Kegelapan di dalam pilar P-14 bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya; ia adalah entitas yang hidup, berat, dan beraroma semen basah yang mencekik. Di dalam sana, tubuh Arya sudah tidak terasa seperti miliknya sendiri. Paru-parunya hanya mampu mengambil sisa-sisa oksigen yang terjebak dalam rongga kecil di dekat wajahnya, setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan rasa nyeri yang menusuk tulang rusuk.
Namun, kesadaran Adnan menolak untuk padam. Amarahnya adalah bahan bakar yang menjaga percikan nyawa itu tetap menyala.
*Linda.*
Satu nama itu bergaung di benaknya. Linda adalah asisten pribadinya selama sepuluh tahun. Wanita itu teliti, setia, dan yang paling penting, ia memiliki akses ke cetak biru rahasia dan laporan pengadaan material yang telah dimanipulasi oleh Hendra—wakilnya yang berkhianat. Jika ada satu orang yang bisa menggerakkan alat berat ke pilar ini tanpa memicu kecurigaan prematur, itu adalah dia.
Adnan memejamkan mata dalam kegelapan total. Ia mulai menarik energi dari rasa sakitnya sendiri. Ia membayangkan struktur molekul beton yang mengurungnya, getaran frekuensi di sekitar lokasi proyek, dan garis imajiner yang menghubungkan jiwanya dengan ruang kantor direksi yang berjarak lima ratus meter dari jembatan layang ini.
*Keluar. Aku harus keluar.*
Rasa sakit itu meledak. Adnan merasa seolah-olah kulitnya ditarik paksa dari dagingnya. Di dalam pilar, jantung Arya berdegup kencang, lalu melambat secara drastis—tanda bahwa tubuh fisiknya mulai menyerah karena ditinggalkan oleh sang nakhoda.
Di kantor proyek yang hanya diterangi lampu meja temaram, Linda sedang memijat pelipisnya. Di hadapannya bertumpuk laporan audit yang tidak ma**k akal. Bau kopi yang sudah dingin bercampur dengan aroma pengharum ruangan otomatis. Tiba-tiba, suhu di ruangan itu merosot tajam. Bulu kuduk Linda berdiri. Ia merasakan hembusan angin dingin yang membawa bau aneh: bau semen basah dan anyir darah.
"Siapa di situ?" suara Linda bergetar. Ia menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat.
Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Di sudut ruangan, udara mulai beriak seperti fatamorgana di atas aspal panas. Perlahan, sesosok siluet mulai memadat.
Adnan mengerahkan seluruh kehendaknya. Manifestasi ini terasa seperti memeras jantungnya sendiri. Ia melihat Linda—wajahnya yang pucat, matanya yang membelalak ketakutan, dan jemarinya yang mencengkeram pinggiran meja hingga memutih.
"Lin... da..."
Suara itu bukan berasal dari pita suara manusia, melainkan getaran yang langsung menghunjam ke gendang telinga. Itu adalah suara Adnan—berat, berwibawa, namun kini dipenuhi penderitaan yang tak tertahankan.
"Pak... Pak Adnan?" bisik Linda, suaranya nyaris hilang. "Tidak mungkin. Anda sudah... kecelakaan itu..."
Wujud Adnan di depan Linda tampak tidak stabil. Kadang ia terlihat seperti dirinya yang dulu—setelan jas mahal yang rapi—namun sedetik kemudian, citra itu bergeser menjadi sosok pemuda asing dengan wajah hancur dan tubuh yang terbalut cairan abu-abu pekat yang mulai mengeras.
"Pilar... empat belas..." Adnan memaksakan kata-katanya. Setiap huruf yang terucap terasa seperti mencabut paksa nyawa dari tubuh Arya di pilar sana. Pandangannya mulai mengabur, pinggiran kesadarannya mulai menghitam. "Hancurkan... pilar itu... Linda. Aku... di dalam."
Linda mundur hingga punggungnya menab**k lemari arsip. "Apa yang Anda katakan? Pilar P-14 baru saja selesai dicor sore tadi. Pak Hendra bilang..."
"Hendra... membunuhku," potong Adnan. Manifestasinya bergetar hebat. Di pilar P-14, tubuh Arya mulai mengalami kejang hebat. Darah segar merembes dari hidung dan telinganya saat tekanan beton mulai meremukkan pembuluh darahnya. "Selamatkan aku... Lin... Sebelum betonnya... benar-benar mati."
Adnan bisa merasakan tarikan gravitasi yang luar biasa kuat, menarik jiwanya kembali ke dalam penjara semen. Manifestasinya di kantor Linda mulai transparan. Cahaya lampu neon meledak, mengirimkan percikan api kecil ke lant**.
"Tolong..." Adnan berbisik untuk terakhir kalinya. Visualisasinya pecah menjadi butiran debu cahaya yang dingin sebelum menghilang sepenuhnya.
Kembali di dalam kegelapan pilar, Adnan tersentak ma**k ke dalam tubuh Arya dengan hantaman rasa sakit yang luar biasa. Ia terbatuk, tapi yang keluar hanyalah cairan kental. Paru-parunya seolah terbakar. Kesadarannya meredup dengan cepat. Ia bisa merasakan jantung Arya berdenyut lemah, satu-satu, seolah enggan melanjutkan tugasnya.
Keheningan kembali menguasai. Dingin yang absolut mulai merayap dari ujung kaki hingga ke dadanya.
Di kantor, Linda masih berdiri mematung. Napasnya memburu, matanya menatap kosong ke titik di mana Adnan tadi berdiri. Tangannya gemetar hebat saat ia meraih ponselnya. Ia tahu ia harus lari, ia tahu ini g***, tapi aroma semen basah itu masih tertinggal di indra penciumannya—sebuah bukti nyata bahwa apa yang ia lihat bukanlah sekadar halusinasi akibat kurang tidur.
Tiba-tiba, pintu kantor Linda terbuka dengan kasar. Hendra berdiri di sana, matanya menyipit penuh selidik, menatap Linda yang tampak pucat pasi.
"Linda? Kenapa kau belum pulang?" tanya Hendra, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang terselubung. Matanya kemudian beralih ke tumpukan laporan di meja, lalu ke arah sudut ruangan yang masih terasa dingin. "Dan kenapa ruangan ini bau semen?"
Linda menelan ludah, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya di balik meja. Nyawa Adnan—atau apa pun yang tersisa darinya—kini bergantung pada satu jawaban yang akan ia berikan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!