Lampu neon di ruangan unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) itu berkedip ritmis, menyebarkan bunyi dengung halus yang entah mengapa terasa seperti jarum yang menusuk gendang telinga Raisa. Ia duduk tegak di kursi kayu yang keras, jemarinya bertaut erat di atas pangkuan, meremas pinggiran rok panjangnya hingga kainnya kusut. Di depannya, selembar berita acara pemeriksaan (BAP) tergeletak, menunggu goresan tanda tangannya sebagai pernyataan penutup.
"Anda sudah melakukannya dengan sangat baik, Mbak Raisa," ujar Polwan di hadapannya, Ibu Lastri, dengan suara yang lembut namun tegas. "Tersangka sudah mengakui bahwa dia menggunakan kunci duplikat c**** itu untuk ma**k ke kamar Anda lebih dari sepuluh kali. Rekaman dari kamera tersembunyi yang Anda pasang menjadi bukti yang tidak bisa dibantah."
Raisa menelan ludah yang terasa kering. Bayangan saat ia melihat sosok bayangan di balik celah kunci, atau saat ia menyadari posisi botol parfumnya bergeser beberapa senti, kembali berkelebat. Setiap kali ia menutup mata, ia seolah bisa merasakan hawa dingin dari pintu yang terbuka pelan saat ia sedang terlelap, hanya mengenakan pakaian yang selama ini ia anggap sebagai simbol kebebasannya.
"Apakah... apakah dia akan lama dipenjara?" suara Raisa bergetar, nyaris seperti bisikan.
"Dengan pasal berlapis, terma**k pelanggaran privasi dan pelecehan secara non-fisik, kami akan memastikan proses hukumnya berjalan maksimal," jawab Lastri. Ia mengangsurkan sebuah pulpen. "Keberanian Anda melapor telah menyelamatkan penghuni kos lain yang mungkin tidak menyadari bahwa mereka juga menjadi korban."
Raisa mengambil pulpen itu. Tangannya gemetar saat menggoreskan tanda tangan. Ada rasa lega yang menghantam dadanya, namun di saat yang sama, ia merasa seperti baru saja menelanjangi ketakutannya di depan dunia. Selama ini, ia adalah Raisa yang santun, yang berhijab rapat, yang selalu berusaha menyenangkan semua orang. Namun sekarang, semua orang tahu bahwa di balik pintu kamar kosnya, ia hanyalah seorang gadis rapuh yang terobsesi dengan privasi hingga ke titik paranoid.
***
Tiga hari kemudian, Raisa berdiri di ambang pintu kamar kos lamanya untuk terakhir kali. Kamar itu sudah kosong. Hanya ada bekas-bekas debu di lant** tempat lemari bajunya dulu berdiri. Ia menatap lubang kunci yang menjadi pangkal segala terornya. Lubang kecil yang tampak tidak berbahaya, namun telah menjadi mata yang mengintip ke dalam jiwanya.
"Raisa, barang-barangnya sudah ma**k ke mobil semua?" suara Ibu Kos terdengar dari lorong.
Wanita paruh baya itu mendekat dengan wajah penuh penyesalan. "Ibu benar-benar minta maaf, Nak. Ibu tidak tahu kalau kontraktor kunci itu memberikan produk gagal. Kalau saja Ibu lebih teliti..."
Raisa berbalik. Dulu, ia pasti akan tersenyum paksa dan mengatakan "tidak apa-apa" hanya agar Ibu Kos tidak merasa bersalah. Tapi sekarang, Raisa hanya menatapnya dengan pandangan datar.
"Kenyamanan saya bukan sekadar tentang pintu yang terkunci, Bu," kata Raisa pelan namun penuh penekanan. "Ini tentang kepercayaan yang rusak. Saya membayar untuk rasa aman, bukan untuk menjadi tontonan."
Ibu Kos terdiam, kehilangan kata-kata. Raisa melangkah pergi tanpa menoleh lagi, membawa tas punggungnya dan menutup pintu itu dengan bunyi dentum pelan.
Perjalanan menuju tempat tinggal barunya terasa seperti perjalanan menuju kehidupan yang berbeda. Ia tidak lagi memilih kos-kosan murah dengan sistem kunci mekanis konvensional. Kali ini, ia menyewa sebuah unit apartemen studio di lant** dua belas. Harganya jauh lebih mahal, mengharuskannya mengambil kerja sampingan sebagai penerjemah lepas lebih banyak lagi, tapi bagi Raisa, harga itu sebanding dengan ketenangan batinnya.
Saat tiba di depan pintu unit barunya, Raisa tidak mengeluarkan kunci logam. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu akses digital berwarna putih polos. Ia menempelkan kartu itu ke panel hitam di pintu.
*Beep.*
Suara kunci elektronik yang terbuka terdengar solid dan modern. Tidak ada lubang kunci di sini. Tidak ada celah di mana seseorang bisa mengintip atau mema**kkan kunci duplikat yang salah produksi. Setelah ma**k, pintu itu otomatis terkunci dengan suara mekanis yang mantap. *Klik.*
Raisa menyandarkan punggungnya ke daun pintu yang dingin. Ia mengembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang telah menggumpal di bahunya selama berbulan-bulan. Ruangan itu masih berbau cat baru dan pembersih lant**. Sinar matahari sore ma**k melalui jendela besar yang menghadap ke arah kota, memberikan nuansa emas yang hangat.
Perlahan, tangannya bergerak ke lehernya. Ia melepas peniti hijabnya satu per satu, membiarkan kain itu jatuh ke bahunya. Kemudian, ia melepas tunik panjangnya hingga menyisakan tanktop tipis yang selama ini menjadi rahasianya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa was-was. Ia tidak melirik ke arah pintu dengan perasaan terancam.
Ia berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Ia melihat bayangan dirinya; seorang wanita yang memiliki memar emosional, namun masih berdiri tegak. Ia menyentuh permukaan cermin, menatap matanya sendiri yang kini tampak lebih berani.
"Ini hakku," bisiknya pada pantulan dirinya. "Keamanan ini... bukan kemewahan. Ini hakku."
Ia berjalan menuju jendela, melihat kemacetan kota di bawah sana. Di apartemen ini, sistem keamanannya berlapis. Kartu akses hanya bisa digunakan untuk lant** tempatnya tinggal. Kamera CCTV memantau setiap sudut lorong secara profesional, bukan secara sembunyi-sembunyi untuk tujuan mesum.
Raisa merebahkan tubuhnya di atas ka**r yang masih polos tanpa sprei. Ia menatap langit-langit, menikmati kesunyian yang murni. Namun, saat ia mulai memejamkan mata, sebuah notifikasi muncul di ponselnya.
Itu adalah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
*βTempat baru yang bagus, Raisa. Tapi apakah kartu digital benar-benar bisa mengunci kenangan?β*
Jantung Raisa seolah berhenti berdetak. Ia bangkit berdiri dengan sentakan kasar, napasnya memburu. Ia menatap pintu apartemennya yang kokoh. Secara fisik, tidak ada yang bisa ma**k. Tapi pesan itu membuktikan satu hal yang mengerikan: seseorang masih mengawasinya dari kejauhan, dan dinding beton sedalam apa pun tidak bisa menghalangi teror yang kini telah berpindah ke ruang digital.
Tangannya gemetar saat ia mencoba membalas pesan itu, namun jarinya kaku. Di luar, langit mulai menggelap, dan bayangan gedung-gedung tinggi mulai memanjang, seolah merayap ma**k ke dalam kamarnya yang seharusnya aman.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!