Jari-jemari Raisa gemetar saat menatap layar ponselnya. Aplikasi perbankan itu menampilkan deretan angka yang seolah mengejeknya. Saldo yang tersisa di sana seharusnya c**up untuk bertahan hingga akhir bulan—makan siang di kantin, biaya fotokopi tugas akhir, dan sedikit tabungan untuk pulang kampung saat libur semester nanti. Namun, rasa aman tidak bisa ditawar dengan sepiring nasi rames.
Ia melirik ke arah pintu kayu kamarnya. Lubang kunci itu tampak seperti mata gelap yang terus mengawasinya. Setiap kali ia mendengar langkah kaki di koridor kos, jantungnya berdegup kencang, seolah-olah seseorang akan memutar kenop pintu itu kapan saja. Perasaan bahwa barang-barangnya telah bergeser—sebuah sisir yang berpindah posisi, atau lipatan baju di lemari yang sedikit berantakan—terus menghantuinya seperti duri dalam daging.
Raisa menghela napas panjang, lalu meraih jilbab instannya. Ia harus melakukan ini.
Toko elektronik di sudut pasar itu pengap dan dipenuhi tumpukan kardus. Raisa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya saat melangkah ma**k. Aroma timah solder dan debu menyambutnya. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal menatapnya dari balik etalase kaca.
"Cari apa, Mbak?" tanya pria itu, suaranya parau.
Raisa mengeratkan pegangan pada tas selempangnya. "Ada... kamera pengawas yang kecil? Yang bisa dikoneksikan ke HP?"
Pria itu menatap Raisa sejenak, menelusuri penampilan mahasiswinya yang santun sebelum berbalik mengambil sebuah kotak kecil dari rak paling belakang. "Ini yang paling laku. Ukurannya cuma sebesar kancing baju. Bisa dipasang di mana saja, asal ada Wi-Fi."
Raisa melihat label harganya. Jantungnya mencelos. Angka itu setara dengan uang makannya selama dua minggu. Ia menggigit bibir bawahnya, menghitung dengan cepat di dalam kepala. Jika ia membeli ini, ia harus mengonsumsi mi instan setiap malam dan berjalan kaki ke kampus untuk menghemat ongkos angkot.
"Nggak bisa kurang, Pak?" tanyanya lirih, nyaris berbisik.
Pria itu menggeleng. "Itu sudah harga pas, Mbak. Barangnya bagus, sensor geraknya sensitif. Kalau ada yang lewat di depannya, langsung kirim notifikasi ke HP."
Kata-kata 'sensor gerak' itu adalah umpan yang tak bisa ia tolak. Raisa mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya dengan tangan yang terasa berat. Saat uang itu berpindah tangan, ia merasa separuh dari napasnya ikut hilang, namun separuh lainnya merasa lega.
Setibanya di kos, Raisa tidak langsung ma**k ke kamar. Ia berdiri di depan pintunya, memperhatikan celah kecil di bawah pintu. Ia mengeluarkan kunci miliknya—kunci yang seharusnya hanya milik kamarnya, namun kini ia tahu bahwa kunci itu bisa dimiliki oleh siapa saja yang tinggal di lant** ini karena c**** produksi massal yang diabaikan pemilik kos.
Begitu ma**k, Raisa langsung mengunci pintu. Ritualnya dimulai. Ia melepas jilbabnya, lalu perlahan menanggalkan tunik panjangnya yang menyesakkan. Udara dingin dari kipas angin kecil menyentuh kulit lengannya yang hanya tertutup tanktop hitam tipis. Ia melepaskan b**-nya, melemparkannya ke atas tempat tidur, dan mengembuskan napas lega yang panjang. Inilah satu-satunya momen ia merasa benar-benar bernapas, terlepas dari segala ekspektasi moral dan sosial yang membebaninya di luar sana.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan sedetik. Matanya kembali menyapu sudut-sudut kamar. Di mana tempat terbaik untuk menyembunyikan "mata" barunya?
Ia mencoba menempatkannya di atas lemari, tapi sudut pandangnya terlalu sempit. Ia mencoba di rak buku, namun terhalang oleh tumpukan diktat kuliah. Akhirnya, ia menemukan tempat yang sempurna: di sela-sela kelopak bunga plastik di dalam vas yang terletak di atas meja riasnya. Dari sana, kamera itu bisa menangkap seluruh area pintu dan sebagian besar tempat tidurnya.
Dengan tangan gemetar, ia mulai mengatur aplikasi di ponselnya. Proses sinkronisasi terasa seperti selamanya. Garis biru di layar ponselnya merayap lambat. 80%... 90%... *Connected.*
Layar ponselnya kini menampilkan gambar hitam putih kamarnya. Raisa melihat dirinya sendiri di layar—seorang gadis dengan rambut terurai, hanya mengenakan tanktop, tampak rapuh dan cemas. Ia merasa aneh melihat dirinya sendiri dari sudut pandang itu, seperti sedang memata-mat** hidupnya sendiri.
Ia meletakkan ponselnya di atas bantal, lalu mencoba berbaring. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa memiliki sedikit kendali. Jika benar ada seseorang yang ma**k saat ia tidak ada, atau lebih buruk lagi, saat ia sedang tertidur, ia akan tahu. Ia akan punya bukti.
Malam mulai larut. Raisa mematikan lampu kamar, membiarkan cahaya remang-remang dari lampu jalan ma**k melalui celah gorden. Ia memejamkan mata, mencoba menjemput kantuk yang biasanya sulit datang.
*Ting.*
Sebuah notifikasi pendek berbunyi dari ponselnya. Raisa tersentak bangun. Jantungnya berpacu liar. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel yang layarnya menyala terang di tengah kegelapan.
Aplikasi itu mengirimkan peringatan: *Gerakan terdeteksi.*
Raisa menahan napas, jempolnya ragu-ragu di atas layar. Ia membuka rekaman *live stream* itu. Awalnya hanya kegelapan dan butiran *noise* pada gambar. Namun kemudian, ia melihatnya. Di bawah celah pintu kamarnya, ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang tipis dan panjang, seperti selembar kertas atau alat kecil, diselipkan perlahan melalui celah bawah pintu, mencoba meraba-raba area di dalam kamarnya.
Dan yang membuat darahnya membeku bukan hanya benda itu, melainkan suara gesekan pelan dari luar—suara seseorang yang sedang menempelkan telinganya di balik pintu, mendengarkan setiap embusan napasnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!