Jantungku berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung jari yang kini meremas pinggiran tas selempangku. Lorong gedung dosen sudah sepi. Cahaya oranye dari matahari yang hampir tenggelam ma**k melalui celah jendela, memanjang di lant** marmer seperti jari-jari raksasa yang mencoba menggapai kakiku. Aku berhenti tepat di depan pintu kayu jati yang kokoh dengan papan nama kuningan meng***p: *Aris Pratama, M.Sc.*
Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku yang terasa menyempit. Pesan itu, kalimat dingin di layar ponselku tempo hari, dan tatapan tajam Aris di kelas tadi pagi seolah-olah mencekikku secara perlahan. Aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik tumpukan tugas atau lari setiap kali melihat bayangannya di koridor.
Tanpa mengetuk, aku memutar knop pintu.
Ruangan itu berbau kopi hitam dan aroma maskulin yang samarβcampuran kayu cendana dan sabun mahal. Aris sedang duduk di balik meja besarnya, kacamata bertengger di pangkal hidung, jemarinya menari lincah di atas keyboard laptop. Dia tidak mendongak, namun aku tahu dia sadar akan keberadaanku.
"Ketukan pintu adalah etika dasar bagi seorang mahasiswi, Celine Maheswari," suaranya rendah, berat, dan tenang, namun sanggup membuat bulu kudukku berdiri.
"Aku butuh jawaban," kataku, suaraku sedikit bergetar namun aku berusaha tetap tegar. Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di depan mejanya. "Berhenti bersikap seolah-olah Anda hanya dosen yang sedang mendisiplinkan mahasiswanya karena nilai yang buruk."
Aris berhenti mengetik. Dia melepas kacamatanya pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang berderit pelan. Matanya yang gelap menatapku lurus, tanpa ekspresi, tapi ada kilatan aneh di sana yang membuatku ingin mundur.
"Jawaban untuk apa?"
"Malam itu. Di kafe," aku menelan ludah, bayangan kabur tentang lampu remang-remang, dentuman musik yang m****akkan telinga, dan rasa pahit alkohol di lidahku mulai muncul kembali. "Apa yang terjadi? Dan kenapa... kenapa Anda bertingkah seolah Anda mengenalku lebih dari siapapun di kampus ini?"
Aris terdiam c**up lama. Suasana ruangan itu mendadak terasa kedap udara. Hanya ada detak jarum jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur ledakan. Dia berdiri, perlahan, gerakannya anggun namun mengintimidasi. Aris berjalan mengitari mejanya hingga kini hanya ada jarak satu meter di antara kami.
"Kau benar-benar tidak ingat, ya?" Aris menyilangkan tangan di depan dada. "Bagaimana kau menangis di bahu pria asing karena merasa hidupmu tidak berguna? Bagaimana kau hampir saja pulang dengan pria yang bahkan tidak kau ketahui namanya jika aku tidak menarikmu keluar dari sana?"
Darah serasa surut dari wajahku. Rasa malu menyerangku seperti ombak besar. Aku ingat rasa pusing itu, aku ingat ada seseorang yang memegang lenganku dengan kuat, tapi wajahnya... wajahnya selalu buram dalam ingatanku yang kacau malam itu.
"Jadi... Anda menyelamatkanku?" suaraku kini hanya berupa bisikan.
"Menyelamatkanmu?" Aris tertawa pendek, tawa yang kering tanpa rasa humor. Dia melangkah selangkah lagi, memaksaku mendongak untuk menatap matanya. "Aku melihat seorang gadis berbakat yang sedang menghancurkan masa depannya sendiri dengan cara yang paling impulsif dan bodoh. Aku melihat kekacauan, Celine. Dan aku benci kekacauan."
Aku mengepalkan tangan. "Lalu kenapa Anda ada di sini? Menjadi dosen di jurusanku, memberiku nilai D di tugas pertama, dan terus-menerus menekanku? Apakah ini semacam hiburan untuk Anda? Menonton 'kekacauan' ini menderita?"
Wajah Aris mendekat, begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma kopinya yang pekat. Matanya mengunci mataku, memenjarakanku dalam intensitas yang menyesakkan.
