Jari-jariku mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu di perpustakaan dengan ritme yang tidak beraturan. Di depanku, buku tebal berjudul *Manajemen Strategis* terbuka lebar, tetapi mataku sama sekali tidak menangkap deretan kalimat di sana. Pikiranku justru tertinggal di lorong fakultas sepuluh menit yang lalu, saat aroma parfum *sandalwood* yang tajam dan dingin milik Pak Aris terhirup saat dia melewatiku tanpa sepatah kata pun.
Sial. Kenapa harumnya harus sedalam itu? Dan kenapa jantungku harus bereaksi seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar?
"Cel, kamu baca halaman yang sama sudah lima belas menit. Kamu sedang mencoba menghafal titik komanya atau bagaimana?"
Suara cempreng Nadin seketika menarikku kembali ke realitas. Aku tersentak, hampir menjatuhkan pulpen yang sedari tadi aku mainkan. Aku berdeham, mencoba mengatur ekspresi wajah agar tetap datar, meski aku tahu pipiku mungkin sedikit memanas.
"Lagi fokus, Din. Bab ini susah," kilahku sambil membalik halaman buku secara asal.
Nadin menyipitkan matanya. Dia meletakkan es kopi plastiknya di atas meja, lalu mencondongkan tubuh ke arahku. "Fokus? Atau lagi memikirkan Pak Aris yang tadi lewat di depan kita?"
Jantungku mencelos. Aku buru-buru menggeleng, berusaha memberikan tawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan. "Hah? Ngaco. Ngapain juga mikirin dosen killer kayak dia? Aku cuma lagi stres mikirin tugas analisis yang dia kasih semalam."
"Oh, ya?" Nadin tidak menyerah. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan tatapan menyelidiki. "Biasanya kalau kamu stres, kamu bakal ngomel-ngomel panjang lebar soal betapa 'tiran'-nya Pak Aris. Tapi sejak kemarin, setiap namanya disebut, kamu malah diam. Atau kalau dia lewat, kamu mendadak jadi patung. Kamu aneh, Celine Maheswari."
Aku menggigit bibir bawahku. Sifat impulsifku biasanya membuatku sangat vokal, tapi kali ini, ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku. Pesan singkat yang pernah kukirimβdan balasan Aris yang misterius ituβseperti rahasia yang beratnya melebihi beban skripsi. Aku merasa seolah-olah ada benang tak kasat mata yang menarikku ke arah pria itu, sementara akal sehatku berteriak untuk segera memutuskan talinya.
"Aku cuma mencoba bersikap lebih dewasa, Din. Biar nilai aku nggak makin hancur di mata dia," kataku, mencoba terdengar logis.
"Atau mungkin..." Nadin menjeda kalimatnya, matanya berbinar nakal. "Ada sesuatu yang terjadi waktu kamu dipanggil ke ruangannya minggu lalu? Waktu itu kamu balik dengan muka yang... entahlah, kayak habis liat hantu tapi hantunya ganteng banget."
"Nggak ada apa-apa, Nadin!" seruku sedikit terlalu keras, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh dengan tatapan terganggu. Aku segera merundukkan kepala, menyembunyikan wajah di balik rambut panjangku.
Tepat saat itu, ponselku yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang terkunci.
**Pak Aris Pratama:** *Celine, ke ruangan saya sekarang. Ada revisi untuk kerangka laporanmu yang harus diselesaikan sore ini.*
Aku terpaku melihat nama itu di layar. Nadin, yang ternyata juga mengintip, langsung membelalakkan mata.
"Tuh kan! Sejak kapan Pak Aris kirim pesan pribadi ke mahasiswa cuma buat revisi kerangka? Bukannya biasanya dia cuma kirim lewat portal akademik atau ketua kelas?" Nadin mulai mencecar dengan nada curiga yang kental.
"Mungkin... mungkin karena aku yang paling banyak salahnya," jawabku gugup, sambil buru-buru menyambar ponsel dan mema**kkannya ke dalam saku. Tanganku sedikit gemetar.
"Celine, jujur sama aku. Kalian ada sesuatu, ya?" bisik Nadin, suaranya kini terdengar serius. "Aku tahu kamu impulsif, aku tahu kamu berani. Tapi berurusan sama Aris Pratama itu beda cerita. Dia itu misterius, dan rumornya dia nggak segan-segan mendepak mahasiswa yang bermasalah secara personal sama dia."
