Kegelapan di dalam kamar kos itu biasanya terasa seperti pelukan yang menenangkan bagi Raisa. Di balik pintu yang terkunci rapat, ia tidak perlu menjadi mahasiswi teladan yang selalu rapi dengan hijab lebarnya. Di sini, di atas tempat tidur berseprai biru muda ini, ia hanya seorang gadis yang mendamba napas lega. Malam ini, ia hanya mengenakan tanktop katun tipis berwarna abu-abu. Tanpa b** yang menyesakkan, tanpa lapisan kain yang menjerat kulitnya. Kulit bahunya yang polos bersentuhan langsung dengan udara dingin dari pendingin ruangan, memberikan sensasi kebebasan yang selama ini ia sembunyikan dari dunia luar.
Namun, kenyamanan itu menguap dalam sekejap saat sebuah suara asing menembus keheningan pukul dua pagi.
*Srek... srek...*
Raisa tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang remang. Ia menahan napas, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah suara tikus di plafon atau dahan pohon yang bergesekan dengan jendela. Namun, suara itu tidak berasal dari atas atau samping. Suara itu berasal dari bawah, tepat di arah pintu.
*Klek. Srek...*
Bunyi logam yang beradu pelan. Itu adalah suara kunci yang dima**kkan ke dalam lubang silinder.
Jantung Raisa berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke telinga, menulikan suara detak jam dinding. Ia membeku di bawah selimut tipisnya. Pikirannya langsung melayang pada pengumuman pemilik kos dua hari lalu tentang penggantian seluruh kunci pintu. *C**** produksi,* bisik suara di dalam kepalanya. *Satu kunci bisa membuka pintu lainnya.*
Ia menoleh ke arah pintu. Di bawah celah pintu yang sempit, cahaya lampu koridor yang kuning pucat terhalang oleh bayangan hitam. Seseorang sedang berdiri di sana. Benar-benar berdiri tepat di depan kamarnya.
Raisa perlahan bangkit, gerakannya sangat hati-hati agar per ka**r tidak berdecit. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia melirik kursi di sudut kamar, tempat ia meletakkan hijab dan kardigan panjangnya. Jaraknya hanya tiga langkah, tapi ia merasa lumpuh. Jika ia bergerak sekarang, suara gesekan kain atau langkah kakinya mungkin akan terdengar oleh orang di balik pintu itu.
Lalu, kengerian itu mencapai puncaknya.
Gagang pintu kuningan itu mulai bergerak. Perlahan, sangat perlahan, ia berputar ke bawah.
Raisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang nyaris lolos. Matanya terpaku pada gerakan mekanis itu. *Satu... dua... tiga derajat...* Gagang itu terus turun hingga mencapai titik maksimalnya.
"Siapa di sana?" Raisa ingin berteriak, tapi tenggorokannya seperti tersumbat pasir. Suaranya hilang, tertelan oleh rasa ngeri yang menjalar dari ujung kaki hingga kepala.
Ia teringat kondisinya sekarang. Jika orang di luar sana berhasil ma**k, hal pertama yang akan mereka lihat adalah Raisa dalam keadaan paling rentanβtanpa hijab, tanpa penutup dada yang layak, hanya dengan selembar kain tipis yang mencetak lekuk tubuhnya. Reputasi yang ia bangun dengan susah payah, harga diri yang ia jaga di depan dosen dan teman-temannya, semuanya bisa hancur dalam satu detikan pintu yang terbuka. Malu dan takut bercampur menjadi satu adonan yang memuakkan di perutnya.
Gagang pintu itu berderak pelan, seolah orang di luar sana sedang menekan beban tubuhnya ke daun pintu.
*Ceklek.*
Suara mekanisme kunci yang terlepas terdengar begitu nyata di kesunyian malam. Pintu itu sekarang tidak lagi terkunci.
Raisa merayap turun dari tempat tidur, mengabaikan rasa dingin lant** yang menusuk telapak kakinya. Ia meraih bantal, mendekapnya erat ke dada seolah benda itu bisa menjadi perisai. Matanya liar mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata, namun hanya ada tumpukan buku kuliah dan botol minum plastik di atas meja.
"Pergi..." bisiknya parau, hampir tak terdengar. "Tolong, pergi..."
Gagang pintu itu kembali ke posisi semula, tapi pintu tidak langsung terbuka. Ada jeda yang menyiksa. Raisa bisa membayangkan orang di luar sana sedang mengintip melalui lubang kunci, atau mungkin sedang memasang telinga, menunggu tanda-tanda kehidupan dari dalam kamar.
Tiba-tiba, suara bisikan halus terdengar dari balik kayu pintu yang tebal.
"Aku tahu kau belum tidur, Raisa."
Suara itu berat, serak, dan penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Raisa berdiri tegak. Ia tidak mengenali suara itu secara pasti, namun getarannya terasa begitu akrab dengan teror yang selama ini ia rasakan saat merasa diawasi di koridor kos.
Pintu itu mulai berderit. Engselnya yang baru ternyata belum diminyaki dengan sempurna, mengeluarkan suara rintihan logam yang menyayat keberanian Raisa. Celah kecil mulai terbentuk, memperlihatkan lebih banyak cahaya dari koridor yang ma**k ke dalam kamarnya yang gelap.
Raisa mundur hingga punggungnya membentur lemari pakaian. Ia ingin lari ke kamar mandi dan mengunci diri di sana, tapi ia tahu itu hanya akan menjebaknya tanpa jalan keluar. Matanya terus menatap celah pintu yang kian melebar.
Di sana, di antara bayangan dan cahaya, ia melihat sepotong jemari tangan yang mencengkeram tepi pintu. Jemari yang kokoh, dengan kuku yang dipotong pendek. Tangan itu mendorong pintu lebih jauh.
"Jangan ma**k!" teriak Raisa akhirnya, suaranya pecah dan gemetar. Ia melemparkan bantal di pelukannya ke arah pintu, sebuah tindakan impulsif yang sia-sia.
Pintu itu berhenti bergerak sejenak. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, lebih pekat dan mencekam dari sebelumnya. Raisa berdiri gemetar, satu tangannya mencoba menutupi bahunya yang terbuka, sementara tangan lainnya meraih ponsel di atas nakas dengan gerakan panik.
Namun, sebelum ia sempat menekan tombol darurat, pintu itu tiba-tiba didorong dengan sentakan kuat.
Raisa memejamkan mata erat-erat saat sesosok bayangan tinggi melangkah ma**k ke dalam batas suci privasinya. Bau parfum pria yang tajam dan asing langsung memenuhi indra penciumannya, merusak aroma lavender yang biasa menenangkannya.
"Ternyata benar," suara itu terdengar tepat di depan wajahnya, dibarengi dengan hembusan napas yang panas. "Kamu jauh lebih cantik tanpa semua kain penutup itu, Raisa."
Raisa tersentak mundur, namun ia sudah tidak punya ruang lagi. Punggungnya sudah menempel pada dinding dingin, dan di depannya, pintu kamarnya kini tertutup rapat kembali dengan bunyi *klik* yang final. Kunci itu berputar dari dalam. Ia kini terjebak di dalam kamarnya sendiri, bersama seseorang yang memegang kunci cadangan dunianya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!