Beton Berdarah: Reinkarnasi Sang Tumbal Proyek

Bab 5: Bab 5 - Mempengaruhi mimpi seorang engineer muda yang j...

Pengaturan Membaca

Dingin. Tekanan itu tidak lagi terasa seperti pelukan maut yang keras, melainkan beban kosmik yang berusaha melumat eksistensiku hingga menjadi atom. Di dalam Pilar 14 ini, waktu adalah konsep yang mati. Aku tidak tahu sudah berapa jamβ€”atau mungkin hariβ€”aku terjebak dalam posisi meringkuk yang mustahil di tengah adukan semen yang mulai mengeras. Paru-paru Arya, tubuh muda yang kini kuhuni, hanya mampu menyedot sisa-sisa oksigen dari rongga udara kecil yang terbentuk secara tidak sengaja di dekat kepalaku.

Setiap embusan napas adalah perjuangan. Namun, kemarahanku lebih besar daripada rasa sakit ini. Aku adalah Adnan. Aku yang membangun imperium ini, dan aku tidak akan membiarkan tikus-tikus korup seperti Hendra menguburku dalam karyaku sendiri.

Aku memejamkan mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk melepaskan diri. Aku memusatkan seluruh sisa kesadaranku pada satu titik di pangkal tengkorak. Aku bisa merasakan energi anehβ€”dingin dan tajam seperti siletβ€”mengalir keluar dari tubuh fisikku yang hancur. Aku memproyeksikan diriku, merambat keluar melalui sela-sela molekul beton, mencari satu frekuensi yang bisa kusentuh.

Aku butuh seseorang yang masih memiliki nurani. Seseorang yang belum terinfeksi oleh keserakahan yang aku tanam di perusahaan ini.

Pikiranku melesat, menembus kegelapan malam Jakarta, melintasi kabel-kabel listrik yang mendesis, hingga aku menemukan sebuah apartemen kecil di pinggiran kota. Di sana, di atas meja yang berantakan dengan cetak biru dan penggaris skala, Linda tertidur pulas. Linda, *engineer* muda yang baru bergabung enam bulan lalu. Dia masih naif, masih sering berdebat denganku soal standar keamanan beton sebelum kecelakaan itu merenggut nyawaku.

Aku menyusup ke dalam tidurnya.

Suasana berubah seketika. Aku tidak lagi berada di dalam pilar, melainkan berdiri di tengah lokasi proyek Jembatan Layang Antasari dalam versi yang terdistorsi. Langit berwarna merah darah. Suara mesin pengaduk semen menderu-deru, namun suaranya terdengar seperti jeritan manusia.

Linda berdiri di depanku, mengenakan rompi proyek dan helm putihnya. Wajahnya pucat pasi. Ia memegang sebuah papan klip, namun kertasnya terus-menerus berubah menjadi cairan kental berwarna hitam.

"Linda..." suaraku terdengar parau, bergema di antara struktur besi yang meliuk-liuk seperti tentakel.

Gadis itu menoleh, matanya membelalak. "Pak Adnan? Tapi... Anda sudah..."

"Jangan lihat aku sebagai yang lama," aku melangkah maju, namun setiap langkah terasa seperti menarik beban berton-ton. Energi spritualku berdenyut lemah. Pemandangan di sekitar kami mulai retak, seperti kaca yang hendak pecah. "Dengarkan aku. Waktuku tidak banyak."

"Ada apa ini? Kenapa semuanya berantakan?" Linda berteriak, suaranya gemetar. Ia melihat ke arah kakinya. Semen basah mulai merayap naik, mengunci sepatunya ke lant** proyek yang tak berujung.

"Pilar empat belas," bisikku, berusaha memadatkan suaraku agar tidak hilang ditelan deru angin imajiner. "Periksa... Pilar... empat belas..."

"Pilar itu sudah selesai dicor kemarin, Pak. Semuanya sesuai prosedur," Linda menjawab dengan logika insinyurnya, meski ketakutan terlihat jelas di wajahnya.

Aku mendekat, mencengkeram bahunya. Tanganku terasa dingin, bahkan di dalam mimpi. "Hendra... dia berbohong. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang hidup... yang akan meruntuhkan seluruh jembatan ini."

Tiba-tiba, penglihatan Linda mulai mengabur. Dunia mimpi ini berguncang hebat. Aku merasakan tarikan kuat dari tubuh fisikku di dalam beton. Oksigen di pilar itu pasti sudah hampir habis. Kesadaranku mulai terseret kembali ke kegelapan.

"Datanglah ke sana, Linda! Hancurkan pilarnya! Sekarang!" teriakku.

"Saya tidak bisa! Itu ilegal! Saya bisa dipecat!" Linda membalas, air mata mulai mengalir di pipinya.

"ARYA!" aku meneriakkan nama tubuh baruku dengan sisa energi terakhir. "Cari Arya! Dia ada di dalam... dia..."

Kalimatku terputus. Visual di depan mataku meledak menjadi ribuan kepingan cahaya putih yang menyakitkan. Aku terlempar kembali ke dalam kegelapan yang menyesakkan. Dingin. Basah. Dan bau semen yang mencekik.

Aku kembali ke dalam tubuh Arya. Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada yang terhimpit. Aku terbatuk, namun yang keluar hanyalah debu semen yang kering. Sial, energinya habis. Aku merasa seperti baru saja mendaki gunung tanpa oksigen. Kepalaku berdenyut hebat, dan penglihatanku mulai menghitam di tepiannya.

Apakah dia mendengarku? Ataukah itu hanya dianggap sebagai mimpi buruk akibat stres kerja?

Aku mencoba menggerakkan jari kelingkingku. Masih bisa, meski terbatas. Beton di sekitarku sudah mulai mema**ki fase pengerasan awal. Jika Linda tidak datang dalam satu jam ke depan, tubuh ini akan menjadi fosil permanen di jantung jembatan ini. Dan jiwaku akan terperangkap bersamanya, menjadi tumbal abadi bagi kemegahan yang kubangun sendiri.

Di kejauhan, melalui getaran yang merambat di sepanjang struktur besi pilar, aku mendengar sesuatu. Suara mobil. Bukan truk proyek yang berat, melainkan suara mesin mobil penumpang yang halus.

Jantungku melonjak. Harapan adalah benda yang berbahaya di tempat seperti ini, tapi itu satu-satunya yang kupunya.

Tiba-tiba, suara dentuman keras bergema dari permukaan atas pilar. Seseorang sedang memukul-mukul beton yang masih setengah basah itu dengan linggis.

"Halo? Ada orang di dalam?"

Itu suara Linda. Dia datang. Suaranya terdengar ragu, hampir berbisik karena takut ketahuan penjaga malam.

Aku ingin berteriak, namun tenggorokanku seperti tersumbat pasir. Aku hanya bisa memusatkan seluruh sisa kekuatanku pada satu gerakan. Aku menendang pipa besi penyangga yang bersentuhan dengan kakiku.

*Ting! Ting! Ting!*

Suara besi beradu besi itu bergema pelan. Di luar sana, aktivitas memukul itu berhenti seketika. Hening yang mencekam menyusul.

"Siapa di sana?" suara Linda kini terdengar gemetar hebat. "Kalau ini lelucon, ini tidak lucu!"

Tiba-tiba, lampu sorot dari kejauhan menyapu area pilar. Aku mendengar suara langkah kaki berat mendekat. Itu bukan langkah Linda. Itu langkah sepatu bot militer yang biasa dipakai oleh kepala keamanan suruhan Hendra.

"Heh! Siapa itu di dekat Pilar 14?" sebuah teriakan kasar membelah malam.

Aku membeku dalam kegelapan beton. Linda tidak boleh tertangkap sekarang. Jika dia lari, aku tamat. Namun, jika dia tinggal, dia dalam bahaya besar.

Di atas sana, aku mendengar suara napas Linda yang tersengal, lalu bunyi sesuatu yang terjatuh di atas semen. Detik berikutnya, suara langkah kaki yang berlari menjauh terdengar, diikuti oleh gonggongan an**** penjaga yang mulai beringas.

*Jangan pergi, Linda... jangan tinggalkan aku di sini...*

Aku mencoba memanggil lagi, tapi kegelapan di mataku kini benar-benar menutup sempurna. Kesadaranku memudar tepat saat aku mendengar suara mesin bor besar dinyalakan di dekat pilar, namun bukan untuk mengeluarkanku, melainkan untuk meratakan permukaan beton agar rahasia di dalamnya tertutup selamanya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca