Suara itu tidak lagi terdengar seperti retakan semen biasa. Di telinga Adnan yang sudah berdenging, bunyi itu menyerupai raungan monster purba yang sedang meregang nyawa. *Krak. Blaarrr!*
Dinding beton yang selama berjam-jam menjadi penjara sekaligus peti matinya itu akhirnya menyerah. Adnan merasakan guncangan hebat yang mengocok isi perutnya. Gravitasi, yang selama ini tertahan oleh padatnya material, tiba-tiba menarik tubuhnya jatuh bersama puing-puing raksasa. Kesadarannya nyaris padam, tersisa hanya seutas benang tipis yang menghubungkan jiwa CEO-nya dengan raga Arya yang sudah remuk redam.
Debu semen yang pekat membubung ke udara, menciptakan kabut abu-abu yang mencekik. Adnan tersungkur di atas tumpukan material tajam. Oksigen yang ma**k ke paru-parunya terasa seperti ribuan jarum panas yang menusuk dada. Ia terbatuk, memuntahkan cairan kental berwarna merah kehitaman yang bercampur dengan kerikil kecil.
"Di sana! Lihat! Ada sesuatu di balik pilar!"
Suara teriakan itu sayup-sayup menembus kebisingan alat berat dan sirene ambulans. Adnan mencoba membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Cahaya lampu sorot dari tim SAR menusuk retinanya, membutakan pandangan untuk sesaat. Di kejauhan, ia bisa melihat kilatan lampu *blitz* kamera wartawan yang melompat-lompat seperti kunang-kunang g***.
"Demi Tuhan... itu manusia!" teriak seorang petugas SAR yang mengenakan rompi oranye neon. Suaranya gemetar, dipenuhi kengerian yang murni.
Adnan ingin tertawa, tapi yang keluar hanya desisan udara yang menyakitkan. *Ya, ini manusia. Produk dari keserakahan yang kalian diamkan selama ini,* batinnya tajam.
Petugas itu berlari mendekat, kakinya tersandung puing, namun ia segera berlutut di samping Adnan. Tangan petugas itu gemetar hebat saat menyentuh leher Arya, mencari denyut nadi yang nyaris hilang. Di belakangnya, dua rekan lainnya datang membawa tandu lipat dan tabung oksigen portabel.
"Tolong, panggil ambulans sekarang! Dia masih hidup! Ini ajaib, pilar itu hancur total tapi dia... dia ada di dalamnya!"
Kamera-kamera televisi kini beralih fokus sepenuhnya ke arah mereka. Adnan bisa merasakan sorotan lensa-lensa itu. Ia tahu bahwa di luar sana, jutaan orang sedang menyaksikan drama ini secara langsung. Di kantor pusat perusahaannya, di rumah-rumah mewah para petinggi yang korup, mereka semua pasti sedang menahan napas, menyaksikan bagaimana 'rahasia' mereka merangkak keluar dari kegelapan.
"Jangan tutup matamu, Dik. Bertahanlah," bisik petugas SAR itu dengan suara serak. "Namamu siapa? Bisa dengar saya?"
Adnan menatap wajah pria itu. Ia ingin menyebutkan namanya, Adnan. Ia ingin meneriakkan bahwa dia adalah pemilik proyek ini yang telah dikhianati. Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah rintihan parau, "Arya..."
Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menghantam pinggang dan kakinya. Saraf-sarafnya yang tadi mati rasa karena tekanan beton kini mulai berteriak. Ia merasakan tulang rusuknya yang patah menusuk paru-parunya setiap kali ia mengambil napas. Tubuh Arya sudah di ambang batas. Adnan bisa merasakan dingin yang mulai menjalar dari ujung kaki, tanda bahwa syok hipovolemik sedang merenggut nyawanya.
"Singkirkan kamera itu! Beri ruang!" bentak petugas medis saat mereka mengangkat tubuh Adnan ke atas tandu.
Saat tandu itu diangkat, kepala Adnan terkulai ke samping. Di tengah kerumunan media yang saling sikut, matanya menangkap satu sosok yang berdiri di barisan belakang garis polisi. Seorang pria berjas rapi yang tampak pucat pasi, menggenggam ponsel dengan tangan yang gemetar. Itu adalah salah satu manajer proyeknya, orang yang ia tahu pasti terlibat dalam keputusan 'penumbalan' ini.
Adnan memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya yang pecah-pecah. Sebuah seringai yang terlihat mengerikan di wajah yang berlumuran semen dan darah. Ia ingin pria itu tahu bahwa neraka baru saja memuntahkan korbannya kembali ke bumi.
"Detak jantungnya melemah! Cepat!"
Suara-suara di sekitarnya mulai menjauh. Dunia terasa berputar dan perlahan menggelap. Adnan merasakan tubuhnya dima**kkan ke dalam ruang sempit ambulans yang dingin. Suara sirene mulai meraung, membelah malam yang mencekam di lokasi proyek jembatan layang itu.
Pandangan Adnan kini hanya tertuju pada lampu neon di atap ambulans yang berkedip-kedip. Kesadarannya mulai melayang, terputus dari raga Arya yang sedang berjuang melawan maut. Ia tahu, jika Arya mati sekarang, maka dendamnya akan terkubur selamanya. Ia harus tetap tinggal. Ia harus memaksa jantung yang lemah ini untuk terus berdetak, meskipun setiap detakannya adalah siksaan yang tiada tara.
*Jangan mati dulu, Arya,* perintah Adnan dalam gelap benaknya. *Kita baru saja mulai menghancurkan mereka.*
Tepat sebelum matanya terpejam sepenuhnya, Adnan melihat bayangan dirinya sendiriβsosok aslinya sebagai CEO yang angkuhβberdiri di sudut ambulans, menatap tubuh Arya dengan tatapan dingin dan tanpa ampun. Bayangan itu seolah berbisik, mengingatkannya bahwa harga dari sebuah kebangkitan adalah penderitaan yang tak berujung.
Tiba-tiba, mesin EKG di sampingnya mengeluarkan bunyi nada panjang yang datar. Garis hijau di layar itu tidak lagi naik turun. Kesunyian yang mematikan menyergap ruang ambulans yang sedang melaju kencang tersebut.
"Kita kehilangan dia! Siapkan defibrilator! Sekarang!"
Adnan merasakan sentakan hebat yang menghantam dadanya, sebuah upaya putus asa untuk menariknya kembali dari gerbang kematian yang sudah terbuka lebar. Di tengah kekacauan itu, ia bertanya-tanya: apakah ia c**up kuat untuk kembali, ataukah beton itu pada akhirnya memang memenangkan jiwanya?
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!