Kegelapan di dalam pilar ini bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya; ia adalah massa padat yang berusaha melumat paru-paruku. Setiap detak jantung yang tersisa di tubuh Arya terasa seperti dentuman palu godam yang menghantam dinding dadaku sendiri. Beton ini mulai mengeras, suhunya meningkat karena reaksi kimia, memanggang kulitku dalam pelukan yang dingin sekaligus membara.
Aku harus keluar. Bukan secara fisik—karena itu mustahil untuk saat ini—tapi secara mental. Aku memejamkan mata yang sudah tak bisa lagi berkedip karena rembesan air semen yang mulai mengering di kelopak. Aku memaksakan kesadaranku ma**k lebih dalam, bukan ke arah luar menuju proyek jembatan layang yang terkutuk ini, melainkan ma**k ke dalam labirin memori yang tersisa di otak bocah yang tubuhnya kupinjam ini.
Siapa sebenarnya kau, Arya? Mengapa wajahmu terasa begitu familiar di tengah kabut kebencianku?
*Zing.*
Rasa sakit yang tajam menusuk ubun-ubun, dan tiba-tiba, bau semen yang menyesakkan berganti dengan aroma tumis kangkung yang gosong dan asap rokok murah. Aku tidak lagi berada di dalam pilar beton. Aku berdiri di sebuah teras rumah petak yang sempit dengan dinding tripleks yang mengelupas.
Seorang pria tua duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya sudah melengkung. Punggungnya bungkuk, seolah memikul beban seluruh dunia. Di tangannya, ada selembar kertas lusuh dengan kop surat yang sangat kukenal: *Wijaya Construction.*
"Arya, jangan pernah kerja di tempat seperti ini," suara pria itu serak, bergetar karena emosi yang tertahan. "Mereka tidak butuh manusia. Mereka cuma butuh mesin yang bisa dibuang kalau sudah rusak."
Aku melihat diriku sendiri—atau lebih tepatnya, versi Arya yang lebih muda, mungkin baru lulus SMK. Ia sedang berlutut, memijat kaki ayahnya yang bengkak. "Tapi Yah, hanya mereka yang mau menerima tanpa ijazah tinggi. Aku butuh uang untuk obat Ibu."
Si pria tua itu meremas kertas di tangannya hingga menjadi bola kecil. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena harga diri yang diinjak-injak. "Ayah sudah mengabdi lima belas tahun di sana. Lima belas tahun, Arya! Begitu kaki Ayah terjepit *crane* karena alat pengamannya sudah karatan, apa yang mereka lakukan? Mereka bilang itu kelalaian Ayah sendiri. Mereka memecat Ayah tanpa pesangon. Dan CEO si**** itu..."
Pria itu terbatuk hebat. Ia menyebut sebuah nama yang membuat jantungku di dalam pilar beton sana seolah berhenti berdetak.
"Adnan Wijaya. Dia bahkan tidak melihat ke arah Ayah saat surat itu ditandatangani. Baginya, kita ini cuma angka di laporan keuangan."
Lant** di bawah kakiku seolah runtuh. Memori itu berputar lebih cepat, seperti film yang diputar dengan kecepatan ganda. Aku melihat Arya menangis di pemakaman ayahnya yang sederhana. Aku melihatnya terpaksa putus asa, melamar ke sub-kontraktor di bawah bendera perusahaanku sendiri dengan identitas yang disamarkan, hanya demi bisa makan. Ia ma**k ke dalam mulut singa yang telah mengunyah ayahnya sampai habis.
Dan puncaknya, aku melihat memori beberapa jam sebelum aku terbangun di sini.
"Nak, ini pilar utama. Katanya biar jembatan ini abadi, butuh 'penguat' yang hidup," suara berat Pak Gatot, mandor kepercayaanku—mantan kepercayaanku—terdengar parau di telinga Arya. "Kamu anak baru, tak punya keluarga yang akan mencari. Ini demi keselamatan orang banyak, Arya. Kamu akan jadi pahlawan."
Arya tidak sempat berteriak. Sebuah linggis menghantam tengkuknya. Aku merasakan rasa sakit itu sekarang, gema dari hantaman yang meretakkan tengkoraknya sebelum tubuhnya dilempar ke dalam lubang pilar.
Kesadaranku tersentak kembali ke realitas yang sempit dan gelap. Napas Arya—napas*ku*—tersengal. Air mata yang tak tertahankan mengalir, namun segera menyatu dengan cairan semen yang korosif.
"Tuhan..." bisikku, meski aku tidak yakin apakah seorang pria sepertiku masih berhak memanggil nama-Nya.
Aku adalah Adnan Wijaya. Aku adalah pria yang menandatangani pemecatan massal demi efisiensi anggaran lima tahun lalu. Aku adalah orang yang mengabaikan laporan tentang standar keselamatan kerja yang buruk di lapangan karena aku lebih peduli pada grafik saham mingguan.
Dan sekarang, aku terperangkap dalam tubuh putra dari pria yang hidupnya kuhancurkan. Aku adalah korban dari monster yang kubuat sendiri.
Rasa mual yang hebat mengaduk perutku. Bukan hanya karena tekanan fisik beton, tapi karena rasa muak pada diriku sendiri. Selama ini aku merasa bangga membangun kerajaan bisnis yang megah, tanpa menyadari bahwa setiap fondasi yang kutanam berdiri di atas tulang-belulang orang-orang seperti ayah Arya.
"Maafkan aku, Arya," gumamku di dalam kegelapan yang menyesakkan itu. Bibirku pecah, darahnya terasa asin dan besi.
Tiba-tiba, getaran kuat merambat dari luar. Getaran yang tidak berasal dari mesin pengaduk semen. Itu adalah getaran kemarahan. Energi panas mulai berkumpul di ujung jari-jariku yang terjepit. Aku bisa merasakan setiap butir pasir dan semen di sekelilingku. Seolah-olah kesadaranku kini menyatu dengan pilar ini.
Aku tidak akan mati begitu saja sebagai tumbal yang dilupakan. Jika mereka menginginkan "nyawa" untuk memperkuat jembatan ini, maka aku akan memberikannya. Tapi bukan sebagai pelindung.
Aku memejamkan mata, memusatkan seluruh kebencian Arya dan penyesalan Adnan menjadi satu kekuatan kinetik yang liar. Aku merasakan struktur beton di sekitar bahuku mulai retak sedikit demi sedikit.
"Gatot... B**m..." suaraku terdengar seperti geraman harimau di dalam ruang sempit itu. "Kalian pikir kalian bisa menggunakan tubuh ini untuk menutupi dosa kalian?"
Di luar sana, aku mendengar suara kepanikan. Teriakan-teriakan buruh yang melihat pilar beton itu tiba-tiba mengeluarkan uap panas dan bergetar hebat.
Aku akan menghancurkan jembatan ini. Aku akan meruntuhkan setiap jengkal beton yang kubangun dengan keserakahan. Dan aku akan menyeret mereka semua ke dalam kegelapan bersamaku, bahkan jika aku harus membakar sisa nyawa dalam tubuh Arya ini hingga menjadi abu.
Namun, di tengah amarah itu, sebuah bisikan lemah muncul dari sudut terjauh pikiranku. Bukan suaraku, melainkan sisa-sisa kesadaran Arya yang asli.
*Jangan biarkan mereka menyentuh Ibuku.*
Tunggu. Ibunya masih hidup? Jika Arya mati di sini, siapa yang akan menjaganya?
Pilar itu bergetar lagi, kali ini lebih keras hingga retakan kecil mulai muncul di permukaan luar, tepat di mana sebuah retakan cahaya bulan ma**k menyelinap ke dalam kegelapan mataku. Aku melihat sebuah tangan—bukan tanganku yang terproyeksi, tapi tangan nyata seseorang yang sedang memegang palu di luar pilar.
"Ada yang bergerak di dalam!" teriak sebuah suara di luar. "Cepat, tuang semennya lagi! Tutup lubangnya sampai penuh!"
Sial. Mereka ingin menguburku lebih dalam.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!