Celah di Balik Kunci

Bab 4: Bab 4 - Berinteraksi dengan tetangga kos baru, Dimas, y...

Pengaturan Membaca

Langkah kakiku terasa berat saat menapaki anak tangga menuju lant** dua. Tas ransel yang berisi laptop dan tumpukan buku referensi terasa dua kali lebih membebani bahuku dibanding pagi tadi. Namun, yang paling melelahkan bukanlah tugas akhir atau seminar yang baru saja kuselesaikan, melainkan kain sifon yang melilit leherku. Hijab ini, meskipun adalah bagian dari identitas yang kupilih dengan sadar, terasa mencekik setiap kali kecemasan itu datang menyerang.

Begitu sampai di ujung koridor, aku hanya ingin satu hal: ma**k ke kamar 203, mengunci pintu, melepas seluruh lapisan pakaian yang menyesakkan ini, dan membiarkan kulitku bernapas dalam balutan *tanktop* tipis favoritku. Hanya di balik pintu kayu itulah aku bisa berhenti menjadi "Raisa yang santun" dan sekadar menjadi "Raisa yang bebas".

Namun, langkahku terhenti beberapa meter sebelum mencapai pintu.

Seorang pria berdiri di depan kamar 204, kamar tepat di sebelahku. Dia sedang sibuk dengan tumpukan kardus di lant**, tetapi kepalanya menoleh begitu mendengar derit lant** kayu yang kuinjak. Itu Dimas. Penghuni baru yang pindah tiga hari lalu.

"Eh, baru pulang, Mbak Raisa?" Sapanya dengan nada yangβ€”bagikuβ€”terdengar terlalu bersemangat untuk ukuran tetangga yang baru kenal.

Aku memaksakan sebuah senyuman tipis, tipe senyum formal yang biasa kugunakan untuk mengakhiri percakapan sebelum dimulai. "Iya, Mas. Mari," jawabku singkat, sambil terus berjalan tanpa mengurangi kecepatan.

"Wah, rajin ya. Jam segini baru balik. Kuliah atau kerja kelompok?" Dimas justru melangkah maju, menghalangi sedikit jalurku menuju pintu.

Aku terpaksa berhenti. Jarak kami kini hanya sekitar satu setengah meter. Dimas mengenakan kaus oblong abu-abu yang agak pudar dan celana pendek. Dia tampak sant**, terlalu sant**. Matanya yang tajam menatapku dengan binar yang sulit kuartikan. Dia tidak hanya menatap mataku; tatapannya sempat turun ke bawah, menyapu jubah panjang yang kukenakan, seolah sedang mencoba menebak apa yang ada di baliknya.

"Kuliah, Mas," jawabku, tanganku merogoh saku rok, mencari-cari kunci dengan gerakan yang sedikit gemetar.

"Oh, semester akhir ya? Kelihatan dari mukanya yang sering capek," dia terkekeh, tapi matanya tidak lepas dariku. "Saya juga baru beres beresin barang nih. Ternyata di sini agak lembap ya kalau sore. Kamar Mbak Raisa gimana? Adem nggak?"

Aku menelan ludah. Pertanyaan itu terasa terlalu personal untuk ditanyakan di koridor yang sempit ini. "Lumayan, Mas. Saya permisi dulu ya, banyak tugas."

Aku berhasil menemukan kunci itu. Logam dinginnya terasa seperti penyelamat di jemariku. Namun, saat aku hendak mema**kkannya ke lubang kunci, Dimas kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih rendah, hampir seperti berbisik.

"Eh, omong-omong, Mbak... soal kunci kamar ini."

Gerakanku membeku. Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada dengan keras. Apakah dia tahu? Apakah dia menyadari c**** produksi pada kunci-kunci baru ini?

"Kenapa dengan kuncinya?" tanyaku, berusaha menjaga suaraku agar tetap stabil meskipun tenggorokanku terasa kering.

Dimas menggaruk tengkuknya, memberikan senyum miring yang entah kenapa terlihat seperti seringai di mataku. "Nggak tahu ya, perasaan saya saja atau gimana, tapi kunci kamar saya ini kayaknya agak longgar. Tadi pagi saya salah coba ma**kin ke kamar sebelahβ€”eh, maksud saya, saya hampir keliru kamar karena model pintunya mirip semua. Mbak nggak merasa ada yang aneh sama kuncinya? Aman-aman saja kan?"

