Cahaya matahari pagi menyelinap ma**k melalui celah gorden ruang perawatan kelas tiga yang pengap. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, beradu dengan aroma karat besi yang seolah-olah telah menyatu dengan sumsum tulangku. Aku mencoba menggerakkan jemari tangan kananku. Kaku. Setiap sendi terasa seperti engsel pintu tua yang dipaksa berputar.
Di atas meja kecil di samping ranjang, sebuah televisi tua berukuran empat belas inci sedang menayangkan berita pagi dengan volume rendah. Gambar buram itu menunjukkan siluet pria yang sangat kukenal: Handoko. Dia digiring keluar dari gedung utama Perusahaan Konstruksi Adnan Jaya dengan tangan terborgol, wajahnya ditutupi jaket kuning, dikelilingi oleh kerumunan wartawan yang haus akan skandal.
"Korupsi, penggelapan dana, dan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa buruh," gumam pembawa berita itu. "Pihak kepolisian juga menemukan indikasi praktik ilegal yang melibatkan ritual klenik dalam proyek jembatan layang tersebut."
Aku mengembuskan napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat di dada yang pernah remuk terhimpit beton cair. Handoko, orang kepercayaan yang kumanjakan dengan bonus dan kekuasaan, akhirnya jatuh. Dialah yang merancang kecelakaan mobilku, dan dialah yang memerintahkan agar tubuh Arya—tubuh yang kini kutempati—dijadikan tumbal di pilar utama.
Pintu kamar terbuka dengan derit yang memilukan. Inspektur Chandra melangkah ma**k, wajahnya tampak kuyu dengan kantung mata yang menghitam. Ia menarik kursi plastik di samping ranjangku dan duduk dengan helaan napas berat.
"Semuanya sudah berakhir, Arya," ucapnya pelan.
Hatiku bergetar saat ia menyebut nama itu. *Arya*. Bukan Adnan.
"Handoko mulai bicara," lanjut Chandra sambil mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menyadari di mana ia berada dan menyimpannya kembali. "Dia mengaku semuanya. Sabotase mobil CEO Adnan, pemotongan anggaran material, sampai... soal pilar itu. Kau adalah saksi kunci sekaligus korban yang paling beruntung di dunia ini."
Aku menatap tanganku sendiri. Kulitnya kasar, penuh kapalan, dan ada bekas luka goresan yang belum kering di punggung tangan. Ini bukan tangan seorang CEO yang biasa memegang pena mahal dan cerutu. Ini adalah tangan seorang pemuda dua puluh dua tahun yang mimpinya dihancurkan oleh keserakahan pria bernama Adnan.
"Terima kasih, Pak Inspektur," suaraku keluar parau, asing di telingaku sendiri. Suara ini lebih tinggi, lebih muda, namun sarat dengan kelelahan yang tak ma**k akal bagi anak seusianya.
Chandra menatapku lamat-lamat, ada kerutan di dahinya. "Kau bicara dengan cara yang aneh untuk ukuran buruh harian, Nak. Tapi kurasa, terkubur hidup-hidup di dalam semen memang bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup."
Aku hanya tersenyum tipis. Dia tidak akan pernah tahu bahwa di balik mata pemuda ini, ada jiwa seorang pria empat puluh lima tahun yang sedang meratapi kerajaan bisnisnya yang kini runtuh menjadi puing-puing hinaan.
Setelah Chandra pergi, aku memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Kakiku gemetar saat menyentuh lant** dingin yang lembap. Aku merambat di dinding, menuju cermin kecil yang retak di atas wastafel pojok ruangan.
Aku berhenti tepat di depan cermin itu. Menatap bayangan di sana adalah sebuah siksaan. Wajah di depanku ini adalah wajah Arya. Rahangnya tegas, matanya besar dengan sorot ketakutan yang seolah telah membeku di sana. Aku menyentuh pipiku. Dingin.
"Maafkan aku, Arya," bisikku pada kesunyian.
Rasa bersalah itu menghantamku lebih keras daripada reruntuhan beton mana pun. Akulah yang menciptakan sistem itu. Aku yang menuntut efisiensi tanpa batas, yang menutup mata pada bagaimana pekerjaan di lapangan diselesaikan, selama angka-angka di laporan keuangan terlihat hijau. Aku adalah arsitek dari nerakaku sendiri, dan Arya adalah korban yang tidak beruntung karena berada di jalur ambisiku.
Sekarang, Adnan telah mati. Dunia luar mengenalku sebagai korban kecelakaan tragis yang jenazahnya ditemukan di jurang. Besok, mereka akan mengadakan upacara pemakaman mewah untuk 'Adnan', sementara jiwanya tertahan di tubuh seorang buruh yang tak punya apa-apa.
Aku meraih ponsel murah milik Arya yang diletakkan polisi di atas meja. Ada belasan pesan ma**k dari satu nama: *Ibu*.
*“Arya, kapan pulang? Uang kirimanmu sudah sampai, adikmu bisa ikut ujian.”*
*“Arya, kenapa tidak diangkat? Ibu masak sayur lodeh kesukaanmu.”*
Tenggorokanku terasa tersumbat. Adnan tidak pernah memiliki siapa pun kecuali kekuasaannya. Sekarang, aku memiliki tanggung jawab pada seorang ibu yang tidak mengenalku, dan seorang adik yang menggantungkan hidup pada tangan yang kini gemetar ini. Aku merampas hidup Arya, dan satu-satunya cara untuk membayar hutang itu adalah dengan menjalani hidupnya—hidup yang dulu kuanggap remeh dan tak berharga.
Aku berjalan kembali ke jendela, menatap ke arah kejauhan di mana kerangka jembatan layang itu berdiri seperti monster hitam di cakrawala. Pembangunan dihentikan. Pilar utama tempatku hampir mati kini menjadi barang bukti kejahatan.
Tiba-tiba, rasa dingin yang tidak wajar merambat di tengkukku. Bayangan di cermin tadi seolah bergetar. Aku menoleh dengan cepat, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya saja, di permukaan wastafel yang basah, perlahan terbentuk tulisan dari sisa-sisa air yang menggenang.
*BUKAN HANYA HANDOKO.*
Jantungku berdegup kencang. Energi supernatural yang sempat membantuku di dalam pilar itu masih berdenyut di bawah kulitku, seperti aliran listrik yang tak stabil. Mataku terpaku pada tulisan cair itu sebelum ia menguap hilang.
Handoko hanyalah eksekutor. Ada seseorang yang lebih besar di balik semua ini, seseorang yang memastikan Adnan harus mati dan proyek itu harus menelan tumbal demi sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar penghematan biaya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka lagi dengan kasar. Seorang perawat ma**k dengan wajah pucat.
"Mas Arya, ada... ada tamu yang memaksa ma**k. Katanya dia pengacara dari keluarga Pak Adnan."
Aku menegang. Pengacara pribadiku? Kenapa dia mencariku? Aku belum sempat merespons ketika seorang pria berjas rapi melangkah ma**k, melewati perawat itu. Ia menatapku bukan dengan rasa kasihan, melainkan dengan tatapan penuh selidik yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Saudara Arya?" tanyanya, suaranya sedingin es. "Saya membawa wasiat dari mendiang Tuan Adnan. Anehnya, namamu tertulis jelas di sana sebagai salah satu penerima kuasa, padahal beliau tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Bisa kau jelaskan itu padaku?"
Aku mengepalkan tangan di balik selimut. Permainan ini ternyata jauh dari kata selesai. Bahkan setelah kematian pun, masa laluku sebagai Adnan menolak untuk membiarkanku hidup tenang dalam tubuh ini.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!