Keringat dingin membasahi tengkuk Linda, merembes ke kerah kemeja flanel yang ia kenakan terburu-buru. Napasnya masih memburu, menyisakan sesak yang sama seperti dalam mimpinya tadi. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, ia masih bisa merasakan jemari dingin yang mencengkeram pergelangan kakinya dalam mimpiβjemari yang muncul dari balik dinding beton yang retak, memohon dengan suara parau yang sangat ia kenali.
Suara Adnan. CEO-nya yang baru saja dinyatakan tewas dalam kecelakaan tragis itu, memanggil namanya dari dalam perut bumi.
Linda mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Proyek jembatan layang ini seharusnya menjadi mahakarya perusahaan mereka, tapi baginya, lokasi konstruksi itu kini terasa seperti peti mati raksasa yang menganga. Jam menunjukkan pukul 02.15 pagi saat ia menghentikan mobilnya di depan gerbang seng yang mengelilingi area proyek utama.
"Malam, Bu Linda?" Seorang petugas keamanan bertubuh tambun, Bambang, muncul dari posnya dengan wajah mengantuk yang seketika berubah tegang begitu mengenali siapa yang datang.
"Buka gerbangnya, Mas. Saya perlu cek data log di kantor lapangan," ujar Linda tanpa basa-basi. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha menutupinya dengan nada otoriter khas seorang *Senior Engineer*.
Bambang tidak segera bergerak. Ia justru berdiri menghalangi jalan, jemarinya meremas senter besar di tangannya. "Mohon maaf, Bu. Perintah langsung dari Pak Baskoro, setelah jam dua belas malam tidak ada yang boleh ma**k ke area pilar utama. Katanya ada pengerjaan sensitif... masalah teknis bahan kimia beton."
Linda mengernyit. "Masalah teknis apa? Saya kepala departemen teknis di sini, dan saya tidak menerima laporan soal itu. Pak Baskoro itu Wakil Direktur bidang operasional, dia tidak punya wewenang menghentikan inspeksi mendadak tanpa koordinasi dengan saya."
"Tapi Bu..."
"Buka, atau saya telepon audit internal sekarang juga," ancam Linda. Ia tahu betul Baskoro adalah sosok yang licin, dan fakta bahwa pria itu menutup akses ke pilar 14 justru memperkuat firasat buruknya.
Dengan berat hati dan wajah yang tampak pucat di bawah sinar lampu merkuri, Bambang menggeser gerbang besi itu. Bunyi gesekan logam yang m****akkan telinga seolah menjadi peringatan bagi Linda untuk berbalik arah. Namun, bayangan wajah Adnan yang menderita dalam mimpinya mendorongnya ma**k.
Linda berjalan cepat melewati tumpukan besi tulangan dan tumpukan karung semen yang membukit. Suasana proyek di malam hari selalu terasa mencekam, tapi malam ini ada yang berbeda. Udara di sekitar pilar 14 terasa lebih berat, lembap, dan berbau anehβperpaduan antara aroma amis yang samar dan bau kimia semen yang menyengat.
Pilar 14 berdiri kokoh di tengah kegelapan, sebuah monster beton setinggi lima belas meter yang baru saja dicor beberapa hari lalu. Seharusnya, area ini sepi. Namun, Linda melihat lampu sorot kecil masih menyala di dekat dasar pilar. Ada sisa-sisa campuran beton yang berceceran di lant**, tampak masih basah dan tidak rapi.
"Apa yang mereka lakukan?" gumam Linda. Ia mendekati dinding beton pilar itu, menyalakan senter ponselnya.
Ia memeriksa permukaan beton. Teksturnya kasar, seolah dikerjakan dengan terburu-buru. Saat ia mengarahkan cahaya ke bagian sambungan, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di sela-sela beton yang belum sepenuhnya mengeras sempurna, ada sepotong kain berwarna jingga yang terjepit. Itu adalah bagian dari seragam buruh bangunan.
Linda mengulurkan tangan, bermaksud menyentuh kain itu, namun sebuah suara keras mengejutkannya.
"Masih rajin saja, Linda. Jam segini bukan waktunya untuk mengejar promosi."
Linda berjingkat dan berbalik cepat. Baskoro berdiri di sana, hanya beberapa meter darinya. Pria itu masih mengenakan kemeja rapi, namun matanya tampak merah dan cekung. Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap berdiri dengan tangan bersedekap.
"Pak Baskoro? Saya... saya hanya merasa ada yang tidak beres dengan komposisi material di pilar ini," Linda berusaha menenangkan debar jantungnya. "Kenapa pengerjaan di sini disembunyikan? Dan kain apa ini, Pak?"
Baskoro tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. Ia berjalan mendekat, memaksa Linda mundur hingga punggungnya menyentuh permukaan pilar 14 yang dingin. "Kamu itu engineer yang pintar, Linda. Seharusnya kamu tahu bahwa dalam proyek sebesar ini, ada 'pelumas' yang dibutuhkan agar mesin tetap berjalan. Adnan terlalu kaku, terlalu banyak aturan. Itu sebabnya dia... tidak lagi bersama kita."
Linda merasakan bulu kuduknya berdiri. "Apa maksud Anda? Kecelakaan Pak Adnan..."
"Lupakan soal Adnan," potong Baskoro tajam. "Sekarang, sebaiknya kamu pulang. Anggap saja kain itu hanya sampah yang tidak sengaja terjatuh saat pengecoran. Jangan biarkan rasa penasaranmu menghancurkan kariermu... atau hidupmu."
Tepat saat Baskoro menyelesaikan kalimatnya, sebuah getaran halus terasa dari balik punggung Linda. Bukan getaran dari mesin bor atau ekskavator, karena semua alat berat sedang mati. Itu adalah getaran ritmis, seperti detak jantung yang teredam.
*Duk. Duk. Duk.*
Linda membelalak. Ia menempelkan telinganya ke dinding beton pilar 14. Suara itu berasal dari dalam. Sebuah ketukan yang putus asa.
"Ada orang di dalam sini!" teriak Linda histeris, jemarinya mulai menggaruk permukaan beton yang masih agak lembap. "Pak, ada suara ketukan! Seseorang terkubur di dalam pilar ini!"
Wajah Baskoro berubah gelap. Ia memberi isyarat pada dua anak buahnya. "Linda, kamu sepertinya terlalu lelah. Halusinasi itu berbahaya bagi kesehatan mental."
"Tidak! Saya mendengarnya! Tolong! Siapa di dalam?!" Linda berteriak sekencang mungkin, namun suaranya seolah ditelan oleh luasnya lokasi proyek.
Saat salah satu pria tegap itu maju untuk meringkusnya, sebuah lampu sorot di atas mereka tiba-tiba meledak. Percikan api menyambar, menciptakan kegelapan sesaat. Di tengah kegelapan itu, Linda melihat sesuatu yang mustahil. Permukaan pilar 14 di hadapannya seolah-olah berubah transparan selama satu detik. Di balik lapisan semen tebal itu, ia melihat sesosok tubuh manusia dalam posisi meringkuk, matanya terbuka lebar, memancarkan cahaya biru pucat yang mengerikan.
Dan yang paling membuat Linda ingin berteriak hingga tenggorokannya pecah adalah ketika sosok di dalam beton itu menggerakkan bibirnya, membentuk satu kata yang terdengar jelas di kepalanya meski tanpa suara:
*"Hancurkan."*
Detik berikutnya, tangan pria suruhan Baskoro mencengkeram bahu Linda, memaksanya berlutut ke tanah. Di tengah kepanikan itu, pilar 14 mulai mengeluarkan suara retakan halus yang membelah keheningan malam, seperti suara tulang yang patah satu demi satu.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!