Dingin itu bukan lagi sekadar suhu, melainkan entitas yang berusaha melumat tulang-tulangku. Beton di sekeliling tubuh Aryaβtubuhku sekarangβsudah melewati fase cair. Ia kini menyerupai lumpur hisap yang mulai membatu, menjepit paru-paruku hingga setiap embusan napas terasa seperti mencuri oksigen dari lubang jarum. Aku tidak bisa berteriak. Mulutku tersumpal campuran semen dan pasir yang kasar, mengikis selaput lendir hingga rasa amis darah menjadi satu-satunya rasa yang tersisa.
Namun, di tengah kegelapan absolut ini, kesadaranku justru meluas. Aku tidak lagi hanya berada di dalam pilar P-12. Aku bisa merasakan getaran mesin bor di kejauhan, langkah kaki sepatu bot yang berat di atas perancah, dan yang paling penting: aliran listrik yang berdenyut di sepanjang kabel-kabel proyek seperti saraf-saraf raksasa.
Aku adalah Adnan. Aku membangun kerajaan ini dengan logika dan angka. Dan sekarang, logika itulah yang akan menjadi senjataku.
*Fokus, Adnan. Tarik energinya,* bisikku pada diri sendiri di dalam ruang hampa pikiranku.
Aku memproyeksikan sisa-sisa kesadaranku keluar dari cangkang daging yang hancur ini. Aku merambat melalui besi tulangan yang tertanam dalam beton, mencari titik singgung dengan kabel *power* yang terhubung ke lampu-lampu sorot dan sistem interkom di area konstruksi jembatan layang ini.
Rasanya seperti menyentuh kawat panas. Kepalaku seakan meledak saat jiwaku bersentuhan dengan arus AC bertegangan tinggi. Aku tidak menariknya, aku memanipulasinya. Aku memaksakan frekuensi tertentu ke dalam aliran itu.
*Blink. Blink. Blink.*
Di luar sana, di bawah langit malam yang pekat, lampu sorot raksasa yang menerangi pilar P-12 berkedip. Aku bisa merasakannya.
"Eh, apa-apaan ini?" Suara serak itu milik Jaka, salah satu mandor bawahan Prasetyoβwakilku yang berkhianat. "Kabelnya longgar lagi? Woi, periksa panelnya!"
Aku mendengar langkah kaki terburu-buru di atas tanah becek. Ini kesempatanku. Aku harus mengirimkan pesan. Sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Sesuatu yang hanya diketahui oleh orang-orang tingkat atas di perusahaanku sendiri.
Aku mulai memacu denyut listrik itu dengan pola yang terukur. Pendek, pendek, pendek. Panjang, panjang, panjang. Pendek, pendek, pendek.
S-O-S.
Lampu sorot itu berkedip dengan ritme yang sempurna. Di dalam kegelapan beton, aku memejamkan mata, memvisualisasikan setiap ketukan. *Tit... tit... tit... taaa... taaa... taaa... tit... tit... tit...*
"Lampu ini aneh," gumam suara lain, lebih muda, mungkin salah satu buruh harian. "Ritmenya teratur, Kang. Kayak... kayak ada yang mainin saklar."
"Jangan ngaco! Palingan trafonya kena air hujan," bentak Jaka. Aku merasakan getaran saat dia menendang tiang lampu. "Cepat benerin! Kalau betonnya keburu kering dan posisi pilarnya miring gara-gara kita kurang cahaya, Prasetyo bakal gantung kita semua!"
Sial. Mereka terlalu bodoh untuk mengerti Morse dasar. Aku harus lebih spesifik. Aku butuh seseorang yang memiliki otak di proyek ini. Aku mengganti pola. Aku harus mengirimkan kode proyek internal untuk pilar ini, kode yang seharusnya bersifat rahasia: *P-1-2-B-L-O-O-D*. Tidak, itu terlalu panjang. C**up kode otentikasi darurat CEO.
*A-D-N-A-N.*
Aku mengerahkan seluruh energiku. Tubuh Arya di dalam beton mulai mengejang, sebuah reaksi fisik akibat lonjakan adrenalin metafisika yang kugunakan. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah saraf-sarafku ditarik paksa dari daging.
*Blink-Dash. Dash-Dot-Dot. Dash-Dot. Blink-Dash. Dash-Dot.*
Lampu itu berdansa. Cahaya putihnya membelah kegelapan, memantul di permukaan sungai di bawah jembatan.
"Kang Jaka, lihat! Itu... itu bukan korslet biasa," suara buruh muda itu terdengar bergetar, ada nada ketakutan di sana. "Itu kayak kode. Aku pernah belajar di Pramuka... itu huruf A... terus D..."
"Diam kamu, Satria! Jangan nakut-nakuti!" Jaka berteriak, tapi aku bisa merasakan keraguan dalam suaranya. Getaran langkah kakinya melambat.
"Tapi Kang, itu beneran! A-D-N-A-N. Itu nama Pak CEO yang kecelakaan minggu lalu, kan?"
Hening sejenak. Angin malam berdesir melewati celah-celah perancah, membawa aroma semen basah dan karat. Aku bisa merasakan kengerian mulai merayap di kulit mereka. Ketakutan adalah konduktor energi yang sangat baik. Aku mengisap ketakutan itu, menggunakannya untuk memperkuat manifestasiku.
Tiba-tiba, lampu sorot itu meledak.
*PRANK!*
Pecahan kaca menghujani tanah. Kegelapan kembali menelan area pilar P-12, hanya menyisakan lampu pijar kecil dari kejauhan yang tidak c**up untuk menerangi wajah-wajah mereka.
"S****!" umpat Jaka. Suaranya pecah. "Ayo pergi dari sini! Biarkan saja mesin pengaduknya jalan sendiri. Kita lapor ke Pak Prasetyo kalau ada gangguan teknis... atau... atau gangguan lain."
"Tapi Kang, kalau benar itu Pak Adnan..."
"Mati ya mati saja! Jangan banyak bicara!"
Aku merintih dalam hati. Suaraku hanya berupa gelembung udara kecil yang terjebak di kerongkongan beton. Mereka pergi. Mereka melarikan diri bukannya menghancurkan pilar ini. Kesadaranku mulai menipis, ditarik kembali ke dalam raga yang semakin terjepit.
Setiap detik yang berlalu, beton ini semakin solid. Jika pilar ini benar-benar mengeras sempurna, jiwaku akan tersegel di dalamnya selamanya, menjadi tumbal yang menjaga konstruksi ini tetap berdiri tegak di atas penderitaanku.
Namun, di tengah keputusasaan itu, aku merasakan sebuah getaran baru. Bukan langkah kaki Jaka atau Satria. Seseorang sedang mendekati pilar P-12 dengan langkah yang tenang, terukur, dan penuh wibawa. Seseorang yang memegang senter dengan cahaya biru yang dingin.
Aku memusatkan sisa indra penciumanku yang mulai mati. Bau parfum mahal. *Woody and leather.* Itu parfum yang sering aku gunakan.
Langkah itu berhenti tepat di depan dinding beton tempat kepalaku tertanam di baliknya. Sebuah tangan bersarung kulit menyentuh permukaan pilar yang masih hangat karena proses kimiawi semen.
"Kau masih di dalam sana, Adnan?"
Suara itu rendah, halus, dan sangat kukenal. Itu adalah suara Prasetyo. Dia tidak terdengar takut. Dia terdengar... puas.
"Jangan khawatir," bisiknya, sangat dekat hingga aku bisa merasakan getaran suaranya menembus lapisan beton. "Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan pilar ini. Kau adalah fondasi terbaik yang pernah dimiliki perusahaan ini. Tetaplah di sana, Kawan. Jadilah abadi."
Prasetyo mengetuk beton itu tiga kali, sebuah gestur ejekan yang membuat kemarahanku meluap hingga titik didih. Di saat itulah, aku menyadari satu hal: memanggil bantuan adalah kesalahan. Jika aku ingin keluar, aku tidak butuh penyelamat. Aku butuh menjadi monster yang lebih mengerikan daripada beton yang mengurungku.
Aku merasakan sesuatu retak. Bukan betonnya, tapi sesuatu di dalam jiwaku. Arus listrik di sekitar lokasi proyek tiba-tiba melonjak drastis tanpa kendaliku. Semua lampu di sepanjang jembatan layang itu menyala terang benderang hingga menyilaukan mata, lalu meledak secara serentak dalam satu simfoni kehancuran yang m****akkan telinga.
Dalam kegelapan total yang menyusul, aku melihatnya. Bukan dengan mata fisik, tapi dengan mata batin. Aliran listrik itu tidak padam. Ia kini merayap di tanah, membentuk sulur-sulur cahaya kebiruan yang menuju ke arah satu titik.
Ke arah Prasetyo yang mulai panik.
"Apa-apaan ini?!" teriaknya saat ponsel di sakunya mulai mengeluarkan percikan api.
Aku tersenyum di dalam kegelapan beton. Permainan baru saja dimulai, Pras. Dan kau baru saja memberikan energi yang kubutuhkan untuk menarikmu ma**k ke dalam neraka bersamaku.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!