Beton Berdarah: Reinkarnasi Sang Tumbal Proyek

Bab 3: Bab 3 - Membangkitkan kekuatan supernatural pertama kal...

Pengaturan Membaca

Cairan abu-abu kental itu terus merayap naik, melewati pusar lalu menekan ulu hatiku dengan berat yang tak ma**k akal. Dingin yang menggigit perlahan berubah menjadi panas yang membakar kulit akibat reaksi kimia semen yang mulai mengeras. Aku bisa merasakan paru-paru Arya mengecil, berjuang melawan tekanan hidrostatik dari berton-ton adukan beton yang tumpah dari lubang tremie di atasku.

Si****. Ini benar-benar terjadi. Aku, Adnan, pria yang biasanya duduk di kursi kulit di lant** tiga puluh, kini sedang dipaksa menjadi fondasi bagi jembatan yang aku rancang sendiri. Ironi ini begitu tajam hingga rasanya lebih menyakitkan daripada tulang rusukku yang berderak.

"Terus tuang! Jangan berhenti sampai penuh!"

Suara itu lamat-lamat terdengar dari atas lubang pilar. Suara yang kukenal baik. Itu suara Haris, wakil direkturku. Orang yang selama sepuluh tahun ini kupikir adalah an**** peliharaanku yang paling setia. Ternyata, dia adalah serigala yang selama ini menunggu aku lengah untuk mendorongku ke dalam liang lahat beton ini.

"Maafkan kami, Kang Arya... ini buat keselamatan proyek," bisikan lirih dari salah satu buruh di atas sana terdengar gemetar.

*Keselamatan proyek?* Mataku membelalak dalam kegelapan. Mereka mengorbankan nyawa manusia demi takhayul konyol untuk menutupi korupsi material yang mereka lakukan. Aku tahu perhitungannya. Mereka mengurangi komposisi baja tulangan, dan untuk memastikan jembatan ini tidak ambruk saat pemeriksaan, mereka menggunakan 'tumbal' untuk menenangkan tanah. Sesuatu yang selalu kuanggap sampah klenik saat aku masih menjadi CEO, kini menjadi kenyataan yang mencekik leherku.

Aku mencoba berteriak, tapi semen mulai menyumbat mulutku. Rasanya seperti menelan lumpur asin yang pekat. Oksigen menipis. Kesadaranku mulai memudar, dan di ambang kematian itu, aku merasakan sesuatu yang asing.

Bukan rasa takut. Tapi kemarahan yang begitu murni hingga rasanya lebih panas dari reaksi semen di sekitarku.

Tiba-tiba, penglihatanku yang gelap gulita berubah. Aku tidak lagi melihat dengan mata Arya yang bengkak. Aku 'melihat' struktur molekul beton di sekelilingku. Aku bisa merasakan getaran mesin mixer di permukaan, denyut aliran listrik pada kabel-kabel di sekitar lokasi, dan yang paling utama: aku merasakan setiap inci besi beton yang melilit tubuhku.

*Berhenti!* perintahku dalam hati.

Awalnya tidak terjadi apa-apa. Adukan beton itu terus mengalir, kini mencapai leherku. Namun, saat aku memusatkan seluruh kebencianku pada katup mesin pompa di atas sana, sebuah gelombang kejut yang tak terlihat terpancar dari dadaku.

*DUM!*

Pilar jembatan bergetar hebat. Aku merasakan energi dingin menjalar dari ujung jariku, merambat melalui cairan beton, dan menghantam mekanisme pompa di atas. Suara mesin yang tadinya menderu lancar tiba-tiba berubah menjadi lengkingan logam yang saling bergesekan.

"Eh, ada apa dengan pompanya?!" teriak seorang operator di atas. "Tekanannya melonjak! Cepat matikan!"

Aku tidak berhenti di situ. Aku ingin mereka ketakutan. Aku ingin mereka merasakan kehadiranku. Aku memanipulasi energi yang entah bagaimana kini menyatu dengan kesadaranku, memaksa molekul semen di sekeliling kepalaku untuk mengeras seketika, membentuk rongga udara kecil agar aku bisa bernapas.

Namun, kekuatanku belum stabil. Saat aku mencoba menghentikan aliran semen sepenuhnya dengan menghancurkan pipa penyalurnya, aku merasakan dorongan yang terlalu besar.

*KRETAK!*

Suara beton yang retak bergema di dalam ruang sempit pilar. Jantungku mencelos. Aku bisa merasakan retakan itu merambat di dinding pilar utama. Sial, aku terlalu kuat menekan. Jika pilar ini retak sekarang, seluruh struktur penyangga sementara di atasnya akan ambruk. Ribuan ton beton basah dan besi baja akan runtuh menimpaku sebelum aku sempat keluar. Aku tidak akan menjadi tumbal; aku akan menjadi bubur di bawah reruntuhan proyekku sendiri.

"Ada apa itu? Kenapa pilarnya retak?!" teriak Haris, suaranya kini melengking panik. "Lampu! Sorot ke dalam pilar!"

Cahaya senter yang kuat menusuk ma**k melalui celah sempit di atas. Aku memejamkan mata, berusaha meredam energi yang meluap-luap dari tubuhku. Beton di sekitarku mulai mendidih, mengeluarkan uap panas karena energi supernatural yang beradu dengan reaksi kimia semen.

Aku harus mengendalikan ini. Jika aku menghancurkan pilar ini sekarang, aku mati. Tapi jika aku membiarkannya, aku terkubur.

Tiba-tiba, suara derit besi yang mengerikan terdengar. Salah satu tulangan baja utama yang berada tepat di samping bahuku melengkung karena tekanan energi yang kulepaskan. Ujung tajamnya perlahan mengarah ke leherku. Sedikit saja getaran lagi, baja itu akan memenggal kepalaku.

Di atas sana, kegaduhan semakin menjadi. "Cepat panggil mandor! Ada yang tidak beres dengan betonnya! Seperti ada... ada sesuatu yang mendorong dari dalam!"

Aku menyeringai di balik lapisan semen yang menutupi wajahku. Ketakutan di suara mereka adalah musik bagiku. Meski tubuhku terhimpit dan nyawaku berada di ujung tanduk karena ketidakstabilan kekuatanku sendiri, satu hal yang pasti: Adnan tidak mati. Dan Arya, buruh malang ini, baru saja menjadi senjata paling mematikan yang pernah diciptakan oleh industri konstruksi.

Aku memusatkan sisa kekuatanku, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengikat. Aku harus bertahan sampai mereka c**up ketakutan untuk membongkar bagian ini. Namun, sebuah suara berat dan serak tiba-tiba bergema di kepalaku, suara yang bukan milikku, bukan pula milik Arya.

*"Kau menginginkan pembalasan, Tuan CEO? Harganya tidak murah."*

Bersamaan dengan suara itu, pilar beton di sekelilingku kembali bergetar, dan kali ini, retakannya mulai mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk, kontras dengan warna abu-abu semen. Tekanan di dadaku mendadak menghilang, berganti dengan rasa dingin yang hampa, sementara di atas sana, jeritan pertama ketakutan pecah saat mereka melihat apa yang mulai keluar dari dalam pilar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca