan pintu kamar di lorong itu, satu per satu, menyadari bahwa di balik setiap kayu yang tertutup, ada mata yang mungkin sedang mengint**nya melalui lubang kunci. Dan kali ini, ia tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!