Tangan Linda gemetar saat ia merogoh tas selempangnya, mencari unit kendali kamera boroskopik yang telah ia modifikasi. Di bawah temaram lampu kerja yang berkedip-kedip di area Proyek Jembatan Layang P-24, uap dingin napasnya terlihat seperti asap tipis. Bau semen basah yang tajam menusuk hidungnya, bau yang biasanya ia anggap sebagai aroma kesuksesan, namun malam ini, bau itu terasa seperti bau kematian.
"Ayo, jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri ketika jemarinya yang dingin kesulitan menekan tombol daya.
Di hadapannya, pilar utama berdiri tegak, sebuah monolit beton yang tampak angkuh namun menyimpan rahasia busuk. Linda tahu ada yang tidak beres sejak pengecoran mendadak dua malam lalu. Laporan volume beton tidak sinkron dengan volume rongga pilar. Ada perpindahan massa yang tak ma**k akal. Sebagai seorang engineer senior, angka-angka itu menghantuinya. Ia tidak percaya takhayul, tapi ia percaya pada data. Dan data itu berteriak bahwa ada 'benda asing' bervolume sekitar 60 hingga 70 liter yang terjebak di dalam sana.
Layar kecil di tangannya menyala, memancarkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang pucat. Ia mengarahkan kabel serat optik kamera itu ke lubang inspeksi kecil yang belum sempat ditutup sempurna di dasar pilar. Kabel hitam itu meliuk seperti ular, ma**k ke dalam kegelapan beton yang masih setengah mengeras di bagian inti.
Jantung Linda berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung telinga. Ia mengatur fokus kamera. Layar menunjukkan gambaran kabur abu-abu. Ia mendorong kabel itu lebih dalam. Lima puluh sentimeter. Satu meter.
Tiba-tiba, gambar di layar bergoyang hebat. Linda mengerutkan kening. Apakah itu gelembung udara? Tidak, konsistensinya berbeda. Ia memutar tuas kendali, mengarahkan lensa mikro itu ke sisi kiri. Saat fokus terkunci, napas Linda tercekat di tenggorokan.
Di balik lapisan slurry semen yang kental, ia melihat sesuatu yang berwarna kontras. Bukan abu-abu, melainkan putih pucat—tekstur yang menyerupai kulit manusia. Dan di sana, terjepit di antara rangkaian besi tulangan, tampak sebuah bentuk yang sangat ia kenali: sebuah jam tangan pekerja yang murah, kacanya retak, namun jarum detiknya masih bergetar lemah di bawah tekanan beton.
"Ya Tuhan," Linda menutup mulutnya dengan tangan yang bebas. Matanya membelalak. Itu bukan sekadar benda asing. Itu manusia.
Tiba-tiba, sebuah suara berat dan berwibawa memecah kesunyian malam, membuat Linda hampir menjatuhkan perangkat mahalnya.
"Lembur lagi, Linda? Dedikasimu memang tidak perlu diragukan."
Linda tersentak, dengan cepat ia memutar tubuhnya sambil menyembunyikan monitor di balik punggungnya. Di sana, berdiri Baskoro, wakil CEO yang kini memegang kendali penuh sejak 'kecelakaan' yang menimpa Adnan. Pria itu berdiri tegak dalam setelan mahal yang tampak kontras dengan lingkungan proyek yang kotor. Senyumnya tipis, namun matanya tidak tersenyum—dingin dan waspada.
"Pak Baskoro," Linda mencoba menstabilkan suaranya, meski ia merasa lututnya lemas. "Saya... saya hanya memeriksa suhu curing beton. Saya khawatir ada retak rambut akibat panas hidrasi."
Baskoro melangkah maju. Sepatu pantofelnya yang mengkilap berderit di atas kerikil. Ia berhenti hanya satu meter dari Linda, jarak yang terlalu dekat untuk kenyamanan Linda. Baskoro melirik ke arah kabel hitam yang masih menjunt** ma**k ke dalam lubang pilar.
"Begitukah? Bukankah itu tugas tim inspeksi lapangan?" Baskoro bertanya, nada suaranya lembut namun mengandung ancaman yang tak terucapkan. Ia mengulurkan tangan, seolah hendak mengambil perangkat yang disembunyikan Linda. "Boleh aku lihat hasilnya?"
Keringat dingin mengalir di pelipis Linda. Jarinya meraba tombol 'off' di belakang punggungnya, namun ia tahu jika ia melakukannya secara tiba-tiba, itu akan terlihat sangat mencurigakan.
"Hasilnya... masih belum stabil, Pak. Sensornya sepertinya terganggu oleh gangguan elektromagnetik dari alat berat," Linda berbohong, berharap latar belakang teknisnya bisa menjadi perisai.
Baskoro menyipitkan mata. Ia memandang pilar P-24 dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebanggaan dan sesuatu yang lebih gelap. "Pilar ini adalah mahkota perusahaan kita, Linda. Adnan membangunnya dengan ambisi, dan saya akan memastikannya berdiri tegak, apa pun taruhannya. Kita tidak ingin ada 'gangguan' yang menghambat peresmian minggu depan, bukan?"
Kata 'apa pun taruhannya' ditekan dengan nada yang membuat bulu kuduk Linda berdiri. Ia tahu Baskoro sedang memberinya peringatan.
"Tentu saja, Pak," sahut Linda pelan.
Saat Baskoro hendak berbicara lagi, suara dentuman keras terdengar dari dalam pilar. *Dug. Dug.*
Keduanya terdiam. Suara itu bukan suara mesin. Itu adalah suara benturan tumpul, seperti sesuatu yang besar menghantam dinding beton dari dalam. Getarannya merambat melalui lant** beton hingga ke kaki Linda.
Baskoro tampak sedikit tegang, matanya melirik pilar dengan gusar. "Suara apa itu?"
"Mungkin... pergeseran struktur?" Linda menjawab asal, padahal hatinya menjerit ketakutan.
Linda memberanikan diri melirik ke layar monitor yang masih menyala di belakang tubuhnya. Di sana, di dalam kegelapan beton, kamera boroskopik itu menangkap sesuatu yang mustahil. Kulit putih pucat yang ia lihat tadi bergerak. Sebuah tangan yang hancur karena tekanan beton seolah-olah sedang meraba-raba mencari arah, dan tepat di depan lensa kamera, sebuah mata terbuka di tengah-tengah lumpur semen.
Mata itu tidak terlihat seperti mata manusia biasa. Mata itu bersinar dengan amarah yang murni, menatap langsung ke arah Linda melalui lensa.
"Linda?" Suara Baskoro meninggi, ia mulai curiga melihat ekspresi horor di wajah bawahannya. "Apa yang kamu lihat?"
Baskoro melangkah maju untuk merenggut monitor dari tangan Linda. Pada saat yang sama, sirene peringatan di ujung lokasi proyek berbunyi nyaring karena korsleting listrik, menciptakan kekacauan sesaat yang m****akkan telinga.
"Saya harus pergi, ada masalah di panel listrik!" Linda berseru, memanfaatkan kepanikan itu untuk menarik kabel kameranya dengan kasar dan berlari menjauh sebelum Baskoro sempat melihat layar monitornya.
Linda terus berlari menuju mobilnya, jantungnya berpacu g***-g***an. Ia ma**k ke dalam kabin, mengunci pintu, dan dengan tangan gemetar ia kembali menyalakan monitor yang sempat ia matikan. Ia memutar ulang rekaman beberapa detik terakhir sebelum kabel dicabut.
Di detik terakhir rekaman itu, sebelum layar menjadi semut statis, ia melihat bibir di dalam beton itu bergerak, membentuk sebuah kata tanpa suara yang bisa ia baca dengan jelas.
*“B-A-S-K-O-R-O.”*
Linda menjatuhkan monitor itu ke lant** mobil. Itu bukan sekadar mayat. Sesuatu di dalam sana masih hidup, atau setidaknya, sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari kematian sedang bangkit dari balik beton berdarah itu. Dan yang lebih menakutkan, ia baru saja menyadari bahwa mata yang menatapnya tadi... adalah mata Adnan, CEO-nya yang seharusnya sudah mati terbakar di dalam mobil.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!