Aku berdiri, mencoba mengabaikan rasa mual akibat kegugupan yang melilit perutku. "Kamu terlalu banyak nonton drama, Din. Aku pergi dulu. Kalau nggak datang tepat waktu, bisa-bisa namaku dicoret dari daftar absensi."
Aku berjalan cepat meninggalkan perpustakaan, mengabaikan tatapan Nadin yang masih penuh tanda tanya. Saat menyusuri lorong menuju ruang dosen, langkahku terasa berat. Setiap langkah membawaku pada ingatan di kafe malam ituβtatapan matanya yang tajam di bawah lampu temaram, dan caranya menyebut namaku seolah dia sudah mengenalku seumur hidupnya.
Kenapa dia tidak melaporkanku? Kenapa dia justru menarikku semakin dalam ke dalam dunianya yang teratur dan kaku?
Sesampainya di depan pintu kayu jati dengan papan nama 'Aris Pratama, S.E., M.M.', aku menarik napas dalam-dalam. Aku merapikan kemejaku yang sedikit kusut dan mengetuk pintu tiga kali.
"Ma**k," suara bariton itu terdengar dari dalam.
Aku membuka pintu perlahan. Di sana, di balik meja kerja yang sangat rapi, Aris duduk dengan kacamata bertengger di hidungnya. Dia tidak langsung menoleh, jemarinya masih sibuk menari di atas keyboard laptop. Namun, suasana di ruangan itu seketika terasa menyesakkan, seolah oksigen di sekitarku mendadak menipis.
"Tutup pintunya, Celine," perintahnya tanpa menatapku.
Aku menuruti perintahnya dengan tangan yang masih dingin. Aku berdiri diam di depan mejanya, menunggu dia selesai dengan pekerjaannya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, dia menutup laptopnya dan melepas kacamatanya, lalu menatapku dengan intensitas yang membuat lututku lemas.
"Kamu terlambat tiga menit," ucapnya datar sambil melirik jam tangan peraknya.
"Maaf, Pak. Saya tadi di perpustakaan..."
"Bersama temanmu yang terus memperhatikan kita di koridor tadi pagi?" potongnya dengan nada sinis yang halus.
Aku terdiam. Jadi dia sadar? Dia sadar kalau teman-temanku mulai memperhatikan?
Aris bangkit dari kursinya, berjalan memutar hingga dia bersandar di pinggiran meja, sangat dekat denganku. Aku bisa mencium aroma maskulinnya yang memabukkan lagi. Dia melipat tangan di depan dada, menatapku dengan seringai tipis yang sulit diartikan.
"Celine, apakah menurutmu menyembunyikan sesuatu itu mudah?" tanyanya dengan suara rendah yang menggetarkan indra pendengaranku.
"Saya... saya tidak tahu apa maksud Bapak," jawabku terbata, berusaha menjaga jarak meski punggungku sudah hampir menyentuh pintu.
Dia maju satu langkah, memperpendek jarak yang tersisa. Matanya mengunci mataku, mencari sesuatu di sanaβmungkin ketakutan, mungkin kejujuran. "Teman-temanmu mulai bertanya, bukan? Dan kamu mulai merasa sulit untuk bersikap 'normal' di depanku."
Dia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuhku, melainkan untuk mengambil sebuah map di meja di belakangku, namun posisinya membuatku merasa terkepung di antara tubuhnya dan pintu.
"Ingat satu hal, Celine," bisiknya tepat di samping telingaku, membuat bulu kudukku meremang. "Pesan yang tidak terkirim itu mungkin adalah kesalahan terbesarmu, tapi membiarkan orang lain tahu tentang hubungan kita sebelum waktunya... itu akan menjadi kehancuranmu."
Hubungan? Apa yang dia maksud dengan 'hubungan'?
Belum sempat aku memproses kata-katanya, pintu di belakangku diketuk dengan keras.
"Pak Aris? Saya Ranti, mau menyerahkan form bimbingan!" suara itu milik salah satu teman sekelasku yang paling vokal.
Aku membelalakkan mata, menatap Aris dengan panik. Jika Ranti melihatku di sini, di posisi sedekat ini dengan Aris di dalam ruangan yang tertutup rapat, gosip di kampus akan meledak sebelum matahari terbenam.
Aris tidak terlihat panik sedikit pun. Dia justru menatapku dengan tatapan menantang, seolah ingin melihat bagaimana aku akan menangani situasi yang merupakan hasil dari impulsifitasku sendiri.
"Buka pintunya, Celine," bisiknya dingin, namun ada kilat provokasi di matanya. "Atau kamu ingin dia berpikir kita sedang melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar konsultasi revisi?"
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!