"Aku menerima tawaran mengajar di universitas ini bukan karena aku butuh gaji tambahan atau gelar profesor," katanya, suaranya kini selembut beludru namun setajam pisau. "Aku ada di sini karena setelah malam itu, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja, Celine. Aku ingin memastikan kau tidak berakhir di selokan atau di tempat tidur pria br****** lainnya."
Aku tertegun. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. "Apa?"
"Aku di sini untuk memperbaikimu," lanjutnya, tangannya terangkat, hampir menyentuh pipiku sebelum dia menariknya kembali dengan ragu. "Meskipun itu artinya aku harus menjadi orang yang paling kau benci di dunia ini. Aku akan memastikan kau lulus dengan nilai terbaik, aku akan memastikan kau punya masa depan, meskipun aku harus menjebakmu dalam pengawasanku setiap hari."
Rasa panas merambat di dadaku. Ini bukan hanya soal akademik. Ini adalah obsesi. Sebuah bentuk perlindungan yang terasa seperti kurungan emas. Dia tidak sedang membantuku; dia sedang mencoba mengendalikan hidupku yang menurutnya berantakan.
"Anda g***," desisku, mencoba menjauh, namun punggungku justru membentur meja kerjanya yang keras.
Aris tidak mundur. Dia justru meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja, mengurungku di antara lengannya yang kokoh. Dia menunduk, bibirnya berada tepat di samping telingaku, hembusan napasnya membuatku merinding hebat.
"Mungkin aku memang g***," bisiknya. "Tapi coba pikirkan, Celine... tanpa 'keg***an' ini, di mana kau akan berada sekarang? Di jalanan? Atau masih terjebak dengan pria-pria yang hanya menginginkan tubuhmu?"
Aku mendongak, mataku berkaca-kaca karena amarah dan sesuatu yang lain yang tidak ingin kuakuiβsebuah ketertarikan yang terlarang. "Anda tidak punya hak atas hidupku, Pak Aris."
"Aku punya hak sejak kau mengirimkan pesan sumpah serapah itu ke nomor pribadiku," Aris menarik diri sedikit, senyum tipis yang misterius muncul di sudut bibirnya. "Karena sekarang, aku punya alasan resmi untuk menahanmu di ruangan ini lebih lama setiap sore. Untuk 'bimbingan khusus'."
Dia mengambil sebuah map dari atas meja dan menyodorkannya padaku. Isinya adalah lembar revisi tugasku yang dipenuhi coretan tinta merah.
"Mulai besok, kau akan menghabiskan waktu dua jam setelah kelas di sini. Denganku," perintahnya tak terbantah. "Dan jangan coba-coba untuk menghindar, karena aku tahu persis di mana kau tinggal."
Aku menatap map itu, lalu menatap Aris. Aku merasa seperti mangsa yang baru saja menyadari bahwa singa di depannya tidak ingin memakannya, melainkan menjadikannya peliharaan. Dan yang paling menakutkan adalah... sebagian kecil dari diriku tidak ingin lari.
"Bagaimana jika aku menolak?" tantangku dengan suara serak.
Aris kembali ke kursinya, mengenakan kacamatanya dengan tenang seolah konfrontasi panas tadi tidak pernah terjadi. "Coba saja, Celine. Dan lihat seberapa jauh kau bisa lari dariku sebelum aku menemukanmu lagi di tempat yang lebih buruk dari kafe malam itu."
Aku berbalik dan berjalan keluar dengan kaki lemas, meninggalkan ruangan yang terasa semakin panas itu. Namun, saat aku baru saja mencapai pintu, suaranya kembali menghentikan langkahku.
"Celine?"
Aku menoleh perlahan.
"Pesan yang kau kirim waktu itu... tentang aku yang kau sebut 'pria kaku yang butuh belaian'..." Aris menjeda kalimatnya, matanya menatapku dengan binar yang berbahaya. "Berhati-hatilah dengan ucapanmu. Karena kau mungkin akan mendapatkan apa yang kau minta."
Aku tersentak dan hampir tersandung langkahku sendiri saat keluar dari ruangan itu, meninggalkan Aris yang masih menatap punggungku dengan senyum yang tidak bisa kupahami. Di koridor yang kini mulai gelap, aku menyadari satu hal: aku tidak hanya terjebak dalam masalah nilai, aku telah terjebak dalam permainan seorang pria yang jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!