Beton Berdarah: Reinkarnasi Sang Tumbal Proyek

Bab 4: Bab 4 - Memeriksa anomali di pilar nomor 14 yang mendad...

Pengaturan Membaca

Tangan Budi gemetar saat ia berusaha menyulut sebatang rokok kretek di bawah remang lampu proyek. Korek apinya berdentang beberapa kali sebelum api kecil akhirnya menyambar ujung tembakau. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan asap panas mengisi paru-parunya, mencoba mengusir hawa dingin yang entah mengapa terasa lebih menusuk tulang malam ini.

Sudah pukul dua dini hari. Area proyek jembatan layang itu biasanya sepi, hanya menyisakan dengung mesin generator di kejauhan. Namun, laporan dari salah satu pekerja shift malam tentang "suara-suara aneh" dan "kerusakan struktur" di Pilar 14 membuatnya tidak bisa memejamkan mata di barak.

"Si****," umpat Budi pelan, menatap sepatu botnya yang berlumuran lumpur kering.

Ia tahu apa yang ada di dalam Pilar 14. Ia sendiri yang mengawasi saat tubuh kurus Aryaβ€”bocah malang yang baru bekerja dua mingguβ€”didorong ma**k ke dalam bekisting baja sebelum semen cair dialirkan dari truk mixer. Perintah itu datang langsung dari Pak Hendra, sang wakil direktur, sebagai 'syarat' agar proyek ini tidak lagi memakan korban dan berjalan lancar. Sebuah tumbal. Praktik kuno yang seharusnya sudah mati di era modern, namun tetap dipelihara di balik kemegahan beton-beton ini.

Budi membuang puntung rokoknya yang baru setengah jalan, lalu meraih senter besar dari meja kayu. Ia berjalan perlahan menuju area tengah proyek, di mana deretan pilar raksasa berdiri seperti nisan-nisan beton yang angkuh.

Langkah kakinya menggema di antara perancah besi. Begitu ia sampai di depan Pilar 14, langkahnya terhenti. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.

Cahaya senter menyapu permukaan beton yang seharusnya sudah mengeras sempurna itu. Di sana, tepat di tengah struktur silinder raksasa tersebut, terdapat retakan panjang yang meliuk-liuk seperti urat nadi yang menonjol. Retakan itu tidak tipis; ia c**up lebar untuk dima**ki jempol tangan, dan dari celahnya, merembes cairan gelap yang kental.

"Mustahil," bisik Budi. "Beton K-350 tidak mungkin retak seperti ini dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Campurannya sudah benar. Besi ulirnya juga sudah sesuai spesifikasi."

Ia mendekat, mencoba menyentuh retakan itu. Jarinya gemetar saat merasakan suhu beton tersebut. Panas. Beton itu terasa panas seperti bara api yang tertimbun abu, padahal malam ini sangat dingin.

Tiba-tiba, sebuah suara gesekan terdengar dari balik dinding beton.

*Sreeeeeet... Sreeeeeet...*

Seperti suara kuku yang mencakar permukaan keras dari dalam. Budi terlonjak mundur, senternya nyaris terjatuh. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti disumpal semen.

"Siapa di sana?" teriaknya, suaranya parau dan pecah. "Hoi! Jangan main-main!"

Hening. Hanya suara angin yang bersiul melewati celah-celah besi penyangga. Budi mencoba menenangkan diri. *Mungkin cuma udara yang terjebak di dalam,* pikirnya mencoba rasional. Namun, logika mandornya segera membantah: getaran yang tadi ia rasakan terlalu ritmis untuk sekadar fenomena fisik.

Ia kembali mendekatkan telinganya ke retakan itu, terdorong oleh rasa penasaran yang bercampur ngeri. Bau anyir darah tiba-tiba menyeruak, menelan aroma khas semen basah.

Lalu, sebuah suara muncul. Bukan teriakan, melainkan bisikan yang sangat jernih. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang sering memaki-makinya di ruang rapat kantor pusat.

"Budi..."

Budi terhuyung. Darahnya seolah berhenti mengalir. Itu bukan suara Arya, bocah yang ia jadikan tumbal. Itu adalah suara bariton yang dalam, penuh otoritas, dan sangat dingin. Suara Pak Adnan, CEO perusahaan ini yang baru saja tewas kecelakaan tiga hari lalu.

"Pak... Pak Adnan?" gumam Budi, suaranya nyaris tidak keluar.

"Spesifikasinya... kau kurangi, kan? Kau mencuri jatah tulangan besi di pilar ini... untuk membayar utang judimu, Budi?"

Suara itu datang dari dalam beton. Tidak salah lagi. Bisikan itu bergema di balik rongga pilar, terdengar seperti suara yang keluar dari tenggorokan yang dipenuhi kerikil dan cairan.

"Siapa kamu?! Arya?! Jangan coba-coba menakutiku!" teriak Budi sambil menghantamkan senternya ke arah pilar.

Retakan di beton itu tiba-tiba melebar dengan bunyi *krak* yang m****akkan telinga. Serpihan semen terlempar ke wajah Budi, menggores pipinya hingga berdarah. Cairan hitam yang merembes tadi mulai mengalir lebih deras, menyerupai darah busuk yang bercampur lumpur.

"Aku bisa mencium ketakutanmu, Budi," suara itu kembali terdengar, kini lebih keras, disert** getaran hebat yang mengguncang pilar. "Kamu pikir beton ini bisa menyembunyikan dosamu? Kamu pikir aku akan membiarkanmu membangun kerajaanmu di atas mayatku?"

"Kau sudah mati, Adnan! Kau sudah mati terbakar di tol!" Budi berteriak histeris, air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor.

Tiba-tiba, permukaan beton di depan wajah Budi melunak. Seolah-olah semen yang sudah membatu itu berubah kembali menjadi bubur cair. Sebuah bentuk tangan mulai menonjol dari dalam retakan, mendorong lapisan beton itu dari dalam. Bukan tangan seorang buruh muda, melainkan tangan dengan jari-jari panjang yang memakai cincin emas yang sangat dikenal Budiβ€”cincin yang selalu dipakai Adnan untuk memukul meja saat marah.

Tangan itu mencengkeram tepi retakan, kuku-kukunya memecahkan beton seolah-olah itu hanya gumpalan tanah liat.

"Hancurkan pilar ini, Budi," suara itu kini berubah menjadi geraman rendah yang membuat bulu kuduk berdiri. "Hancurkan pilar ini sekarang, atau aku akan menarikmu ma**k ke dalam sini untuk menemaniku... selamanya."

Pilar 14 mulai bergetar hebat. Tanah di bawah kaki Budi seolah ikut bergoyang. Lampu-lampu sorot di sekitar proyek mulai berkedip-kedip lalu padam satu per satu, menenggelamkan area itu ke dalam kegelapan pekat.

Budi mencoba berlari, namun kakinya terasa berat. Saat ia menunduk, ia melihat cairan hitam dari pilar itu sudah merambat di tanah, melilit pergelangan kaki botnya seperti tentakel yang kuat.

"Tolong! Tolong!"

Cahaya senter Budi yang tergeletak di tanah hanya mampu menyinari satu hal: retakan besar itu kini terbuka lebar, menyerupai mulut hitam yang siap menelan apa saja, dan di dalamnya, sepasang mata merah menyala menatapnya dengan penuh dendam dari balik kegelapan beton yang mengeras.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca