Dunia di luar beton ini adalah simfoni besi yang beradu, deru mesin diesel yang batuk-batuk, dan teriakan mandor yang serak. Namun, di dalam sini, di jantung Pilar P-14 yang dingin dan lembap, aku hanya mengenal sunyi yang menindas. Tubuh Arya—wadah baruku yang malang—terasa seperti remukan tulang yang dibungkus pasta semen. Sakitnya sudah melewati batas akut hingga menjadi mati rasa yang mengerikan.
Aku memejamkan mata, bukan mata fisikku yang tertutup adukan semen, melainkan mata batinku. Aku mulai merasakan aliran listrik yang merambat di kabel-kabel lampu sorot, getaran hidrolik pada ekskavator, dan ketakutan yang menguar dari pori-pori para buruh yang bekerja di bawah bayang-bayang maut.
*Waktunya pertunjukan,* bisikku dalam hati. Sebagai mantan CEO, aku tahu cara paling efektif untuk menghentikan produksi: sabotase massal.
Aku memfokuskan seluruh amarahku pada kabel baja *tower crane* yang menjulang lima puluh meter di atas tanah. Aku bisa merasakan tegangan di tiap helai kawat bajanya. Dengan sentuhan tak kasat mata, aku memuntir frekuensi energi di sana.
*Crak!*
Percikan api biru meloncat dari motor penggerak crane. Beban material seberat dua ton yang sedang diangkat mendadak meluncur turun dengan kecepatan mengerikan.
"Awas! *Crane* putus!" teriak seorang pekerja dari bawah.
Suara dentuman beton pracetak yang menghantam tanah menggetarkan seluruh lokasi proyek. Debu semen membubung tinggi. Aku tidak berhenti di situ. Aku merayap ma**k ke dalam sirkuit panel listrik utama. Aku memaksakan lonjakan voltase hingga lampu-lampu sorot yang menerangi lokasi proyek meledak satu per satu secara beruntun.
*Dar! Dar! Dar!*
Kegelapan menelan lokasi jembatan layang itu dalam sekejap. Hanya menyisakan lampu darurat yang berkedip pucat, memberikan efek stroboskopik yang mencekam. Aku bisa mendengar napas-napas pendek yang memburu. Para buruh itu terdiam, membeku di tempat mereka berdiri.
"Siapa itu?" suara Mandor sapa bergetar. "Cek panelnya! Cepat!"
Aku tertawa, meski tak ada suara yang keluar dari mulut Arya yang tersumbat. Aku menggerakkan tuas ekskavator tanpa operator. Mesin pengeruk itu menderu, berputar 360 derajat dengan liar, menghantam tumpukan pipa perancah hingga ambruk berantakan. Jeritan ketakutan pecah. Mereka berlarian seperti semut yang sarangnya diinjak.
Ini adalah kekacauan yang manis. Aku ingin mereka takut. Aku ingin mereka menolak bekerja di sini. Aku ingin proyek ini busuk dari dalam, sebagaimana mereka membiarkan tubuh Arya membusuk di dalam beton ini.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah kehadiran yang asing dan berat mulai merayap ma**k ke dalam kesadaranku. Dingin, tapi berbeda dengan dinginnya semen. Ini adalah hawa dingin yang berbau kemenyan dan tanah kuburan.
Di bawah sana, di dekat kaki Pilar P-14, seorang pria tua kurus dengan ikat kepala hitam dan sarung lusuh melangkah ma**k ke area proyek. Dia tidak berlari seperti pekerja lainnya. Dia berjalan tenang, membawa sebuah bungkusan kain kafan kecil dan keris yang dibungkus kain kuning. Di belakangnya, Handoko—wakilku yang berkhianat—berjalan dengan wajah pucat namun penuh harap.
"Lakukan sesuatu, Mbah," desis Handoko, suaranya tertangkap oleh indra supernatural-ku. "Tumbalnya berontak. Pilar ini harus selesai besok, atau investor akan menarik diri."
Pria tua itu, yang mereka panggil Mbah Suro, berhenti tepat di depan pilar tempatku terperangkap. Ia mengeluarkan segenggam garam kasar yang dicampur dengan bunga tujuh rupa, lalu menaburkannya di sekeliling dasar pilar.
"Dia bukan sekadar arwah buruh biasa," gumam Mbah Suro, suaranya parau seperti gesekan amplas. "Ada amarah yang sangat besar di dalam sini. Seperti singa yang dipaksa ma**k kandang tikus."
Aku mencoba menyerangnya. Aku mengarahkan sebuah balok kayu untuk jatuh tepat di kepalanya. Namun, sebelum kayu itu menyentuhnya, Mbah Suro menghentakkan kakinya ke tanah dan menggumamkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang tidak kumengerti. Sebuah gelombang energi berwarna hitam pekat terpancar dari tubuhnya, menepis balok kayu itu hingga terpental ke samping.
Tiba-tiba, aku merasa dadaku—dada Arya—seperti dihantam palu godam tak kasat mata.
Mbah Suro mulai menghujamkan sebilah paku emas ke sela-sela sambungan beton pilar. Setiap ketukan martilnya terasa seperti paku yang menembus langsung ke jiwaku.
"Arwah yang gelisah, diamlah dalam betonmu. Menjadilah fondasi yang kokoh, jangan menoleh, jangan memanggil," rapalnya dengan nada monoton yang menghipnotis.
Aku meraung dalam kegelapan batin. Ruang gerak kesadaranku yang tadi meluas hingga ke ujung lokasi proyek, kini mendadak menyusut dengan paksa. Aku merasa seperti ditarik kembali ke dalam tubuh fisikku yang hancur, dikunci rapat-rapat di dalam sangkar kalsium dan silika.
*Si****! Dia mencoba menyegelku!*
Lampu-lampu sorot yang tadi mati, perlahan mulai berkedip hidup kembali, seolah-olah kekuatan gelap Mbah Suro berhasil menetralisir poltergeist yang kubuat. Para pekerja mulai kembali mendekat dengan ragu, melihat dukun itu melakukan ritualnya.
"Terus pukul pakunya, Mbah!" perintah Handoko dengan seringai tipis yang muak kulihat. "Kunci dia selamanya di sana."
Rasa sakit itu berubah menjadi panas yang membakar. Aku bisa merasakan energi hitam dari paku emas itu mulai merambat ke seluruh pilar, membentuk jaring-jaring gaib yang mencekik esensiku. Jika aku tidak melakukan sesuatu sekarang, aku akan benar-benar menjadi tumbal mati yang tidak memiliki suara selamanya.
Aku mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku, bukan untuk menggerakkan benda di luar lagi, tapi untuk melakukan sesuatu yang lebih berisiko. Jika dia ingin mengunci arwahku di dalam pilar ini, maka aku akan menariknya ma**k ke dalam duniaku.
Saat paku emas itu hampir terbenam sepenuhnya ke dalam beton, aku memusatkan seluruh energi kinetik yang tersisa ke satu titik: keretakan mikroskopis pada struktur beton yang belum sepenuhnya kering di dekat kaki Mbah Suro.
*Prak!*
Beton di bawah kaki sang dukun mendadak retak, dan sebuah tangan pucat—bukan tangan fisik Arya, melainkan proyeksi energi mentah yang dipenuhi dendam—melesat keluar dari balik pori-pori semen, mencengkeram pergelangan kaki Mbah Suro dengan kekuatan yang sanggup meremukkan baja.
Mata tua itu membelalak. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang nyata.
"Kamu..." bisik Mbah Suro, suaranya tercekat. "Kamu bukan Arya..."
Aku tidak melepaskannya. Jika aku harus terjebak di neraka ini, aku tidak akan pergi sendirian. Aku akan menyeret siapa pun yang mencoba menghalangiku ke dalam kegelapan beton ini. Dan saat itu juga, paku emas di tangannya mulai membara merah, membakar telapak tangannya sendiri.
Di tengah kekacauan itu, aku merasakan sesuatu yang lain. Sebuah getaran di bawah tanah yang tidak berasal dari mesin. Sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua dari ritual Mbah Suro mulai terbangun karena keributan ini.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!