Beton Berdarah: Reinkarnasi Sang Tumbal Proyek

Bab 1: Bab 1 - Menyadari situasi setelah terbangun di dalam pi...

Pengaturan Membaca

Napas adalah kemewahan yang baru saja dirampas dariku.

Kegelapan yang menyelimutiku tidaklah hampa; ia berat, basah, dan berbau tajam seperti belerang serta debu yang lembap. Aku mencoba menghirup udara, namun yang ma**k ke dalam tenggorokanku adalah cairan kental yang dingin dan berpasir. Paru-paruku berontak, mengirimkan sinyal rasa sakit yang meledak-ledak ke seluruh saraf, namun tubuhku seolah terkunci oleh ribuan ton tekanan.

Ingatan terakhirku adalah kobaran api. Mobil Mercedes-Benz S-Class milikku terguling di pinggir jalan tol yang baru setengah jadi, bensin meluber, dan suara tawa Hendra—wakil direkturku yang setia—terdengar samar di balik kaca yang retak sebelum semuanya meledak. Aku seharusnya sudah mati. Aku seharusnya hancur menjadi abu.

Namun, rasa sakit yang kurasakan sekarang terlalu nyata untuk sebuah kematian.

Aku membuka mata. Perih luar biasa langsung menyerang korneaku saat cairan alkali yang korosif menyentuh bola mata. Dalam remang cahaya yang menyusup dari celah sempit jauh di atas sana, aku melihat hutan besi ulir—tulangan baja yang menyilang dengan rapat.

Aku tidak berada di neraka. Aku berada di dalam kolom pilar utama Jembatan Layang Cakrawala. Proyek mercusuar perusahaanku sendiri, PT Adnan Konstruksi.

*Glug. Glug. Glug.*

Suara itu bergema di dalam ruang sempit ini. Getaran hebat merambat dari dinding-dinding baja bekisting. Di atasku, mulut mesin *concrete pump* terus memuntahkan adonan semen segar. Cairan abu-abu itu kini sudah mencapai dadaku, menjepit tulang rusukku hingga aku bisa mendengar bunyi berderak yang mengerikan dari dalam tubuhku sendiri.

Aku mencoba menggerakkan tangan, namun pergelangan tanganku terikat kencang pada besi tulangan nomor tiga puluh dua dengan kawat bendrat yang menyayat daging. Aku melihat tanganku—bukan, ini bukan tanganku. Kulit ini lebih gelap, kasar dengan kapalan di mana-mana, dan jauh lebih muda. Ada sisa tato murah yang luntur di lengan bawahnya. Ini bukan tubuh Adnan yang berusia empat puluh lima tahun dengan setelan jas seharga ratusan juta.

Ini tubuh seorang buruh. Arya. Nama itu tiba-tiba terlintas di benakku seperti sebuah bisikan yang tertinggal di sisa-sisa memori otak ini.

"Maafkan kami, Arya. Ini demi keselamatan kita semua. Proyek ini butuh 'penguat'."

Suara itu. Aku mengenalnya. Itu suara Jarot, kepala mandor yang selalu kukerjakan untuk proyek-proyek 'sulit'. Suaranya terdengar dari atas sana, teredam oleh bising mesin mixer.

"Sudah, jangan banyak bicara! Cepat tuang sebelum matahari terbit!" Kali ini suara yang berbeda menyambar. Suara yang lebih halus, namun penuh racun. Hendra.

Ba****** itu ada di sana. Di atas lubang pilar tempat aku—atau tubuh Arya ini—sedang dikubur hidup-hidup.

"Hendra..." aku mencoba berteriak, namun yang keluar dari mulutku hanyalah gelembung udara dan adonan semen yang semakin memenuhi rongga mulut.

Rasa panas mulai menjalar. Reaksi kimia dari pengerasan beton mulai membakar kulit Arya. Aku merasakan sensasi seolah-olah kulitku sedang dikuliti perlahan dengan ampelas kasar. Tekanannya kini mencapai leher. Setiap kali aku menghembuskan napas, semen itu mendesak lebih dalam, mempersempit ruang bagi paru-paruku untuk mengembang kembali.

Ini adalah praktik klenik yang selalu kuanggap sebagai dongeng kolot para buruh. *Tumbal Proyek.* Mereka percaya bahwa jembatan ini tidak akan pernah kokoh tanpa nyawa yang ditanam di jantung pilar utama. Dan Hendra, manusia rasional yang selama ini mengelola keuanganku, ternyata menggunakan anggaran keselamatan kerja untuk menyewa dukun dan mengorbankan nyawa buruhnya sendiri demi menutupi korupsi material yang ia lakukan.

Aku ingin tertawa dalam keputusasaan ini. Aku, sang raja konstruksi, sedang disemen oleh beton bermutu K-350 yang aku pesan sendiri. Aku sedang menjadi bagian dari fondasi kerajaanku dengan cara yang paling hina.

Pandanganku mulai mengabur. Oksigen di kepalaku menipis, digantikan oleh kilasan memori Arya yang tumpang tindih dengan memoriku. Aku melihat seorang ibu tua di kampung yang menunggu kiriman uang, aku melihat wajah adik perempuan Arya yang ingin kuliah... dan kemudian aku melihat wajahku sendiri, Adnan, yang menatap dingin dari balik meja kaca besar, mengabaikan laporan tentang 'kecelakaan kerja' yang merenggut nyawa manusia setiap bulannya.

*Karma tidak pernah salah alamat,* pikirku dalam gelap.

Namun, di tengah rasa sakit yang memuncak, di saat jantung Arya hampir berhenti berdetak, aku merasakan sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang berdenyut di dalam darahku—sebuah energi dingin yang berlawanan dengan panasnya semen ini.

Saat kesadaranku mulai melayang keluar dari tubuh fisik yang terjepit, aku tidak pergi menuju cahaya. Sebaliknya, aku merasa jiwaku merambat ma**k ke dalam pori-pori beton yang masih basah. Aku bisa merasakan setiap partikel pasir, setiap kerikil kecil, dan setiap molekul air di sekelilingku. Seolah-olah seluruh struktur beton ini adalah perpanjangan dari saraf-sarafku.

Aku menutup mata Arya untuk terakhir kalinya, namun anehnya, aku tetap bisa melihat. Aku melihat melalui getaran pilar. Aku bisa 'melihat' Hendra yang sedang berdiri di atas sana, merokok dengan tenang sambil menatap ke bawah, ke arah lubang yang akan menjadi makamku.

"Selamat tinggal, Boss. Terima kasih atas perusahaannya," bisik Hendra lirih, c**up untuk didengar oleh indra baruku.

Amarah yang belum pernah kurasakan sebelumnya meledak di dalam dadaku. Amarah itu bukan lagi milik Adnan yang dingin, atau Arya yang malang. Itu adalah amarah dari sesuatu yang jauh lebih gelap.

*Kau belum selesai denganku, Hendra.*

Tiba-tiba, beton di sekelilingku bergetar hebat. Bukan karena mesin vib**tor, melainkan karena kehendakku. Aku merasakan energi di dalam pilar itu bergejolak, menolak untuk mengeras. Cairan semen yang seharusnya diam itu mulai memutar, membentuk pusaran kecil di bawah kaki Arya.

Aku belum mati. Belum boleh mati.

Jika mereka menginginkan tumbal untuk memperkokoh jembatan ini, maka aku akan menjadi tumbal yang akan meruntuhkan seluruh dunia mereka. Aku akan menghancurkan pilar ini dari dalam, meski aku harus menghancurkan tubuh baru yang baru saja kudiami.

Tekanan di leherku menghilang sesaat ketika aku memproyeksikan seluruh wasiat terakhirku ke dalam satu dorongan energi supernatural. Di atas sana, suara teriakan ketakutan mulai terdengar. Mesin mixer mendadak mati dengan suara ledakan pendek.

"Apa itu? Kenapa betonnya bergerak?!" teriak Jarot histeris.

Aku tersenyum di dalam kegelapan beton. Mata Arya yang terpejam kini terbuka kembali, memancarkan cahaya merah pucat yang menembus keruhnya semen.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah yang memegang kendali atas struktur bangunan ini. Bukan sebagai CEO, melainkan sebagai hantu yang terperangkap dalam beton berdarah mereka.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca