Hendra menyeka keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan sutra yang kini sudah ternoda debu semen kelabu. Di bawah lampu sorot proyek yang menyilaukan, ia tampak seperti dirigen orkestra yang kalut, mengarahkan deretan truk *mixer* beton yang mengantre seperti monster besi yang kelaparan. Di hadapannya, pilar P-14 berdiri kokoh, sebuah silinder raksasa yang menelan rahasia gelapnya bulat-bulat.
"Cepat! Jangan ada yang berhenti! Saya mau pilar ini penuh sebelum fajar!" teriak Hendra, suaranya parau karena debu dan kecemasan yang mencekik.
Di sampingnya, seorang mandor bertopi kuning tampak ragu. "Tapi Pak Hendra, tekanan di pipa pompanya agak aneh. Mesinnya bunyi *ngeden* terus, seolah-olah ada sumbatan di dalam lubang pilar."
Hendra mencengkeram kerah baju mandor itu, mengabaikan sopan santun korporat yang biasanya ia agungkan. "Saya tidak peduli! Ma**kkan saja semuanya! Kalau perlu, paksa pompanya sampai maksimal. Kita harus menutup lapisan akhir malam ini juga. Mengerti?!"
Mandor itu mengangguk cepat, ketakutan melihat kilat keputusasaan di mata wakil CEO-nya. Hendra melepaskan cengkeramannya dan berbalik, memandang ke arah pilar yang menjulang. Di dalam sana, terkubur di bawah ribuan ton beton cair, adalah Aryaβburuh si**** yang ia jadikan tumbal. Dan lebih penting lagi, di dalam sana terkubur pula jejak sabotase yang ia lakukan terhadap Adnan.
Hendra merasa seolah-olah arwah Adnan sedang mengawasinya dari balik kegelapan konstruksi ini. Ia benci perasaan ini. Ia yang merancang semuanya. Ia yang memastikan rem mobil Adnan blong. Ia yang memerintahkan dukun kepercayaannya untuk meminta 'penguat' bagi jembatan ini agar biaya material bisa dipangkas habis-habisan. Semuanya demi profit, demi takhta CEO yang kini sudah di depan mata.
Tiba-tiba, suhu di sekitar Hendra turun drastis. Hawa dingin yang menusuk tulang muncul entah dari mana, membuat napasnya menguap di udara malam yang gerah.
*Gub**k!*
Salah satu lampu sorot besar di atas perancah meledak, menghujani area di bawahnya dengan pecahan kaca. Para pekerja berteriak, berlarian menjauh.
"Kembali ke posisi kalian!" raung Hendra, meski jantungnya mulai berdegup kencang seirama dengan dentuman aneh yang muncul dari dalam tanah.
*Dug. Dug. Dug.*
Suara itu pelan, tapi bergetar hingga ke telapak kaki Hendra. Itu bukan suara mesin. Itu terdengar seperti detak jantung yang raksasa, atau mungkin suara kepalan tangan yang menghantam dinding beton dari dalam.
"Pak, lihat mesin pengaduknya!" teriak seorang operator dari atas anjungan.
Hendra menoleh. Truk *mixer* yang sedang memompa beton ke puncak pilar P-14 mulai berguncang hebat. Mesin dieselnya meraung di nada tinggi yang menyakitkan telinga, seolah-olah ada sesuatu yang menahan alirannya dari dalam pipa. Pipa distribusi setebal lengan manusia itu menggeliat seperti ular yang kesakitan, membengkak di beberapa bagian.
"Hentikan mesinnya! Matikan!" perintah sang mandor lewat radio.
"Jangan! Terus pompa!" potong Hendra kalap. Jika pengecoran ini berhenti sekarang, beton akan mengeras setengah jalan dan rahasia di dalamnya mungkin akan terendus saat audit teknis. "Hancurkan sumbatannya! Tambah tekanannya!"
Tiba-tiba, keheningan yang mencekam menyelimuti lokasi proyek selama satu detik. Semua mesin seolah mati secara bersamaan. Dan dalam keheningan itu, Hendra mendengar sebuah bisikan yang sangat dekat di telinganya. Suara yang sangat ia kenal. Suara dingin, otoriter, dan penuh kebencian milik Adnan.
*"Hendra... kau pikir semen ini c**up untuk membungkamku?"*
Hendra terhuyung ke belakang, matanya membelalak menatap pilar P-14. Di permukaan beton yang masih basah di puncak pilar, ia melihat sesuatu yang mustahil. Permukaan semen itu bergolak, membentuk pola wajah yang sedang berteriak kesakitan, sebelum menghilang kembali ditelan gravitasi.
Lalu, kekacauan pecah.
Mesin pengaduk beton itu meledak dengan dentuman yang m****akkan telinga. Bukan karena kegagalan mekanis biasa, tapi seolah-olah ada ledakan energi dari dalam pusat mesin tersebut. Serpihan besi seukuran piring terbang melesat ke segala arah. Pipa distribusi beton pecah, menyemburkan semen cair panas yang bercampur dengan oli ke arah para pekerja.
"Argh! Mataku! Mataku!" teriak salah satu buruh yang terkena semburan.
Hendra terjatuh ke tanah, berlindung di balik tumpukan besi ulir. Ia melihat mesin pengaduk beton raksasa itu kini terbakar, apinya berwarna biru pucat yang tidak wajar. Cairan beton yang seharusnya tumpah ke tanah justru merayap naik, melawan gravitasi, membentuk sulur-sulur kasar yang seolah-olah mencari sesuatu. Atau seseorang.
Asap hitam mengepul tebal, tapi di tengah kabut itu, Hendra melihat bayangan seorang pria berdiri di atas puncak pilar P-14. Bayangan itu samar, tertutup debu dan uap, tapi sorot matanya yang merah menyala menembus kegelapan, mengunci langsung ke arah Hendra.
Tubuh Hendra gemetar hebat. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke tanah. Semen yang tercecer di bawah sepatunya mulai mengeras dengan kecepatan yang tidak ma**k akal, menjepit kakinya di tempat.
"Tolong! Siapa saja, tolong saya!" teriak Hendra, tapi para pekerja sudah lari kocar-kacir menyelamatkan diri dari ledakan susulan.
Suara geraman metalik kembali terdengar dari dalam pilar P-14. Keretakan mulai muncul di permukaan pilar yang baru saja dicor, menjalar seperti jaring laba-laba. Sesuatu dari dalam sedang mencoba keluar, dan Hendra tahu, jika pilar itu runtuh, bukan hanya proyek ini yang akan hancur, tapi seluruh hidup dan dosanya akan tersingkap di bawah lampu sorot yang kini mulai padam satu per satu.
Satu per satu lampu di area proyek meledak, menyisakan Hendra dalam kegelapan total, hanya ditemani oleh suara langkah kaki yang berat dan basah, mendekat dari arah pilar yang retak.
"Belum, Hendra," suara itu menggema, kali ini langsung di dalam kepalanya. "Permainan ini baru saja dimulai."
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!