Layar laptop yang menyala di hadapanku tampak buram. Barisan huruf dari jurnal manajemen yang seharusnya kubaca hanya terlihat seperti barisan semut hitam yang menari-nari mengejekku. Pikiranku tidak di sini. Pikiranku tertahan pada tatapan tajam Aris Pratama siang tadi di koridor kampus, dan kalimat dinginnya yang terus berputar seperti piringan hitam rusak di kepalaku.
*“Ternyata kau benar-benar lupa siapa aku setelah kejadian di kafe malam itu.”*
Aku memijat pelipis yang mulai berdenyut. Kafe? Kejadian apa? Selama ini aku meyakinkan diriku bahwa Aris hanyalah dosen baru yang kebetulan memiliki dendam pribadi padaku karena pesan singkat penuh makian yang salah kirim itu. Tapi, nada bicaranya—ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ketersinggungan profesional.
Aku menutup mata rapat-rapat, mencoba memanggil kembali kepingan memori dari beberapa bulan lalu. Saat itu adalah masa transisi semester, malam di mana aku merasa dunia sedang runtuh karena pengkhianatan sahabat karibku. Aku ingat hujan turun sangat deras. Aku berada di sebuah kafe remang-remang di sudut kota, jauh dari jangkauan mahasiswa lainnya. Aku ingat memesan segelas minuman yang terlalu kuat untuk toleransiku, mencoba menenggelamkan rasa sesak di dada.
Suasana kafe itu kembali terbayang. Bau kopi yang bercampur dengan aroma hujan dan parfum maskulin yang samar. Aku ingat kepalaku terasa berat, dan meja di depanku seolah bergoyang. Lalu, ada seorang pria. Bukan, bukan pria baik-baik. Dia adalah pengunjung kafe yang sejak tadi memperhatikanku dengan tatapan lapar.
"Sendirian saja, Manis? Mau kutemani sampai rumah?" Suara serak itu membuat bulu kudukku berdiri.
Dalam ingatanku, aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa seperti jeli. Pria itu mendekat, tangannya yang kasar mulai merayap di bahuku. Aku ingin berteriak, tapi lidahku kelu. Rasa takut yang murni mencekik tenggorokanku. Aku merasa terjebak, kotor, dan sangat bodoh.
Tepat saat tangan pria itu hendak menarikku lebih dekat, sebuah bayangan tinggi menjulang menutupi cahaya lampu temaram di atas kami. Sebuah tangan lain—tangan yang jauh lebih kokoh dan bersih—mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang.
"Dia bersamaku," sebuah suara rendah dan dalam menginterupsi. Dingin, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Aku mendongak dengan pandangan kabur. Aku hanya bisa melihat siluet rahang yang tegas dan sepasang mata yang berkilat tajam di balik kacamata. Pria asing itu menggerutu, mencoba melawan, namun nyalinya ciut begitu melihat tatapan mematikan dari sang penyelamat. Dia pergi dengan langkah seribu.
Lalu, pria penyelamat itu beralih padaku. Dia tidak memelukku atau bertanya apakah aku baik-baik saja dengan nada lembut. Dia justru menatapku dengan sorot mata merendahkan yang sangat familiar.
"Pulanglah sebelum kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu," bisiknya, sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma *sandalwood* dan sabun mahal yang kuat. "Gadis sepertimu seharusnya tidak berada di tempat seperti ini sendirian dalam keadaan kacau. Kau hanya mengundang petaka."
Dia kemudian memanggilkan taksi, membayar ongkosnya di muka, dan menutup pintu mobil tanpa menunggu ucapan terima kasih dariku. Aku hanya sempat melihatnya berdiri di bawah guyuran hujan, sosok yang kaku dan penuh penilaian, sebelum kesadaranku benar-benar memudar.
Mataku terbuka lebar di kamarku yang sunyi. Jantungku berpacu dua kali lebih cepat.
Aroma *sandalwood*. Suara bariton yang menghakimi. Tatapan dingin di balik kacamata.
"Ya Tuhan," bisikku pada udara kosong. Tanganku gemetar saat meraih ponsel di atas meja.
Itu dia. Pria di kafe malam itu—pria yang melihatku di titik terendahku, yang melihatku hampir menjadi korban karena impulsifitas dan kebodohanku sendiri—adalah Aris Pratama.
Kini semuanya ma**k akal. Mengapa dia selalu menatapku seolah aku adalah masalah berjalan. Mengapa dia memberikan tekanan akademik yang g*** padaku. Dia bukan sedang berusaha menjatuhkanku karena pesan singkat itu. Dia sedang "mendisiplinkanku" karena dia tahu betapa berantakannya hidupku di luar kampus. Dia melihat sisi diriku yang paling tidak kompeten, sisi yang selalu ingin kusembunyikan dari dunia.
Rasa malu yang luar biasa menyengat pipiku, membuat wajahku terasa panas. Aku telah mengirimkan sumpah serapah kepada orang yang telah menyelamatkanku dari situasi yang jauh lebih buruk. Aku menyebutnya 'monster tanpa perasaan', padahal dialah yang memastikan aku pulang dengan selamat malam itu.
Namun, di balik rasa bersalah itu, sebuah pertanyaan baru muncul dan terasa lebih menyakitkan. Jika dia mengenaliku sejak awal, mengapa dia memilih untuk merahasiakannya? Mengapa dia membiarkanku terjebak dalam rasa takut dan kebingungan selama berminggu-minggu?
Aku meraih ponselku, membuka aplikasi pesan. Nama 'Dosen Killer - Aris' terpampang di sana. Jariku ragu-ragu di atas layar. Aku ingin mengetik permintaan maaf, aku ingin menjelaskan bahwa aku mengingatnya sekarang. Tapi kemudian, sebuah pikiran menghantamku.
Aris Pratama bukan orang yang menginginkan rasa terima kasih. Dia adalah pria yang menyukai kendali. Dan dengan menyimpan rahasia ini sendirian, dialah yang memegang kendali penuh atas diriku. Dia membiarkanku merasa bersalah, dia membiarkanku berlari dalam labirin yang dia buat sendiri.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi ma**k. Bukan dari grup kelas, melainkan sebuah pesan pribadi dari nomor yang sekarang membuat perutku mulas.
*Aris Pratama: "Sudah ingat, Celine? Atau kau butuh stimulan lain untuk memicu memorimu yang payah itu? Temui aku di ruangan saya besok jam tujuh pagi. Sebelum kelas dimulai."*
Napas daku tertahan. Dia tahu. Dia tahu aku baru saja menyadarinya. Rasanya seolah dia sedang mengawasiku dari balik kegelapan kamarku, menertawakan betapa mudahnya aku dibaca. Pertemuan besok bukan lagi soal nilai atau tugas tambahan. Ini adalah tentang konfrontasi atas masa lalu yang ingin kulupakan, dan aku tahu, Aris tidak akan melepaskanku begitu saja sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Aku menjatuhkan ponsel ke atas ka**r, menatap langit-langit dengan perasaan hampa. Terjebak. Aku benar-benar ma**k ke dalam jebakannya, dan kali ini, tidak ada taksi yang akan membawaku pergi melarikan diri.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!