Jemari Linda gemetar hebat, saking kuatnya hingga layar ponsel di tangannya tampak bergoyang-goyang. Ia duduk meringkuk di sudut apartemennya yang gelap, satu-satunya cahaya hanya berasal dari lampu jalanan yang menerobos ma**k melalui celah gorden. Suasana malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah AC di ruangannya disetel ke suhu paling rendah, padahal ia sudah mematikannya sejak sejam yang lalu.
Di layar ponselnya, sebuah berkas audio berdurasi empat puluh detik terpampang. Linda menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal kerikil tajam. Dengan gerakan ragu, ia menekan tombol *play*.
Suara statis awalnya mendominasi, desis angin di lokasi proyek Jembatan Layang P-14. Namun kemudian, dari balik lapisan suara bising itu, muncul sesuatu yang membuat bulu kuduk Linda berdiri tegak. Suara garukan kuku pada permukaan keras, diikuti rintihan yang teredam—seperti seseorang yang mencoba bicara namun mulutnya penuh dengan lumpur.
*"Lin... da..."*
Suara itu serak, hancur, namun memiliki otoritas yang sangat ia kenal. Bukan suara Arya, buruh malang yang ia lihat jatuh ke dalam lubang pilar itu. Itu adalah nada bicara Adnan, sang CEO yang baru saja dikabarkan tewas dalam kecelakaan mobil.
*"Hitung... volume... P-14... tidak sesuai... spesifikasi... bantu... saya..."*
Linda mematikan rekaman itu dengan napas tersengal. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia adalah seorang *engineer*. Hidupnya diatur oleh logika, struktur bangunan, dan hukum fisika. Namun, apa yang ia rekam secara tidak sengaja di lokasi proyek sore tadi menentang segala hal yang ia pelajari. Suara itu berasal dari dalam beton yang sudah mengeras. Tidak mungkin ada manusia yang bisa bicara dari sana, apalagi menyebutkan det**l teknis tentang korupsi material yang hanya diketahui oleh lingkaran dalam perusahaan.
Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu depan mengejutkannya. Linda hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Mbak Linda? Ini Inspektur B**m. Tolong buka pintunya, ada beberapa hal yang perlu kami konfirmasi terkait insiden di lokasi proyek."
Suara itu tenang, namun ada nada ancaman yang tersirat di baliknya. Linda tahu siapa Inspektur B**m. Dia bukan sekadar polisi; dia adalah "an**** penjaga" yang dibayar oleh Pak Hendra, wakil CEO yang sekarang mengambil alih kemudi perusahaan.
Linda tidak bergerak. Ia mematikan lampu ponselnya.
"Mbak Linda, kami tahu Anda di dalam," suara B**m terdengar lagi, kali ini lebih dekat ke daun pintu. "Kami hanya ingin memastikan tidak ada kesalahpahaman. Rekaman yang Mbak ambil tadi... itu ilegal. Itu bisa dianggap sebagai upaya sabotase proyek strategis nasional. Mbak tidak mau karir Mbak hancur karena satu 'halusinasi' audio, kan?"
Linda memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia teringat tatapan mata Pak Hendra tadi siang di kantor, sebuah tatapan yang mengatakan bahwa nyawa seorang buruh—atau seorang *engineer*—hanyalah angka-angka kecil dalam laporan kerugian tahunan.
"Kami punya perintah untuk mengamankan perangkat komunikasi Mbak," lanjut B**m. Suara gesekan kunci atau logam di luar pintu membuat Linda tersentak. Mereka tidak akan menunggu lama. Mereka akan mendob**k ma**k, menghapus bukti itu, dan mungkin memastikan Linda tidak pernah bicara lagi.
Ia melihat kembali ke layar ponselnya. Aplikasi media sosial sudah terbuka. Sebuah akun anonim yang baru saja ia buat sudah siap untuk mengunggah video. Video itu hanya berisi layar hitam dengan audio rekaman tersebut, ditambah keterangan singkat: *Suara dari dalam pilar P-14. Mereka menanam manusia hidup-hidup di sini.*
Jarinya melayang di atas tombol 'Post'. Jika ia menekan ini, tidak ada jalan kembali. Karirnya akan tamat. Ia akan menjadi musuh dari perusahaan konstruksi terbesar di negeri ini. Tapi jika ia diam, bayangan suara itu—suara yang memanggil namanya dari dalam beton—akan menghantuinya sampai mati.
"Mbak Linda, saya hitung sampai tiga. Jangan buat kami melakukan kekerasan," suara B**m kini terdengar dingin, kehilangan keramahan palsunya.
Satu.
Linda teringat wajah Arya, buruh muda yang hanya ingin mencari nafkah untuk keluarganya, tertimbun dalam gelapnya semen.
Dua.
Ia teringat betapa sombongnya perusahaan ini, membangun kemegahan di atas tumpukan mayat yang disembunyikan dalam struktur bangunan.
"Bodo amat," bisik Linda lirih.
Tepat saat suara benturan keras menghantam pintu apartemennya—suara kayu yang retak dipaksa terbuka—jari Linda menekan layar dengan keras.
*Uploading... 40%... 75%... 100%. Post Published.*
Pintu apartemen Linda terbuka dengan sekali tendangan kuat. Tiga pria berpakaian preman dan Inspektur B**m merangsek ma**k. B**m langsung menodongkan senter ke arah Linda yang masih duduk di pojok ruangan, ponselnya tergeletak di lant**.
"Berikan ponsel itu, Linda," perintah B**m dingin sembari melangkah maju.
Linda mendongak, senyum tipis yang pahit muncul di wajahnya yang basah oleh air mata. "Sudah terlambat, Pak Inspektur. Sudah ada sepuluh ribu orang yang mendengar suara itu sekarang."
B**m mengerutkan kening, ia segera merampas ponsel Linda dan melihat layarnya. Wajahnya memucat seketika saat melihat notifikasi yang meledak. Angka *share* dan *retweet* terus melonjak seperti api yang disiram bensin.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Di tengah ketegangan itu, lampu di apartemen Linda mulai berkedip-kedip dengan irama yang tidak beraturan. Suhu ruangan turun drastis hingga napas mereka mengeluarkan uap putih.
"Apa yang terjadi dengan listriknya?" bentak salah satu anak buah B**m.
Tiba-tiba, dari ponsel yang dipegang B**m, suara rekaman itu terputar sendiri. Tapi kali ini, suaranya bukan lagi berasal dari speaker kecil ponsel tersebut. Suara itu bergema dari dinding-dinding apartemen, dari langit-langit, seolah beton bangunan itu sendiri yang sedang bicara.
*"B**m... kamu... sudah... menerima... bagianmu?"*
B**m terlonjak, ponsel itu terlepas dari tangannya dan terbanting ke lant**. Ia mundur selangkah, wajahnya penuh ketakutan. "Siapa itu?! Siapa yang bicara?!"
Linda menatap sekeliling dengan ngeri sekaligus takjub. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya membocorkan sebuah rahasia. Ia baru saja memberikan panggung bagi sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang terjepit di dalam beton namun kini memiliki suara yang tak bisa dibungkam oleh siapa pun.
Di layar ponsel yang retak di lant**, video itu terus berjalan, dan untuk pertama kalinya Linda melihat sesuatu yang tidak ia sadari saat mengunggahnya. Di tengah layar hitam video tersebut, mulai muncul gumpalan asap yang membentuk siluet wajah yang sangat ia kenal. Wajah Adnan.
Dan wajah itu sedang menyeringai ke arah Inspektur B**m.
"Keluar..." bisik Linda, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia... dia benar-benar keluar."
Tiba-tiba, suara retakan besar terdengar bukan dari pintu, melainkan dari pilar di sudut ruangan apartemennya. Sebuah retakan panjang yang mengeluarkan cairan kental berwarna abu-abu yang berbau semen basah dan darah.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!