Langkah Raisa terasa berat saat meniti anak tangga menuju lant** dua rumah kosnya. Udara sore yang gerah seolah membungkus kulitnya, membuat kain jilbab yang melilit leher terasa mencekik. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, nomor 204, jemarinya yang gemetar merogoh saku tas, mencari kunci. Ada keraguan sejenak sebelum ia memutar logam tipis itu. Klik. Pintu terbuka, namun rasa aman yang biasanya menyambutnya kini menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap di tengkuknya.
Raisa segera mengunci pintu dari dalam, memastikan gerendel tambahan yang ia pasang sendiri sudah terpasang rapat. Ia menyandarkan punggung pada kayu pintu, memejamkan mata, dan mengatur napasnya yang memburu. Di luar sana, ia adalah Raisa yang santun, mahasiswi teladan dengan pakaian longgar yang tertutup. Namun di balik pintu ini, ia melepaskan semua beban itu.
Dengan gerakan cepat, ia menanggalkan jilbab dan tunik luarnya, menyisakan tanktop hitam tipis tanpa b**βpakaian pilihannya demi bisa bernapas lega setelah seharian ditekan ekspektasi sosial. Namun, rasa nyaman itu hanya bertahan sedetik. Matanya langsung tertuju pada benda kecil yang terselip di antara tumpukan buku di rak meja belajarnya: sebuah kamera pengint** kecil yang ia beli secara daring tiga hari lalu.
"Tolong, jangan ada apa-apa," bisiknya lirih, seolah doa bisa menghapus kenyataan yang mungkin terekam di sana.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Raisa mengambil kamera itu dan menghubungkannya ke laptop. Cahaya dari layar monitor menerangi wajahnya yang pucat di kamar yang mulai remang. Jantungnya berdentum kencang, suaranya memenuhi keheningan ruangan seluas tiga kali empat meter itu.
Ia mulai memutar rekaman dari jam sepuluh pagi tadi, saat ia berangkat kuliah. Layar menunjukkan suasana kamarnya yang sunyi. Sinar matahari ma**k melalui celah gorden, menyoroti debu-debu yang beterbangan. Raisa mempercepat durasi video. Sepuluh menit... dua puluh menit... satu jam...
Pada menit ke-72, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Gagang pintu bergerak. Pelan, sangat pelan, seolah sang pengunjung sangat ahli dalam menjaga kesunyian. Kemudian, pintu itu terbuka. Seorang pria melangkah ma**k. Raisa membelalak, menutup mulutnya dengan telapak tangan agar jeritannya tidak lolos.
Pria itu mengenakan kaus oblong abu-abu yang tampak familier. Ia tidak langsung menjarah barang berharga. Ia berdiri di tengah ruangan, menghirup udara dengan rakus seolah sedang menikmati aroma parfum ruangan milik Raisa. Sorot matanya liar, menyapu setiap sudut kamar, sebelum akhirnya berhenti pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Di rekaman itu, suara gemericik air terdengar sayup-sayup. Raisa ingat saat ituβpukul 11.15 pagi, ia sempat pulang sebentar untuk mandi sebelum jadwal praktikum di laboratorium. Itu artinya, saat pria itu ma**k, Raisa sedang berada di dalam kamar mandi, hanya terpisah oleh sekat plastik tipis, tanpa busana, tanpa perlindungan sama sekali.
Lidah Raisa terasa kelu. Di layar, pria itu berjalan mendekati keranjang cucian kotor di pojok ruangan. Dengan gerakan yang membuat perut Raisa mual, pria itu berlutut. Ia meraih selembar kain dari sana. Itu adalah pakaian dalam milik Raisa yang baru ia lepaskan pagi itu.
Pria itu tidak mencurinya. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih menjijikkan.
Ia memejamkan mata, membenamkan wajahnya sepenuhnya ke dalam kain tersebut, dan menghirupnya dalam-dalam. Tubuh pria itu tampak gemetar pelan, seolah sedang mengalami ekstasi yang sakit. Berkali-kali ia melakukan itu, mengendus dengan suara napas yang berat yang bahkan tertangkap oleh mikrofon kecil kamera pengint**.
Raisa merasakan empedu naik ke tenggorokannya. Ia merasa kotor. Ia merasa seolah tangan-tangan pria itu sedang meraba-raba kulitnya secara langsung melalui layar monitor. Air mata mulai menggenang, memburamkan pandangannya. Di dalam video, pria itu kemudian meletakkan kembali pakaian tersebut ke tempat semula, memastikan posisinya terlihat alami seolah tidak pernah disentuh.
Sebelum keluar, pria itu sempat berhenti di depan cermin besar milik Raisa. Ia menyeringai, sebuah ekspresi yang memancarkan keg***an sekaligus kemenangan. Ia mengusap permukaan meja rias Raisa, menyentuh lipstik, sisir, dan botol parfum seolah-olah ia memiliki semua itu. Dan yang paling mengerikan, pria itu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunyaβkunci yang identik dengan milik Raisaβdan menguncinya kembali dari luar saat ia pergi.
Klik.
Suara di dalam video itu seolah bergema di dunia nyata. Raisa tersentak, refleks menoleh ke arah pintu kamarnya. Keheningan mendadak terasa mencekam. Ia merasa te******* meskipun ia mengenakan pakaian. Kamar ini, yang ia anggap sebagai benteng terakhir harga dirinya, telah dinodai.
Ia mengenali pria itu. Meskipun wajahnya tidak terlihat sepenuhnya jelas karena topi yang ia kenakan, postur tubuh dan cara berjalannya sangat kukuh dalam ingatan Raisa. Itu adalah salah satu penghuni kos di lant** yang sama.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di koridor luar. Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya. Raisa membeku di tempat duduknya, napasnya tertahan. Matanya terpaku pada gagang pintu yang mulai bergerak perlahan ke bawah. Seseorang di luar sana sedang mencoba membuka pintunya lagi.
Dan kali ini, Raisa tahu persis siapa orang itu.
Gagang pintu itu berderit, lalu berhenti karena tertahan oleh gerendel tambahan. Sebuah ketukan pelan terdengar, disusul oleh suara pria yang lembut namun membuat bulu kuduk Raisa berdiri tegak.
"Raisa? Kamu sudah di dalam? Aku cuma mau memastikan... apa kunci pintu barumu berfungsi dengan baik?"
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!