Ujung jariku mendingin. Aku teringat kejadian kemarin lusa, saat aku menemukan posisi botol parfum di atas mejaku bergeser beberapa sentimeter dari tempat biasanya. Aku teringat rasa dingin yang merayap di punggungku saat aku terbangun di tengah malam dan merasa seperti ada bayangan yang baru saja menjauh dari celah di bawah pintu.

"Aman kok, Mas. Saya selalu kunci dari dalam," jawabku cepat, mungkin terlalu cepat.

"Oh, bagus deh kalau gitu," Dimas melangkah satu tindak lebih dekat. Aku bisa mencium bau rokok yang samar dari pakaiannya. "Soalnya saya dengar, kunci-kunci baru ini kualitasnya kurang bagus. Takutnya ada yang bisa dibuka pakai kunci lain. Kan bahaya, apalagi Mbak Raisa tinggal sendirian. Kita nggak pernah tahu siapa yang punya niat iseng, kan?"

Dia menekankan kata 'niat iseng' dengan cara yang membuat bulu kudukku berdiri. Tatapannya kini tertuju tepat pada lubang kunci kamarku, lalu kembali ke mataku. Ada sesuatu yang menantang di sana, sesuatu yang penuh selidik.

"Terima kasih peringatannya, Mas. Saya ma**k dulu." Aku tidak menunggu jawabannya lagi. Dengan gerakan cepat yang hampir kasar, aku mema**kkan kunci, memutarnya, dan mendorong pintu terbuka.

"Mbak Raisa!" panggilnya tepat sebelum pintu tertutup.

Aku terhenti, separuh tubuhku sudah di dalam kegelapan kamar. "Ya?"

Dimas menyandarkan bahunya di kosen pintunya sendiri, melipat tangan di depan dada. "Lain kali kalau di dalam kamar, jangan lupa pakai gerendel tambahannya ya. Oh, dan... jangan terlalu percaya sama ventilasi di atas pintu. Suara dari dalam kedengaran jelas banget sampai luar kalau lagi sepi."

Darahku seolah berhenti mengalir. Ventilasi? Suara? Apakah dia mendengar desah napas legaku setiap kali aku melepas pakaian? Atau lebih buruk, apakah dia mendengar gumamanku saat aku merasa bebas di dalam sini?

Aku tidak menjawab. Aku menarik pintu dengan kuat dan membantingnya hingga tertutup rapat. Bunyi *klik* saat kunci kuputar terasa tidak lagi memberikan keamanan yang biasanya. Aku segera menyandarkan punggung ke daun pintu, napasku memburu, pendek-pendek dan tidak beraturan.

Tanganku bergerak refleks menuju dada, meremas kain hijabku yang terasa semakin mencekik. Aku ingin membukanya. Aku ingin segera menanggalkan semua beban ini. Tapi tanganku tertahan.

Aku menatap sekeliling kamarku yang remang-remang. Lemari pakaian, meja belajar yang berantakan, dan cermin panjang di sudut ruangan. Tiba-tiba, kamar ini tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan. Kamar ini terasa seperti akuarium, di mana aku adalah ikan kecil yang sedang diamati dari balik kaca yang buram.

Aku melangkah perlahan menuju meja, mataku terpaku pada kunci yang baru saja kulepaskan dari lubangnya. Aku teringat kata-kata Dimas. *Salah coba ma**kin ke kamar sebelah.*

Pandanganku beralih ke lant**, tepat di bawah pintu. Di sana, di celah sempit antara daun pintu dan lant**, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

Sebuah bayangan. Bayangan sepasang ujung sepatu yang masih berdiri tegak di sana, tepat di depan pintuku. Dia belum pergi. Dia masih berdiri di sana, menungguku melakukan kebiasaan rutin yang selalu kulakukan setiap kali aku ma**k ke kamar.

Tanganku yang baru saja hendak membuka peniti hijab di bawah dagu, gemetar hebat dan terjatuh ke samping. Aku tetap berdiri dalam diam, dalam panas yang membakar, tidak berani bergerak sedikit pun sementara orang di balik pintu itu terus menunggu dalam kesunyian yang mencekam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca