Celah di Balik Kunci

Bab 3: Bab 3 - Raisa pulang kuliah dan mendapati posisi bantal...

Pengaturan Membaca

Udara sore yang gerah membungkus Jakarta seperti selimut tebal yang lembap. Raisa melangkah menyusuri lorong kos-kosannya dengan napas yang sedikit memburu. Kain jilbab berbahan voal yang melilit lehernya terasa mencekik, sementara butiran keringat mulai merembes di balik inner jilbabnya, menimbulkan rasa gatal yang sangat mengganggu. Baginya, berjalan dari gerbang depan menuju kamar nomor 202 adalah sebuah prosesi menuju kemerdekaan.

Setibanya di depan pintu, ia merogoh tas selempangnya, mencari anak kunci perak meng***p yang baru diberikan pemilik kos tiga hari lalu. Model kuncinya tampak modern, dengan gagang pintu nikel yang kokoh, jauh lebih meyakinkan daripada kunci lama yang berkarat. Raisa mema**kkan kunci itu, memutarnya dua kali hingga terdengar bunyi *klik* yang mantap, lalu segera menyelinap ma**k.

Begitu pintu tertutup dan terkunci kembali dari dalam, ia mengembuskan napas panjang. Beban berat di pundaknya seolah luruh.

Tanpa membuang waktu, Raisa melepas jilbabnya, membiarkan rambut hitamnya yang lembap tergerai jatuh. Jari-jarinya dengan cekatan membuka kancing manset dan gamis panjangnya. Di dalam ruang privat seluas 3x4 meter ini, ia tidak perlu menjadi "Raisa yang Anggun" atau "Raisa yang Santun". Ia melepaskan semua lapisan kain yang membelit tubuhnya hingga hanya menyisakan sebuah *tanktop* katun tipis berwarna abu-abu tanpa balutan b** di baliknya.

"Ah... akhirnya," gumamnya pelan. Ia merasakan aliran udara dari kipas angin dinding menyentuh kulit bahunya yang polos, sebuah kemewahan sederhana yang tidak mungkin ia dapatkan di luar sana.

Raisa meletakkan tasnya di atas meja belajar. Ia adalah orang yang sangat terorganisirβ€”sebuah obsesi kecil yang sering dianggap berlebihan oleh teman-temannya. Buku-buku disusun berdasarkan tinggi, alat tulis menghadap ke arah yang sama, dan bantal di atas tempat tidur harus selalu sejajar dengan garis seprai.

Namun, saat ia berbalik hendak merebahkan diri ke ka**r, langkahnya tertahan. Matanya menyipit, menatap bantal kepalanya yang berwarna biru muda.

Ada yang aneh.

Raisa terdiam di tengah ruangan, mematung dengan posisi kaki yang setengah melangkah. Ia selalu meletakkan bantalnya tegak lurus, menempel sempurna pada *headboard* kayu tempat tidurnya. Namun sekarang, bantal itu sedikit miring, sekitar lima belas derajat ke arah kanan. Dan yang lebih mengusik batinnya adalah sebuah kerutan kecil di bagian tengah bantal, seolah-olah seseorang baru saja menekan atau duduk di atasnya dengan terburu-buru.

Jantungnya berdegup satu kali lebih kencang. Ia mendekati tempat tidur dengan gerakan pelan, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, apa pun yang ada di sana akan melompat keluar.

"Nggak mungkin," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya yang mulai berdenging.

Ia mencoba mengingat-ingat. *Tadi pagi, aku bangun jam enam. Shalat subuh, lalu merapikan tempat tidur. Aku ingat betul menarik ujung seprai sampai kencang.* Ia menatap seprai bagian bawah. Masih rapi. Tapi bantal itu... posisi miring itu seolah berteriak padanya bahwa ada sesuatu yang salah.

Raisa berjongkok di samping tempat tidur, memeriksa kolong ka**r. Kosong. Hanya ada beberapa butir debu dan sandal rumahnya yang tergeletak rapi. Ia beralih ke lemari pakaian. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintunya lebar-lebar. Deretan baju gantungnya masih di sana, tidak ada yang bergeser. Namun, bau parfumnya sendiri yang biasanya mendominasi ruangan kini terasa samar, seolah tercampur dengan aroma lain yang sangat tipisβ€”bau keringat asing yang tajam atau mungkin bau asap rokok yang sangat samar?

Ia segera menggelengkan kepala keras-keras. "Kamu cuma paranoid, Rai. Kamu tadi pagi buru-buru, kan?"

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin saat ia mengambil tas tadi pagi, ia menyenggol bantal itu. Atau mungkin saat ia mengunci pintu, getarannya membuat bantal yang posisinya tidak stabil itu bergeser. Logika adalah senjatanya untuk melawan rasa cemas yang mulai merayap naik ke tenggorokan.

Raisa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia berjalan ke arah jendela, memastikan gerendelnya masih terkunci rapat. Benar, masih terkunci dari dalam. Pintu pun tadi ia buka dengan kunci sendiri.

Ia kembali duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping bantal yang miring itu. Tangannya terulur untuk menyentuh permukaan bantal. Kainnya dingin. Tidak ada sisa panas tubuh manusia di sana.

"Tuh, kan. Nggak ada siapa-siapa," ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada keheningan kamar.

Ia mencoba untuk rileks, menyandarkan punggungnya ke dinding. Namun, saat itulah matanya menangkap sesuatu yang lain. Di atas lant** keramik putih yang bersih, tepat di bawah gagang pintu kamarnya, ada selembar serat kain berwarna hitam. Raisa bangkit berdiri dan memungutnya. Itu bukan serat dari gamisnya hari ini yang berwarna cokelat susu, bukan juga dari jilbabnya. Itu adalah serat kain kasar, seperti dari jaket *hoodie* atau celana jin gelap.

Tiba-tiba, rasa aman yang baru saja ia rasakan saat melepas pakaian tadi menguap sepenuhnya. Ia merasa te*******, bukan dalam arti fisik, melainkan dalam arti privasi. Perasaan diawasi itu datang lagi, jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Raisa menatap pintu kamarnya yang terbuat dari kayu jati imitasi itu. Kunci nikel yang baru itu seolah mengejeknya. Ia teringat kata-kata bapak pemilik kos kemarin saat membagikan kunci: *"Ini model terbaru, Neng Raisa. Lebih aman, nggak bakal bisa dibobol."*

Namun, kenapa ia merasa seolah pintu itu hanyalah selembar kertas tipis yang bisa ditembus kapan saja?

Raisa merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, menyadari bahwa ia hanya mengenakan *tanktop* tipis. Biasanya, ia merasa bebas seperti ini. Namun sekarang, dinding-dinding kamarnya seolah menyempit, menekannya dari segala sisi. Ia merasa seolah ada sepasang mata yang sedang melihatnya dari celah yang tidak ia ketahui, menikmati setiap inci kulit bahunya yang terekspos.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di lorong luar. Langkah itu berat dan lambat, berhenti tepat di depan pintunya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.

Raisa menahan napas, matanya terpaku pada gagang pintu. Ia melihat gagang pintu nikel itu bergerak perlahan, turun ke bawah seolah ada seseorang di luar sana yang sedang mencoba membukanya dengan sangat hati-hati.

*Klik.*

Suara mekanisme kunci itu menggema di dalam kamar yang sunyi. Raisa mematung, jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat gagang pintu itu perlahan-lahan mulai berputar lebih dalam. Sesosok bayangan menutupi celah di bawah pintu, dan Raisa menyadari satu hal yang mengerikan: seseorang di luar sana tidak sedang mengetuk, mereka sedang mencoba ma**k menggunakan kunci yang seharusnya hanya dimiliki oleh dirinya sendiri.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca