Celah di Balik Kunci

Bab 2: Bab 2 - Pemilik kos mengganti kunci semua kamar dengan ...

Pengaturan Membaca

Udara panas Jakarta seolah ikut menyelinap ma**k ke dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu, meskipun kipas angin di sudut ruangan sudah berputar pada kecepatan maksimal. Raisa menghela napas panjang, sebuah embusan yang membawa serta beban sosiologi hukum yang baru saja ia pelajari di kampus. Tangan kanan Raisa bergerak lincah melepas jarum pentul yang menyematkan hijabnya, lalu meletakkan kain sifon itu dengan hati-hati di atas meja belajar.

Rasa lega yang luar biasa menjalar di leher dan pundaknya. Seolah-olah beban sepuluh kilogram baru saja diangkat dari kepalanya. Rambut hitamnya yang sebahu, yang sepanjang hari terikat rapi, kini ia biarkan tergerai bebas. Tanpa menunggu lama, ia melepas tunik katun dan celana kainnya yang terasa menjepit kulit, menyisakan selembar tanktop katun tipis berwarna abu-abu. Tanpa b**, tanpa tekanan. Di ruang sempit inilah, satu-satunya tempat di dunia ini di mana Raisa tidak perlu berpura-pura menjadi mahasiswi teladan yang anggun. Di sini, ia hanya Raisaβ€”perempuan yang ingin bernapas lega.

Baru saja ia hendak merebahkan punggung di ka**r, suara ketukan keras di pintu kayu kamarnya membuat Raisa tersentak.

"Neng Raisa? Ini Pak Haji," suara berat dan serak milik pemilik kos terdengar dari balik pintu.

Raisa mengerutkan kening. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia segera menyambar daster panjang yang tergantung di balik pintu dan memakainya dengan terburu-buru, memastikan semua bagian tubuhnya tertutup rapat sebelum membuka kunci.

"Iya, Pak? Sebentar," sahut Raisa sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Saat pintu terbuka, Pak Haji berdiri di sana bersama seorang pria paruh baya yang membawa tas perkakas. Di tangan Pak Haji, sebuah kotak kecil berisi silinder kunci berbahan krom mengkilap tampak kontras dengan tangannya yang keriput.

"Maaf ganggu istirahatnya, Neng. Ini, Bapak mau ganti semua kunci kamar. Biar seragam dan lebih aman katanya. Kunci-kunci lama itu sudah banyak yang mulai dol," ujar Pak Haji dengan senyum ramah yang biasanya menenangkan, namun kali ini entah mengapa membuat Raisa merasa terusik.

"Ganti kunci, Pak? Tapi kunci saya masih bagus kok, nggak pernah macet," Raisa mencoba berargumen halus. Ia tidak suka ada orang asing ma**k ke dalam dunianya, apalagi saat ia sedang dalam mode sant**nya.

"Oh, nggak bisa satu-satu, Neng. Harus semua. Ini kunci model baru, lebih modern. Cuma sebentar kok, si Mang ini sudah ahli," Pak Haji memberi isyarat pada tukang kunci di sampingnya untuk ma**k.

Raisa terpaksa mundur, memberi ruang bagi pria asing itu. Ia berdiri di sudut kamar, memeluk lengannya sendiri, merasa canggung. Ia melihat bagaimana si tukang mulai melepas baut-baut kunci lamanya yang berbahan kuningan solid. Kunci lama itu berat dan berwibawa, butuh tenaga ekstra untuk memutarnya, memberikan rasa aman setiap kali suara *klik* yang mantap terdengar.

"Nah, beres satu!" seru si tukang setelah sekitar sepuluh menit bekerja. Ia mema**kkan silinder kunci baru yang tampak jauh lebih ringan dan tipis dibandingkan yang lama.

Pak Haji memberikan dua anak kunci baru yang masih berkilau perak kepada Raisa. "Ini kuncinya, Neng. Dicoba dulu."

Raisa menerimanya. Logam itu terasa dingin, namun bobotnya terasa salah di telapak tangannya. Terlalu ringan, hampir seperti mainan. Saat ia mema**kkan kunci itu ke dalam lubangnya, tidak ada perlawanan. Kunci itu berputar dengan sangat mulusβ€”terlalu mulus hingga terasa ringkih. Tidak ada suara *ceklek* yang dalam dan solid seperti sebelumnya. Hanya suara denting logam tipis yang beradu.

"Kok rasanya agak... longgar ya, Pak?" tanya Raisa, mencoba memutar kunci itu berulang kali. Perasaan tidak enak mulai merayap di tengkuknya.

"Ah, itu mah karena masih baru, Neng. Jadi licin, belum ada karatnya. Justru enak kan, nggak usah pakai tenaga?" Pak Haji tertawa kecil, menganggap kekhawatiran Raisa hanyalah angin lalu.

"Tapi ini nggak sekuat yang lama, Pak. Kelihatannya ringkih," Raisa mencoba meyakinkan, namun suaranya tenggelam saat Pak Haji sudah berbalik menuju kamar sebelah untuk melanjutkan pekerjaan serupa.

"Tenang saja, Neng. Aman itu. Bapak beli ini satu paket besar buat semua kamar, kualitas standar pabrik!" seru Pak Haji dari lorong.

Setelah pintu ditutup kembali, Raisa berdiri terpaku di depan pintunya. Ia mencoba mengunci pintu dari dalam. Kembali, putaran kuncinya terasa begitu enteng, seolah-olah mekanisme di dalamnya hanya terdiri dari lempengan logam tipis yang bisa patah kapan saja jika didorong dengan paksa.

Raisa mendekatkan telinganya ke pintu. Ia bisa mendengar suara bor dari kamar sebelah, lalu kamar sebelahnya lagi. Gedung kos ini biasanya sepi, namun sore ini suara logam yang beradu dan tawa kecil para tukang membuat suasana terasa asing.

Ia kembali ke tempat tidur, namun rasa nyamannya telah menguap. Raisa melirik ke arah pintu. Meskipun pintu itu terkunci, ia merasa seolah-olah penghalang antara dirinya dan dunia luar kini menjadi jauh lebih tipis. Ia teringat kembali pada saat-saat ia hanya mengenakan tanktop, merasa bebas sepenuhnya. Apakah kunci setipis itu bisa benar-benar melindunginya?

Ia meraih kunci barunya di atas meja. Ia memperhatikannya dengan teliti di bawah lampu kamar. Ada sebuah kode kecil yang terukir di pangkal kunci tersebut, deretan angka yang sama persis dengan yang ia lihat di kunci yang masih dipegang Pak Haji saat menuju kamar sebelah.

Satu pikiran buruk melintas di benaknya, namun ia segera menepisnya. *Tidak mungkin,* pikirnya. *Ini hanya kunci baru, Raisa. Jangan terlalu paranoid.*

Namun, saat ia mencoba memutar kunci itu sekali lagi untuk memastikan keamanannya sebelum mandi, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kunci itu berputar melampaui titik berhentinya yang seharusnya, seolah-olah gerigi di dalamnya tidak benar-benar menggigit dengan pas.

Tiba-tiba, dari arah luar, ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang berhenti tepat di depan pintunya. Raisa menahan napas. Ia menatap gagang pintu yang perlahan-lahan bergerak turun, seolah-olah ada seseorang yang mencoba membukanya dari luar, padahal ia yakin Pak Haji dan si tukang sudah pindah ke lant** dua.

Jantung Raisa berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. Gagang pintu itu terus bergerak naik-turun dengan pelan, penuh selidik, sebelum akhirnya diam sepenuhnya.

Raisa mendekat ke arah lubang pengintip di pintu dengan langkah tanpa suara. Saat ia menempelkan matanya di sana, lorong di depannya tampak kosong. Namun, di bawah pintu, ia melihat bayangan sepasang kaki yang baru saja beranjak pergi, meninggalkan suara gesekan sandal yang sangat ia kenali sebagai salah satu penghuni kos pria di lant** bawah.

Yang membuat Raisa merinding bukan hanya fakta bahwa ada yang mencoba membuka pintunya, melainkan suara denting logam tipis di saku orang tersebutβ€”suara yang persis sama dengan kunci baru yang kini berada di genggamannya. Di saat itulah, sebuah kecurigaan mengerikan muncul: bagaimana jika "keseragaman" yang dikatakan Pak Haji bukan hanya soal model, tapi juga soal akses?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca