Dingin. Dingin yang tidak hanya menggigit kulit, tapi seolah-olah merayap ma**k ke dalam sumsum tulang dan membekukan aliran darah. Di dalam kegelapan total pilar P-12, tubuh Arya—yang kini dihuni oleh jiwa Adnan—bukan lagi sekadar raga manusia. Ia telah menjadi bagian dari struktur beton itu sendiri. Semen yang mulai mengeras itu terasa seperti ribuan tangan kecil yang mencengkeram setiap inci pori-porinya, menekan rusuknya hingga suara gemeretak tulang terdengar samar di telinganya sendiri.
Adnan mencoba menarik napas, namun yang ma**k ke tenggorokannya hanyalah udara tipis yang berbau anyir dan semen basah. Setiap kali ia mencoba memproyeksikan kesadarannya ke luar, sebuah hantaman energi gelap menghantamnya kembali ke dalam cangkang fisiknya yang hancur.
Lalu, suara itu datang.
Bukan suara alat berat atau teriakan mandor, melainkan gumaman rendah yang monoton. Sebuah mantra. Iramanya berat dan penuh dengan resonansi kuno yang membuat dinding beton di sekeliling Adnan bergetar.
*“Bumi nampani, getih nyawiji, nyowo dadi pondasi...”*
Adnan memaki dalam hati. Suara itu milik Ki Suro, dukun sewaan yang sering dibisikkan oleh para petinggi di kantornya sebagai 'konsultan spiritual' untuk proyek-proyek bermasalah. Dulu, Adnan hanya tertawa mendengarnya. Baginya, konstruksi adalah soal kalkulasi matematis dan kekuatan material. Namun sekarang, kalkulasi itu tidak berguna saat ia merasakan energi mistis dari luar sana mulai mengunci jiwanya ke dalam pilar.
Beton di sekelilingnya tiba-tiba terasa memanas. Bukan panas yang membakar kulit, melainkan panas spiritual yang seolah-olah ingin melelehkan jati dirinya. Adnan merasa identitasnya sebagai CEO sukses yang angkuh mulai terkelupas, digantikan oleh rasa takut primitif seorang mangsa.
"Tidak... aku tidak akan menjadi alas kaki kalian," geram Adnan, meskipun bibirnya tidak bisa bergerak karena tertutup cairan semen yang mulai mengental.
Sakit itu meledak. Tiba-tiba, ia merasa seolah ada paku-paku raksasa yang tak kasat mata dipantek ke persendiannya. Ini adalah bagian dari ritual 'penguncian'. Ki Suro sedang menyatukan sukma Arya dengan beton jembatan agar bangunan ini berdiri abadi. Setiap kata dalam mantra itu adalah rant** yang mengikat Adnan lebih erat.
Pandangannya yang gelap mulai dihiasi oleh kilatan cahaya merah darah. Kesadaran Adnan mulai memudar. Bayangan masa lalunya—kantor mewah, setelan jas mahal, dan senyum licik wakilnya, Prasetyo—berkelebat seperti film rusak. Ia mulai merasa bahwa menyerah adalah jalan keluar yang paling mudah. Tidur. C**up tidur dan rasa sakit ini akan hilang.
*Jangan!* sebuah suara asing berteriak di sudut pikirannya. Itu adalah sisa-sisa kesadaran Arya, sang pemilik tubuh asli yang malang. *Jangan biarkan mereka menang!*
Adnan tersentak. Amarah, satu-satunya hal yang ia kuasai lebih baik daripada siapa pun, kembali membara. Ia mengumpulkan sisa-sisa energinya, memfokuskan seluruh kebenciannya pada getaran mantra yang datang dari luar. Jika beton ini ingin menyerapnya, maka ia akan memberikan sesuatu yang jauh lebih pahit untuk ditelan.
Ia mulai memanipulasi energi di sekitarnya. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk menginterupsi aliran ritual tersebut. Adnan membayangkan kesadarannya sebagai bor raksasa, menghantam balik tekanan energi yang menghimpitnya.
Di luar sana, ia bisa mendengar suara gemuruh yang tidak wajar.
"Ki... kenapa pilarnya bergetar?" Suara itu milik Prasetyo. Terdengar cemas, tipis, dan penuh ketakutan di balik beton tebal.
"Diam! Anak ini melawan!" bentak Ki Suro, suaranya kini terdengar terengah-engah. "Dia bukan sekadar tumbal biasa. Ada sesuatu yang lain di dalam sana!"
Adnan tersenyum di dalam kegelapan. *Kau benar, Tua Bangka.*
Ia memaksakan kesadarannya untuk keluar sedikit demi sedikit, meskipun rasa sakitnya seperti ditarik dari mesin penggiling daging. Ia bisa merasakan aura Ki Suro yang gelap dan berminyak, mencoba menekan puncaknya. Adnan tidak melawan secara frontal. Sebaliknya, ia mengikuti alur energi ritual itu, mencari retakan kecil dalam 'pagar' gaib yang dibangun sang dukun.
Ketemu.
Adnan menemukan celah pada pondasi spiritual yang sedang dibangun. Ki Suro serakah; ia mengambil terlalu banyak energi dari tanah tanpa memberikan persembahan yang seimbang. Adnan menggunakan pengetahuannya tentang struktur bangunan. Sebuah jembatan akan runtuh jika beban tidak terdistribusi dengan benar. Hal yang sama berlaku untuk sihir.
Dengan satu hentakan kehendak yang menghancurkan, Adnan membalikkan kutub energi ritual tersebut.
Rasa sakit yang tadinya menghimpitnya tiba-tiba berpindah. Ia merasa seolah-olah ia sedang memuntahkan empedu hitam ke arah Ki Suro. Di luar pilar, terdengar suara benda pecah dan pekikan kesakitan yang melengking.
"Aaakh! Mataku!" Ki Suro menjerit.
Suasana di luar menjadi kacau. Adnan bisa merasakan tekanan beton sedikit melonggar, bukan karena semennya mencair, tapi karena ikatan gaib yang mengunci jiwanya retak. Namun, kemenangan itu dibayar mahal. Tubuh Arya gemetar hebat, sisa-sisa oksigen di dalam paru-parunya hampir habis. Detak jantungnya melambat hingga ke titik kritis.
Adnan bisa merasakan dingin itu kembali, kali ini bukan karena semen, melainkan karena maut yang sesungguhnya sedang menjemput tubuh fisik Arya. Jika tubuh ini mati sekarang, jiwanya akan terperangkap selamanya sebagai hantu pilar, persis seperti ketakutan terbesarnya.
Dalam sisa kesadarannya yang mulai berkedip seperti lampu neon rusak, Adnan memfokuskan seluruh penglihatannya pada satu titik di permukaan beton yang masih basah di hadapan wajahnya. Ia harus memberikan tanda. Ia harus memaksa mereka melihat bahwa sesuatu yang mengerikan sedang terbangun di dalam mahakarya mereka.
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan lagi mantra Ki Suro, melainkan getaran lain dari arah bawah tanah. Sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih haus daripada sekadar tumbal proyek.
Beton di sekelilingnya mulai mengeluarkan suara 'klik' yang aneh. Retakan kecil mulai muncul, bukan karena struktur yang lemah, tapi karena ada sesuatu yang mencoba merangkak ma**k dari sisi lain kegelapan.
Adnan menyadari satu hal: ia baru saja membuka pintu yang salah. Dan sekarang, ia tidak lagi sendirian di dalam pilar P-12.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!