Raisa meremas ujung jilbab segiempatnya hingga kain itu kusut dalam genggamannya. Keringat dingin mulai merembes di balik lapisan pakaiannya, memberikan sensasi lembap yang tidak nyaman. Ia berdiri di depan pintu kayu jati yang kokoh milik Pak Surya, pemilik indekos yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang hanya muncul setiap tanggal satu untuk menagih uang sewa.
Butuh waktu lima belas menit bagi Raisa hanya untuk sekadar berdiri di sini. Setiap kali ia hendak mengetuk, bayangan wajah Pak Surya yang kaku dan bicaranya yang ceplas-ceplos membuatnya urung. Namun, bayangan tentang sisir yang berpindah tempat dan aroma parfum pria yang samar di sudut kamarnya kemarin malam jauh lebih menakutkan daripada amarah Pak Surya.
*Tok, tok, tok.*
"Pak? Pak Surya?" Suara Raisa hampir tenggelam oleh suara bising televisi dari dalam rumah.
Pintu terbuka dengan sentakan kasar. Pak Surya muncul dengan kaos dalam putih yang agak menguning di bagian ketiak dan sarung yang melilit longgar di pinggangnya. Ia memegang sebatang rokok yang asapnya langsung menusuk hidung Raisa.
"Ya? Ada apa, Raisa? Masalah air lagi?" tanya Pak Surya tanpa basa-basi, matanya tidak lepas dari layar televisi di ruang tamu.
Raisa berdehem, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa di ujung lidahnya. "Bukan, Pak. Ini soal... soal kunci pintu kamar saya. Dan mungkin kamar-kamar yang lain juga."
Pak Surya mengerutkan kening, akhirnya mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arah Raisa. "Kunci? Kan baru diganti minggu lalu. Kunci mahal itu, model baru. Saya habis jutaan buat ganti semua pintu biar kalian makin aman."
"Justru itu masalahnya, Pak," Raisa merendahkan suaranya, melirik ke kanan dan kiri, takut ada penghuni lain yang lewat. "Saya tidak sengaja mencoba kunci saya di pintu kamar sebelah saat salah lant** kemarin, dan... kuncinya ma**k, Pak. Pintunya bisa terbuka."
Pak Surya terdiam sejenak, lalu tawa pendek yang meremehkan lolos dari bibirnya. Ia menyedot rokoknya dalam-dalam lalu mengembuskannya ke samping. "Ah, kamu ini ada-ada saja. Itu perasaanmu saja karena kuncinya mirip-mirip. Mana mungkin kunci satu bisa buka semua? Itu pabrik punya standar, Sa."
"Tapi saya sudah mencobanya sendiri, Pak! Saya khawatir ada orang lain yang juga menyadari ini dan... dan ma**k ke kamar saya tanpa izin," suara Raisa naik satu oktav, ada getaran panik yang gagal ia sembunyikan.
Pikiran Raisa melayang pada kebiasaannya di dalam kamar. Tentang bagaimana ia melepaskan segala atribut kesantunannya, hanya mengenakan tanktop tipis agar kulitnya bisa bernapas dari pengapnya pakaian tertutup sepanjang hari. Jika ada yang ma**k saat ia dalam kondisi seperti itu, ia tidak hanya kehilangan keamanan, tapi juga harga diri dan reputasi yang ia bangun susah payah.
Pak Surya menghela napas panjang, ekspresinya berubah menjadi tidak sabar. Ia melangkah keluar sedikit, menutup pintu di belakangnya agar percakapan mereka tidak terdengar istrinya di dalam.
"Dengar ya, Raisa. Kamu itu mahasiswi, harusnya berpikir logis. Saya tidak mungkin panggil tukang lagi dan ganti semua kunci itu. Kamu tahu berapa biayanya? Saya beli grosir dari toko material terbesar. Kalau ada satu atau dua yang mirip, ya itu wajar. Namanya juga barang buatan mesin."
"Tapi ini bukan soal wajar atau tidak, Pak! Ini soal privasi saya. Barang-barang saya ada yang bergeser. Saya merasa..."
"Merasa diint**?" sela Pak Surya dengan nada mengejek. "Kamu ini terlalu banyak nonton film horor atau kebanyakan tugas kuliah. Mungkin kamu cuma lupa naruh barang. Jangan manja, Sa. Di sini lingkungan aman. Ada CCTV di depan gang, kan?"
"CCTV tidak mengawasi lorong kamar, Pak," balas Raisa cepat, tangannya bergetar. "Tolonglah, Pak. Ganti saja slot kunci kamar saya. Saya bisa bayar sendiri kalau perlu."
Wajah Pak Surya mendadak mengeras. "Tidak bisa! Kamu pikir boleh sembarangan bongkar pintu tanpa seizin saya? Kalau kamu ganti sendiri, nanti estetikanya rusak, pintunya c****. Saya tidak mau rugi. Pokoknya kuncinya tetap itu. Titik."
Raisa merasa seperti dipukul di ulu hati. Rasa tidak berdaya merayap naik, mencekiknya. "Tapi Pak, kalau sampai terjadi sesuatu..."
"Sudahlah," Pak Surya membuang puntung rokoknya ke lant** dan menginjaknya dengan kasar. "Kamu itu cantik, santun, tapi jangan terlalu parnoan. Mungkin kamu cuma perlu istirahat. Jangan bikin masalah yang tidak ada menjadi ada. Saya sibuk, mau makan malam."
*Blam!*
Pintu itu tertutup tepat di depan wajah Raisa. Ia terpaku di sana, memandangi permukaan kayu pintu yang bisu. Dadanya sesak. Penolakan Pak Surya bukan hanya soal biaya, tapi penghinaan terhadap rasa takutnya yang nyata. Bagi Pak Surya, ini hanya soal estetika dan uang, tapi bagi Raisa, ini adalah soal batas antara dirinya yang asli dan dunia luar yang mengancam.
Raisa berjalan kembali menuju kamarnya di lant** dua dengan langkah gont**. Setiap langkah di koridor terasa seperti berjalan di atas paku. Ia merasa setiap pintu yang ia lewati menyembunyikan sepasang mata yang sedang menertawakan ketakutannya.
Ia sampai di depan pintu kamarnya sendiriβnomor 204. Ia menatap lubang kunci itu dengan tatapan benci. Benda kecil yang seharusnya menjadi pelindungnya kini justru terasa seperti luka terbuka yang mengundang predator.
Saat ia mema**kkan kunci dan memutarnya, ia merasakan sensasi yang janggal. Kuncinya tidak tertahan sama sekali. Seharusnya ia sudah mengunci pintu itu saat pergi tadi. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan liar.
Dengan tangan gemetar, Raisa mendorong pintu pelan-pelan. Keadaan kamar tampak remang karena ia hanya menyalakan lampu meja. Matanya langsung tertuju pada tempat tidur.
Di atas sprei yang tadinya rapi, kini tergeletak selembar benda kecil yang membuat lutut Raisa lemas seketika. Itu adalah ikat rambut berwarna merah miliknyaβbenda yang ia yakin telah ia simpan di dalam laci meja rias yang tertutup rapat sebelum ia keluar tadi.
Bukan hanya itu. Di samping ikat rambut itu, ada sebuah lipatan kertas kecil. Raisa mengambilnya dengan jari yang kaku, lalu membacanya di bawah cahaya lampu yang minim.
*Jangan terlalu keras mengadu, Raisa. Kamu terlihat jauh lebih cantik saat kamu tidak memakai jilbabmu.*
Raisa menjatuhkan kertas itu, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Ia segera berbalik dan mengunci pintu dari dalam, namun kali ini ia tahu, kunci itu tak lagi bermakna apa-apa. Seseorang sudah berada di dalam kamarnya. Seseorang telah melihatnya. Dan seseorang itu... masih memiliki kunci yang sama dengannya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!