Beton Berdarah: Reinkarnasi Sang Tumbal Proyek

Bab 2: Bab 2 - Melihat pelaku yang memerintahkan penyemenan di...

Pengaturan Membaca

Rasa dingin itu perlahan berubah menjadi panas yang membakar. Beton cair setinggi dada itu memancarkan panas hidrasi yang menyiksa, seolah-olah ribuan jarum mikro sedang menusuk pori-pori kulit Aryaβ€”tubuh baruku. Aku bisa merasakan paru-paruku berjuang melawan tekanan massa yang kental dan berat. Setiap kali aku mengembuskan napas, semen itu seolah mendesak lebih dalam, mencuri ruang yang tersisa untuk oksigen.

Aku tidak boleh mati lagi. Tidak di dalam lubang gelap ini.

Di tengah kegelapan yang nyaris absolut, sebuah garis cahaya tipis menyusup dari celah antara sambungan papan *bekisting* kayu yang sedikit renggang. Aku memaksakan leherku yang kaku untuk bergeser, mengabaikan gesekan kasar kerikil tajam yang mengoyak kulit leherku. Dengan sisa tenaga yang terasa mustahil, aku menempelkan mata kiriku pada celah selebar beberapa milimeter itu.

Dunia di luar sana adalah lokasi proyek jembatan layang milikkuβ€”Mulia Konstruksi. Lampu sorot proyek yang menyilaukan membelah kegelapan malam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas tanah merah yang becek.

Terdengar suara langkah sepatu pantofel yang beradu dengan papan perancah. Itu bukan langkah kasar sepatu *safety* para buruh. Itu adalah langkah seseorang yang terbiasa berjalan di atas lant** marmer kantor pusat.

"Apakah dia sudah benar-benar tenggelam?"

Suara itu. Dingin, bariton, dan sangat kukenal. Jantungku yang berdegup lemah mendadak berpacu kencang. Itu adalah suara Baskoro, Wakil CEO-ku. Orang yang selama sepuluh tahun ini duduk tepat di sebelah kananku, orang yang kuanggap sebagai tangan kananku yang paling setia.

"Sudah, Pak Baskoro," sahut suara lain yang gemetar. Aku mengenali suara itu sebagai Marno, mandor proyek yang tadi memerintahkan anak buahnya untuk melempar tubuhku ke dalam pilar ini. "Beton K-350 ini akan mengeras dalam hitungan jam. Besok pagi, pilar utama ini akan menjadi fondasi paling kokoh di seluruh koridor ini. Tidak akan ada yang tahu."

Baskoro melangkah mendekati pilar tempatku terperangkap. Lewat celah sempit itu, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia menyalakan sebatang cerutu, membiarkan asapnya membubung ke langit malam yang mendung. Wajahnya yang biasanya terlihat patuh dan penuh hormat kini tampak begitu angkuh, disinari cahaya kuning dari lampu proyek.

"Bagus," gumam Baskoro. Ia mengembuskan asap cerutu tepat ke arah celah *bekisting*. Aroma tembakau mahal itu merembes ma**k, bercampur dengan bau anyir semen yang menyesakkan. "Adnan si sombong itu selalu bicara soal integritas dan keamanan kerja. Dia tidak tahu bahwa proyek sebesar ini butuh 'pelumas' yang lebih kental daripada sekadar uang. Darah rakyat jelata seperti ini jauh lebih murah daripada menyewa konsultan spiritual yang mahal."

Rahangku mengatup rapat hingga gigiku berkerut. Ba******. Dia bukan hanya mengkhianatiku, dia menertawakan semua prinsip yang kubangun.

"Pak," Marno berbisik, suaranya mengandung ketakutan yang nyata. "Apakah benar... kecelakaan mobil Pak Adnan kemarin itu...?"

Baskoro tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kudukku berdiri, bahkan di tengah himpitan beton yang panas. "Rem blong di turunan Puncak itu sangat artistik, bukan? Aku butuh dia mati agar aku bisa mengambil alih kendali penuh. Tapi rupanya, kematiannya saja tidak c**up untuk menenangkan 'penghuni' tanah ini. Proyek ini terus-menerus memakan korban kecelakaan kerja. Jadi, aku memutuskan untuk memberikan korban yang disengaja. Dan anak ini..." Baskoro mengetuk-ngetuk dinding kayu pilar tempatku berada dengan ujung sepatunya yang mengkilap. "...dia adalah tumbal yang sempurna."

Darahku mendidih. Jadi kecelakaan itu bukan sabotase dari kompetitor. Itu adalah Baskoro. Dia yang memotong kabel rem mobilku, dia yang mengirimku ke jurang, dan sekarang dia menggunakan tubuh 'Arya' untuk menutupi jejak klenik dan korupsinya.

"Selesaikan penyemenannya sampai penuh," perintah Baskoro datar. "Jangan tinggalkan satu inci pun lubang udara. Aku ingin proyek ini selesai tanpa ada interupsi dari dinas tenaga kerja lagi. Besok pagi, aku akan mengumumkan bahwa Mulia Konstruksi berada di bawah kepemimpinanku sepenuhnya."

Ia berbalik, melangkah pergi tanpa sedikit pun rasa bersalah. Di belakangnya, Marno memberi isyarat kepada operator *crane* untuk kembali menumpahkan ember raksasa berisi beton cair ke dalam pilarku.

Gemuruh mesin terdengar lagi. Di atasku, mulut pilar terbuka, dan aku bisa melihat bayangan massa beton yang siap tumpah untuk menenggelamkan kepalaku selamanya.

Dalam keputusasaan yang memuncak, sesuatu di dalam dadaku terasa meledak. Itu bukan rasa sakit fisik, melainkan sebuah denyut energi yang dingin dan tajam. Aku tidak hanya merasakan tubuhku; aku mulai merasakan struktur besi tulangan di sekitarku. Aku bisa merasakan getaran molekul beton yang cair.

*Kau ingin aku menjadi fondasi jembatan ini, Baskoro?* batinku, sementara penglihatanku mulai memerah karena kemarahan yang meluap.

Saat beton cair itu mulai mengalir turun seperti air terjun maut di atas kepalaku, aku memejamkan mata dan berteriak dalam pikiran. Aku tidak berteriak meminta tolong. Aku memerintah. Aku merasakan kesadaranku melompat keluar dari tubuh fisik Arya, memproyeksikan sebuah gelombang kejut yang tak terlihat ke arah sistem hidrolik *crane* di atas sana.

*HANCUR!*

Suara dentuman logam yang patah bergema di seluruh lokasi proyek, diikuti oleh percikan api listrik yang besar. Ember beton itu terhenti tepat beberapa senti di atas kepalaku, tergantung miring saat kabel baja penahannya putus satu per satu.

Marno berteriak panik di luar sana, tapi aku tidak peduli. Fokusku terkunci pada Baskoro yang menghentikan langkahnya dan berbalik dengan wajah bingung.

Aku akan menghancurkan jembatan ini. Aku akan menghancurkan perusahaan ini. Dan aku akan memulainya dengan menyeretmu ke dalam kegelapan yang kau ciptakan sendiri untukku.

Garis cahaya di celah *bekisting* itu tiba-tiba padam saat tanganku yang terendam semen mulai memancarkan cahaya biru pucat yang mengerikan. Beton di sekelilingku mulai bergetar hebat, bukan karena mesin, tapi karena kehendakku.

Aku bukan lagi sekadar Adnan sang CEO, atau Arya sang buruh. Aku adalah hantu dalam mesin yang akan meruntuhkan seluruh kerajaanmu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca