Celah di Balik Kunci

Bab 5: Bab 5 - Raisa tidak sengaja mencoba kuncinya ke pintu g...

Pengaturan Membaca

Udara di dalam kamarnya terasa seberat timah. Begitu Raisa mendengar bunyi klik dari gerendel pintu yang terkunci, ia langsung menyandarkan punggungnya ke kayu pintu yang dingin. Seolah-olah dengan beban tubuhnya sendiri, ia bisa menahan dunia luar agar tidak merangsek ma**k.

Dengan gerakan yang hampir mekanis, jemarinya yang gemetar mulai melepas peniti di bawah dagu. Kain jilbabnya luruh ke lant**, menyisakan rambut hitamnya yang lembap oleh keringat. Raisa mendesah panjang—sebuah helaan napas yang bercampur antara kelegaan dan kepenatan yang kronis. Kemeja kampusnya yang kaku menyusul, menyisakan dirinya hanya dalam balutan tanktop katun tipis tanpa b**. Inilah satu-satunya momen dalam dua puluh empat jam di mana kulitnya bisa benar-benar bernapas, terlepas dari kungkungan kain berlapis-lapis yang menuntut kesantunan di hadapan publik.

Namun, rasa lega itu hanya bertahan sekejap.

Mata Raisa tertuju pada botol parfum di atas meja riasnya. Bukankah tadi pagi ia meletakkannya di sisi kanan cermin? Sekarang, botol itu bergeser beberapa sentimeter ke kiri, tepat di samping tumpukan buku makronya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin ia hanya lupa, tapi intuisi tajamnya berteriak lain. Sesuatu di kamar ini terasa... bergeser.

"Aku butuh udara," gumamnya pelan, suaranya parau.

Ia teringat bahwa ia harus mengembalikan penyedot debu kecil milik kos ke gudang di ujung lorong lant** dua. Tadi siang ia meminjamnya sebentar untuk membersihkan sudut plafon. Dengan gerakan cepat, Raisa mengenakan *hoodie* kebesaran yang menutupi bentuk tubuhnya dan menyambar kunci kamarnya yang tergantung di balik pintu. Ia tidak repot-repot mengenakan jilbabnya kembali dengan rapi, hanya menyampirkan pashmina instan untuk menutupi kepala seadanya. Lorong itu biasanya sepi di jam-jam seperti ini.

Lant** lorong yang dilapisi tegel tua terasa dingin di telapak kakinya yang hanya beralaskan sandal rumah. Raisa berjalan cepat, matanya melirik gelisah ke arah deretan pintu kamar penghuni lain. Pintu-pintu itu tampak identik dengan kunci model gagang *lever* berwarna perak yang baru saja dipasang seminggu lalu oleh Pak Bambang, pemilik kos.

"Kunci kelas satu," begitu Pak Bambang membanggakannya. "Keamanan kalian nomor satu bagi saya."

Raisa sampai di depan pintu gudang yang terletak di pojok yang remang-remang. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Ia meraih gagang pintu gudang, bermaksud membukanya—karena biasanya Pak Bambang membiarkan gudang tidak terkunci di siang hari.

Namun, pintu itu keras. Terkunci.

Raisa mendengus kesal. Ia meraba saku *hoodie*-nya, mencari kunci gudang yang biasanya dipinjamkan bersama alat pembersih. Namun, jarinya hanya menemukan satu kunci: kunci kamarnya sendiri, nomor 204.

"Sial, kuncinya tertinggal di dalam kamar," bisiknya pada diri sendiri.

Ia berbalik untuk kembali ke kamar, namun sebuah dorongan impulsif yang aneh muncul di benaknya. Sebuah pikiran absurd yang lahir dari kecemasan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir. Ia menatap kunci di tangannya—logam perak dengan guratan-guratan gerigi yang tampak standar—lalu menatap lubang kunci pintu gudang.

*Tidak mungkin,* pikirnya. *Secara logika, itu tidak mungkin.*

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Raisa mema**kkan kunci kamar 204 ke dalam lubang kunci pintu gudang. Ia tidak berharap apa pun. Ia hanya ingin membuktikan bahwa ketakutannya selama ini adalah paranoia belaka.

Logam itu ma**k dengan mulus. Terlalu mulus.

Raisa menahan napas. Ia memutar kunci itu ke arah kanan.

*KLIK.*

Suara mekanisme kunci yang terbuka itu terdengar seperti ledakan di telinga Raisa. Ia membeku. Gagang pintu itu kini terasa lemas saat ia menekannya ke bawah. Pintu kayu berat itu berderit terbuka, menyingkap kegelapan gudang yang berbau debu dan kayu tua.

Darah di sekujur tubuh Raisa seolah berhenti mengalir. Ia menarik kuncinya keluar, lalu mencobanya sekali lagi. Ia mengunci pintu gudang itu kembali, lalu membukanya lagi. *Klik. Klik.*

"Ya Tuhan..."

Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Jika kunci kamarnya bisa membuka pintu gudang ini, maka itu berarti...

Raisa mundur selangkah, napasnya mulai pendek dan cepat. Ia menatap deretan pintu kamar di sepanjang lorong dengan pandangan yang mengerikan. Jika kunci kamarnya adalah kunci universal untuk gudang, apakah kunci penghuni lain juga bisa melakukan hal yang sama? Atau lebih buruk lagi, apakah ada kunci lain yang bisa membuka pintu kamar 204 miliknya?

Pikiran tentang botol parfum yang bergeser tiba-tiba menghantamnya dengan kekuatan penuh. Itu bukan sekadar perasaannya. Seseorang benar-benar bisa ma**k ke kamarnya. Seseorang mungkin telah ma**k saat ia sedang kuliah, atau—yang lebih mengerikan—saat ia sedang tertidur atau sedang dalam kondisi tidak berbusana lengkap, merasa aman di balik pintu yang ia kira terkunci rapat.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga di ujung lorong. Raisa tersentak, segera menarik pintu gudang hingga tertutup rapat dan menyembunyikan kuncinya di balik telapak tangan yang berkeringat.

Langkah kaki itu semakin dekat, berat dan berirama. Dari balik bayangan tangga, muncul sosok seorang pria penghuni lant** bawah yang jarang ia ajak bicara. Pria itu berhenti sejenak, menatap Raisa yang berdiri mematung di depan gudang dengan wajah sepucat kapas dan pashmina yang berantakan.

"Lho, Mbak Raisa? Sedang apa di situ malam-malam begini?" tanya pria itu dengan nada datar, namun matanya menatap tajam ke arah tangan Raisa yang gemetar.

Raisa tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu. Di dalam benaknya, hanya ada satu pertanyaan yang berputar-putar seperti pusaran air: *Apakah dia tahu? Apakah dia salah satu orang yang memiliki kunci itu?*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca