Suara gesekan spidol di atas papan tulis putih itu terdengar seperti kuku yang mencakar kaca—ngilu dan menyebalkan. Aku meremas pulpen di tanganku sampai buku-buku jariku memutih, menahan diri agar tidak mengerang frustrasi di tengah keheningan kelas yang mencekam. Di depan sana, sosok pria dengan kemeja slim-fit abu-abu gelap berdiri tegak, memunggungi mahasiswa dengan aura yang seolah bisa menurunkan suhu ruangan hingga beberapa derajat.
Aris Pratama. Dosen baru yang dalam satu minggu saja sudah berhasil menyandang gelar "Penyiksa Mahasiswa" di seantero fakultas.
"Tugas ini dikumpulkan minggu depan. Tidak ada toleransi untuk keterlambatan, meskipun hanya satu detik. Format salah? Tidak akan saya nilai. Ada pertanyaan?" Suaranya rendah, bariton yang sebenarnya merdu namun terdengar seperti vonis mati bagiku.
Ia membalikkan badan. Kacamata berbingkai perak itu bertengger di hidung bangirnya yang tegas. Matanya yang tajam menyapu seisi ruangan, berhenti sejenak padaku—atau mungkin itu hanya perasaanku saja—sebelum ia merapikan tumpukan kertas di meja dosen dengan gerakan yang sangat presisi. Sangat perfeksionis hingga ke tahap yang memuakkan.
"Kelas selesai," ucapnya singkat, lalu melangkah keluar tanpa menunggu respon kami.
Begitu pintu tertutup, suasana kelas yang tadinya sunyi mendadak pecah seperti pasar tumpah. Teman-temanku mulai mengeluh, tapi amarahku sudah mencapai ubun-ubun. Aku membereskan barang-barangku dengan kasar, mema**kkan buku catatan ke dalam tas tanpa peduli kertasnya tertekuk.
"G***! Dia pikir kita robot? Dua puluh halaman analisis ka**s dalam seminggu?" Amel, sahabatku, menghampiri dengan wajah pucat.
"Bukan cuma g***, Mel. Dia itu psikopat yang kebetulan punya gelar Magister," sahutku sinis. Jantungku masih berdegup kencang karena jengkel. "Lihat saja wajahnya. Datar seperti aspal jalanan. Aku berani sumpah, dia pasti tidak punya kehidupan sosial selain menyiksa mahasiswa malang seperti kita."
Aku merogoh saku jins, mengeluarkan ponselku yang layarnya sedikit retak di pojok kiri. Jariku dengan lincah membuka aplikasi pesan singkat. Aku butuh menumpahkan kekesalan ini sekarang juga, atau kepalaku bisa meledak.
"Duluan ya, Mel! Aku mau ke kafetaria sebentar, haus banget!" pamitku tanpa menoleh, berjalan cepat menyusuri koridor kampus yang ramai.
Sambil berjalan, jempolku menari-nari di atas layar. Aku mencari nama 'Manda', sahabatku yang lain yang berbeda jurusan, tempatku biasa berbagi caci maki tentang dosen-dosen killer. Aku menemukannya—setidaknya aku *pikir* begitu—dan mulai mengetik dengan kecepatan penuh, didorong oleh adrenalin kemarahan yang membara.
*Lo nggak bakal percaya gimana kelakuan si Dosen Es Kutub hari ini. Aris Pratama itu benar-benar titisan i**** berbaju kemeja mahal! Masa dia kasih tugas 20 halaman buat minggu depan? Gue rasa dia kurang belaian atau emang sengaja mau liat kita menderita. Muka ganteng tapi kelakuan kayak monster. Pengen banget gue sumpel mulut sombongnya pakai tumpukan makalah! Kenapa sih orang kayak gitu boleh ngajar? Fix, dia pasti nggak laku makanya pelampiasannya ke nilai mahasiswa. Cowok freak!*
Aku menekan ikon pesawat kertas kecil berwarna biru itu dengan mantap. *Klik.*
Terkirim.
Aku menghela napas panjang, merasa sedikit lebih lega setelah mengeluarkan uneg-uneg tersebut. Aku mema**kkan kembali ponsel ke saku dan melangkah menuju mesin penjual otomatis di ujung koridor. Namun, saat aku baru saja merogoh koin, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k.
*Cepat banget Manda balasnya?* pikirku heran.
Aku mengeluarkan ponsel, berniat membaca balasan konyol dari Manda yang biasanya akan menimpali dengan makian yang lebih kreatif. Namun, saat mataku menatap layar, darahku seolah berhenti mengalir. Jantungku seakan merosot hingga ke perut.
Pesan itu bukan dikirim ke Manda.
Di bagian atas ruang obrolan itu, tidak ada nama 'Manda' dengan emoji bunga matahari. Nama yang tertera di sana, dengan foto profil polos tanpa gambar, adalah: **Aris Pratama, M.T.**
Duniaku mendadak senyap. Aku berhenti bernapas selama beberapa detik, menatap layar ponsel dengan mata membelalak horor. Bagaimana bisa? Aku ingat tadi mencari nama dengan huruf depan 'A'. Oh, Tuhan. Nomor itu... aku menyimpannya kemarin saat ketua kelas membagikan kontak dosen di grup WhatsApp angkatan agar kami bisa menghubungi untuk urusan perizinan. Dan karena nama mereka berdekatan di daftar kontak—Amanda dan Aris—jari impulsifku melakukan kesalahan paling fatal dalam sejarah hidupku.
Ponselku bergetar lagi di genggaman yang kini mulai berkeringat dingin. Satu pesan balasan muncul di bawah paragraf makianku yang panjang dan vulgar.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dengan tangan gemetar, aku membuka pesan itu.
**Aris Pratama, M.T.:**
*Analisis yang menarik, Saudari Celine Maheswari. Terutama bagian 'kurang belaian' dan 'mulut sombong'. Saya hargai kejujuran Anda yang luar biasa.*
Aku merasa seolah oksigen di koridor ini mendadak hilang. Kakiku lemas, aku terpaksa bersandar pada dinding dingin di belakangku agar tidak jatuh terduduk. Belum sempat aku memikirkan cara untuk menarik pesan itu atau mengetik permohonan maaf yang paling menghamba, sebuah pesan baru ma**k lagi.
**Aris Pratama, M.T.:**
*Ternyata kau benar-benar lupa siapa aku setelah kejadian di kafe malam itu.*
Aku membeku. Kejadian di kafe? Otakku berputar cepat, mencoba menggali ingatan dari malam minggu lalu yang sedikit kabur karena terlalu banyak tawa dan... tunggu. Malam itu di kafe remang-remang di pusat kota, saat aku sedang menumpahkan kekesalan karena putus cinta dan tidak sengaja menumpahkan kopi panas ke kemeja seorang pria asing yang bersikap sangat angkuh?
Ponselku bergetar untuk ketiga kalinya, menghancurkan sisa-sisa harapanku untuk selamat.
**Aris Pratama, M.T.:**
*Ma**k ke ruangan saya sekarang. Kita perlu mendiskusikan 'pelampiasan' saya terhadap nilai Anda.*
Aku menatap layar ponselku dengan pandangan kosong. Pesan itu sudah dibaca. Tidak ada jalan kembali. Aku baru saja meledakkan bom waktu di tanganku sendiri, dan sepertinya, Pak Aris tidak berniat membiarkanku melarikan diri dari puing-puingnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!